satu
KETIKA MANTAN ISTRI MENJADI CANTIK



"Mas, gaun pengantinnya kita pesan di butik Alya saja, ya?" ucap Reana. Wanita berambut  panjang itu terus menggelayut manja di lenganku. 



"Butik Alya? Seperti baru dengar ada nama butik seperti itu? Memang ada?" Dahiku mengernyit mendengar nama Alya. 


"Ah, tidak mungkin. Pasti hanya namanya saja yang kebetulan sama. Nama Alya cukup pasaran bukan?" Batinku seraya menggelengkan kepala perlahan. Mendengar nama Alya, pikiranku kembali pada kejadian lima tahun silam. 


"Alya! Makanannya mana? Suami pulang kerja belum ada makanan sama sekali? Ngapain aja seharian di rumah, hah!" ucapku dengan nada tinggi dan menggebrak meja. 


Seorang wanita berdaster datang dengan tergopoh-gopoh sambil menggendong bayinya yang terus saja menangis tiada henti. 



"Maaf, Mas. Vino dari tadi nangis terus sehingga aku tidak sempat masak. Aku beli di warung sebelah saja, ya. Sayang, ikut Papa dulu, ya." Wanita yang wajahnya terlihat lelah itu mengulurkan bayinya padaku, tetapi jangankan kuterima, kulirik pun tidak. 


"Aduh, aku ini sudah capek kerja di kantor. Maunya saat di rumah makanan sudah tersedia, rumah selalu rapi. Lah ini, makanan nggak ada, rumah juga masih berantakan."


"Ma--maaf, Mas." Wanita yang mengikat rambutnya dengan asal itu hanya menunduk sambil mengusap pucuk kepala anaknya. 



"Ya sudah cepat beli sana dan jangan suruh aku untuk menjaga Vino. Aku bukan baby sitter." Aku mendengkus dengan tangan bersedekap. 


Kunaikkan kaki di atas meja sementara Alya mengencangkan Vino dalam gendongannya. Dahiku mengernyit ketika melihat penampilan istriku yang hanya memakai daster kusut. 


"Tunggu!" Aku meraih tangan Alya dan memandanginya dari ujung kepala hingga ujung kaki sehingga membuat wanita yang baru kunikahi dua tahun itu menoleh. 


"Ya. Mas berubah pikiran mau mengajak Vino?" Ia semringah


"Kamu mau ke warung dengan dandanan dan pakaian seperti ini? Masa iya istri seorang manager pakaiannya kusut? Kamu sengaja mau bikin malu suamimu yang ganteng ini, ya?" tanyaku dengan nada tinggi. 



"Aku buru-buru, Mas?" 


"Ah, sudahlah. Aku nggak jadi makan di rumah. Lebih baik makan di luar saja. Melihat kamu yang kucel begini selera makanku hilang tak berbekas." Aku mendengkus. 


"Gimana, Mas? Kok malah melamun?" Reana menggerakkan tangannya di depan wajahku ke kiri dan ke kanan-membuyarkan lamunanku. 


"Ehm, maaf. Yuk!" Aku berdiri dan menggandeng tangan wanita yang sebentar lagi menjadi istriku ini. 


"Kamu setuju untuk ke butik Alya?" 


"Apa yang kamu mau pasti akan kuturuti." Aku mengusap pipinya yang halus dan putih tanpa noda itu. 


"Terima kasih, ya, Mas." 


Aku dan Reana memasuki mobil dan melajukan kendaraan roda empat ini menuju butik yang ia maksud. Sebuah butik yang baru kali ini aku mendengarnya dan sukses membuatku penasaran karena namanya sama dengan nama wanita yang kuceraikan lima tahun silam. Entah apa kabarnya sekarang si Alya-mantan istriku itu. 



Reana memintaku untuk menghentikan mobil di sebuah butik yang ia maksud. Tempat itu tidak terlalu besar, tetapi lumayan rame pelanggannya. Aku jadi penasaran, kenapa Reana ingin sekali belanja di butik ini. 



Kami memasuki butik dan Reana meninggalkanku seorang diri karena ia mau memilih baju yang sesuai dengan keinginannya. 


"Ada yang bisa kami bantu, Pak?" Sapa seorang wanita berjilbab yang kupikir ia adalah pemilik dari butik ini.



Aku mengurut dada, sudah jelas kalau dia bukan Alya. Dia cantik dan terlihat sebagai wanita berkelas, sedangkan Alya mantan istriku jelek. Wanita itu memakai gaun panjang berwarna kuning gading dengan pita besar di tengahnya. Sangat pas di tubuhnya yang ramping. 



"Mas Ivan?" tanya wanita itu membuatku kaget. 



"Alya?" Aku memekik dan menutup mulut dengan kedua tangan saat menyadari wanita cantik di hadapanku ini adalah mantan istriku dulu. Setelah kuamati dengan seksama, wanita itu memang Alya. Aku dapat mengenali lesung pipinya yang terukir jelas saat tersenyum. 



"Iya, aku Alya." 



"Ka-kamu operasi plastik?" Aku berusaha meraihnya, tetapi ia menghindar dengan mundur beberapa langkah. 


"Maaf, jangan pegang-pegang, kita bukan apa-apa lagi dan aku tidak operasi plastik," ucap Alya dengan senyum mengembang. 



"T-tapi bagaimana bisa kamu menjadi cantik begini?" 



"Bisa, Mas. Setiap wanita itu cantik asalkan mendapatkan perhatian dan kasih sayang serta uang." 


Jleb! 


Aku menelan ludah mendengar ucapannya. Kuakui saat menjadi istriku, aku memang tidak pernah memperhatikan kebutuhannya, bahkan sering menganggapnya  tidak ada sehingga ia tidak tahan lagi. Kini ia menjelma menjadi bidadari. Ia adalah berlian yang baru saja dicuci dari lumpur. 


"Alya, aku mau kembali sama kamu." Tiba-tiba kata-kata itu meluncur begitu saja dari mulut ini. 



"Apa maksudmu bilang mau kembali sama dia? Memangnya dia ini siapa? Kamu kenal, Mas?" Seru Reana yang datang menghampiri kami untuk menunjukkan pakaian yang ia pilih.