Inginku Hanya Meringankan Beban Ayah
Aku adalah anak ke empat dari lima bersaudara. Aku terlahir dari keluarga sederhana di daerah yang terkenal dengan kekayaan batu akiknya. Dulu, kedua orangtuaku adalah petani, tetapi setelah ibu mulai sakit-sakitan dan tidak lagi bisa bekerja, ayah beralih menjadi seorang sopir. Aku adalah anak yang sangat pengertian dan tidak pernah meminta ataupun memaksa ayahku untuk membelikan sesuatu diluar kebutuhanku.

Saat masih duduk di bangku sekolah menengah pertama, aku berkeinginan untuk melanjutkan ke sekolah menengah kejuruan. Hal ini karena aku mempertimbangkan bahwa setelah lulus sekolah nanti, aku akan mempunyai keterampilan untuk melamar pekerjaan sehingga aku bisa sedikit meringankan beban ayahku. 

Mengapa aku merasa beban ayahku begitu berat? ini bukan perasaanku saja, tapi ini benar adanya. Ibuku mulai sakit semenjak melaihrkan adikku, waktu itu usiaku baru tujuh tahun. tentunya, ibu tidak lagi bisa bekerja, kebutuhan kami lima beradik sepenuhnya ditanggung oleh ayah, ditambah lagi biaya pengobatan ibu dan kakak pertamaku.
 
Kakak pertamaku sakit. Sakit yang begitu sulit untuk bisa sembuh total. Sakit yang ku harap dihapuskan dari dunia ini. Ia sakit jiwa yang bisa kumat kapan saja. Sekali kumat, maka perlu waktu berbulan-bulan untuk menenangkannya. Masih terbayang jelas dibenakku, cuplikan-cuplikan saat kakakku tak terkendalikan, marah-marah, menggerutu tidak karuan, ingin membunuh ayah hingga dipasung. Semua kusaksikan semenjak usia masih belia. 

Namun, ayah dan ibuku adalah pribadi yang tegar. mereka tidak mengeluhkan keadaan, masa-masa sulit dijalankan dengan lapang dada. Ayahku sosok pekerja keras yang tangguh, tidak mengapa baginya menjual sedikit harta yang dimiliki untuk pengobatan kakakku, kerap rasa malu dikesampingkan demi meminjam uang untuk memenuhi kebutuhan keluarga kami.

Keinginanku untuk melanjutkan ke jenjang sekolah menengah kejuruan terwujud. Aku mengambil jurusan administrasi perkantoran atau lebih di kenal dengan jurusan sekretaris kala itu. Awal pendidikanku di SMK, ada kalimat ayah yang masih kuingat. Waktu itu dalam perjalanan menggunakan mobil truk, ayah mengendarai mobil sambil berujar “Lin, kalu cuma sebatas SMA insyaAllah bak mampu, tapi kalu nak kuliah bak dak mampu,” (Lin kalau hanya sebatas sekolah menengah atas insyaAllah bapak mampu, tapi kalau mau kuliah, bapak tidak mampu). 

Aku yang pendiam tidak banyak memberikan tanggapan, aku hanya menjawab “ia” sambil melihat laju kendaraan yang melintasi kami. Aku berkata dalm hati, itu bukan masalah, yang penting aku sekarang sekolah dengan baik, tidak pacaran, mendapatkan ijazah, lalu mencari kerja, dengan begitu aku bisa sedikit meringankan beban ayahku.