Prestasi Menempa Kepercayaan Diri
Pada dasarnya aku adalah anak yang pemalu. Akan tetapi perjalanan hidup dan sedikit ilmu yang didapat mengantarkanku menjadi pribadi yang memiliki cukup kepercayaan diri.

Semasa kuliah aku sempat mengikuti dua kompetisi. Kompetisi pertama ialah M2KQ. Ini merupakan kompetisi menulis karya ilmiah yang menjadikan Alquran sebagai sumber utamanya.
 
Aku hanya mengikutinya sekali, karena setelahnya aku tidak mendapatkan informasi lagi mengenai lomba ini. Saat semester dua, mahasiswa IAIN diberi Mata Kuliah Non-SKS. Jika tidak salah nama Mata kuliahnya Pembinaan Alquraan. Banyak pilihan cabangnya seperti ceramah, kaligrafi, M2KQ, dan lain sebagaiany. Aku memilih M2KQ. Di pertemuan ke sekian, dosen yang mengampu memberikan kami tugas untuk menulis sebuah karya ilmiah yang harus mencantumkan ayat suci Alquran sebagai sumber pemikiran didalamnya.
 
Ternyata tulisanku diapresiasi oleh dosen, beliau kemudian merekomendasikanku ikut pelatihan yang akan berlangsung selama beberapa hari di sebuah hotel. Aku bersama satu lagi temanku berangkat ke hotel tersebut dan ternyata disana sudah ada dua kakak senior kami yang ikut dalam kegiatan ini.

Awalnya aku tidak tahu kalau ini adalah sebuah kompetisi, aku hanya tahu kalau ini adalah pelatihan sampai kami diumumkan bahwa salah satu dari kami akan dikirimkan mewakili provinsi Bengkulu dalam lomba Musbaqoh Tilawatil Quran Tingkat National.
 
Yang terpilih adalah kakak seniorku. Dia memang lebih unggul dari kami dan dia sudah sering mengikuti kompetisi. Di hari terakhir penilaian, kami disuruh mempresentasikan sebuah tema didepan juri dalam sebuah ruangan dan tema tersebut ditentukan. 

Aku jangan ditanya, kalimatku tergugu, ilmuku masih sangat sedikit, dan kepercayaan diriku masih tipis. Ini tidak mudah bagiku mahasiswa tahun pertama, dan juga sebelumnya sudah pernah "off" bersekolah. Aku sangat bersyukur dan berterimakasih kepada dosen yang sudah memberikanku kesempatan mengikuti kegiatan tersebut.
 
Ini adalah pengalaman perdanaku berkompetisi dengan fasilitasi di hotel yang bagus, kamar tidur yang nyaman, sarapan dan makan malam dipersiapkan, sungguh hal ini bagaikan hadiah untukku. 

Di hari terakhir sebelum pulang, kami dipanggil satu persatu dan di kasih amplop. "Wah, Masyaallah, aku benar-benar tidak menyangka, sudahlah diberikan ilmu, makan dan tidur enak, dapat amplop lagi, rezeki anak solehah g' kemana, kan, hehe?" Pikirku bahagia. 

Sebagian uang yang ku dapat dari pelatihan ini kubelikan gorden pintu yang masih ada sampai sekarang sebagai kenang-kenangan dari kegiatan ini. 

Kompetisi kedua adalah lomba mengajar yang diadakan oleh salah satu organisasi internal kampus. Aku tidak Mengingat semester berapa kompetisi ini kemungkinan di tahun ketiga perkuliahanku. Mengikuti kompetisi ini, aku di bantu beberapa orang temanku yang berperan sebagai murid. Juri dari lomba ini adalah tiga orang dosen dari jurusan yang berbeda. 

Penampilan pertamaku sukses, para juri nampak senang dengan penampilanku. Benar saja, aku berhasil memasuki babak final bersama dua peserta lainnya. Babak final tidak lagi diselenggarakan di ruangan tertutup micro teaching, melainkan di auditorium kampus yang semua mahasiswa bisa menonton. Aku tampil dengan prima dan kepercayaan diri yang penuh, ditambah lagi teman-temanku yang berperan sebagai siswa sangat menunjang penampilanku.
 
Kali ini di babak final, penentuan pemenang bukan dari para juri, tetapi dari semua penonton yang menyaksikan. Setelah kami para finalis tampil, semua penonton yang hadir di auditorium dipersilahkan melakukan voting melalui pesan singkat atau SMS (short message service) dengan format yang ditentukan panitia. 

Aku berpikir kecil kemungkinan bisa menjuarai lomba ini karena penonton yang ada pasti akan mendukung temannya yang tampil. Sedangkan teman-temanku prodi Bahasa Inggris tidak ada yang menonton.

Teman-temanku yang berada disana waktu itu hanyalah beberapa orang yang ikut tampli bersamaku yang berperan sebagai siswa, tentu mereka tidak bisa ikut voting. Setelah menunggu beberapa waktu, pengumumanpun tiba. Para finalis dipersilahkan maju dan berdiri diatas panggung auditorium. Aku tegak di tengah, di antara dua finalis lainnya. Aku tidak berangan-angan tinggi, terpilih ke babak final saja sudah merupakan prestasi yang luar biasa bagiku, apalagi aku jarang mengikuti sebuah perlombaan.

Teman-teman ku yang berperan sebagai murid tidak langsung pulang setelah penampilanku, mereka setia menunggu pengumuman pemenang. Akhirnya pengumuman dimulai dari penyebutan juara pertama. "Juara pertama kita jatuh pada..." Teriak sang moderator, aku serasa tidak bernapas menunggu kelanjutan kalimatnya. 

Diluar pradugaku ketika moderator berkata "Juara 1 jatuh pada ... Dailin dari prodi Tadris Bahasa Inggris". "Yuhuuu" sorakku dalam hati, aku bahagia, tersenyum lebar dan kikuk bagaimana harus mengekpresikan kemenanganku. Aku tidak menyangka menyelesaikan kompetisi ini sebagai juara pertama. 

Namun, sayangnya waktu itu handphone ku belum secanggih sekarang, jadi aku tidak memiliki foto-foto kenangan kala itu. Juara 1 lomba mengajar, aku sangat bangga dengan predikat ini. 

Akan tetapi, hal yang lebih membanggakanku adalah bisa memiliki seorang teman yang mendukungku dari awal hingga akhir. Teman terbaikku, Gusniarti adalah orang yang menyaksikan semua rasaku dimasa itu. Doaku untuknya, semoga ia sentiasa diberikan kesehatan dan kebahagiaan.