Bekerja di Ibukota
Tiga tahunpun berlalu, aku lulus SMK di tahun 2007. Setelah lulus, ayah menitipkanku kepada kerabat yang akan berangkat  ke Jakarta. Aku ke Jakarta menyusul kakak ketiga yang sudah merantau duluan berbekal ijazah sekolah menengah atasnya. Kakak ketigaku laki-laki, disana ia tinggal di sebuah kontrakan bersama salah atu temannya. Karena tidak memungkinkan tinggal bersama mereka di satu kamar kontrakan petak, kakakpun menitipkanku untuk menumpang tidur di kosan temannya yang perempuan yang terletak tidak jauh dari kosan kakak. 

Setelah satu atau dua hari disana, salah satu teman kakak membawaku tuk bekerja bersamanya. Tempat kerja pertamaku ini adalah sebuah gedung yang memproduksi sarang burung walet. Orang yang bekerja disini tidak perlu memasukkan lamaran pekerjaan maupun berkas-berkas lainnya. Para pekerja digaji berdasarkan jumlah sarang burung walet yang mereka bersihkan. Sehari bekerja disini, aku mendapatkan pengalaman yang tidak mengenakkan. Salah satu pekerja disana menunjukkan ketidaksukaannya kepadaku. Ketidaksukaannya itu ditunjukkan dari sikap dan cara ia melihatku. 

Pada saat istirahat jam makan siang, semua pekerja berbaris mengantri untuk mengambil jatah makan siang. Aku berdiri tepat dibelakang temannya kakakku yang membawaku kerja disana, tiba-tiba wanita yang tidak menyukaiku muncul dari belakang sambil menyenggol bahuku ia berkata “Heh, anak baru! Minggir!” dia disusul beberapa temannya berlalu melewati antrian kami.
Setelah hari itu, aku tidak lagi bekerja disana. Kakakku bilang ada lowongan tempat kerja lain. “Syukurlah,” batinku, aku juga tidak nyaman dan tidak ingin bekerja ditempat seperti itu. 

Tidak lama berselang, aku bekerja di tempat yang baru, salon kecantikan. Sebuah salon yang cukup mewah bagiku, yang merupakan bagian dari salah satu pusat perbelanjaan di Kelapa Gading, Jakarta Utara, Sport Mall. Dihari pertama bekerja, aku diperkenalkan dengan pemilik salon yang gaya rambut dan berpakaiannya mirip seorang seniman terkenal, Ahmad Dhani. Aku diberitahu bahwa gaji yang akan kuterima dihitung dari pekerjaan apa saja yang aku lakukan dalam sehari, setiap pekerjaan honornya bervaiasi, gajinnya bisa diambil perminggu ataupun perbulan. 

Bayangkan seorang gadis desa yang tidak bisa bersolek datang keibukota lalu bekerja di sebuah salon besar. Linglung, bingung, ia itu yang kurasakan. Aku tidak terbiasa berhias, dengan lipstick dan deodorant saja aku belum akrab, yang kutahu hanyalah bedak bayi tabur yang kuletakkan diwajahku, sisir, dan ikat rambut, itu saja. untunglah dihari pertamaku bekerja pelanggan tidak begitu ramai. 

Aku diajarakan cara mengeramasi rambut dan cara creambath rambut. dihari berikutnya. aku diajari cara manicure dan pedicure. Dua istilah ini baru aku ketahui saat disana, aku baru tahu bahwa manicure adalah perawatan kuku tangan dan pedicure adalah perawatan kuku kaki,  betapa “Ndesonya” aku masa itu.

Pernah suatu waktu, aku ditugaskan untuk meng-creambath rambut seorang gadis yang usianya nampak tidak jauh denganku. baru diajari sekali, langsung disuruh praktek ke pelanggan, tentu saja aku grogi. Namun, aku berusaha melakukan tugasku dengan tenang.

Ada kejadian lucu yang ku kenang, saat aku mengambil cream rambut untuk diletakkan di rambut gadis itu, sebagian cream tersebut malah muncrat keatas majalah yang sedang ia baca, “Dug!” jantungku berdegup kencang. Aku langsung meminta maaf, aku takut dia marah. Untung saja dia gadis yang baik. Ia bilang “tidak apa-apa,” sambil tersenyum, Ah, aku tidak mengingat parasnya, semoga saja gadis ini kehidupannya sekarang bahagia dan sukses. 

Aku menyelesaikan creambath rambutnya dengan perasaan yang tidak tenang. Sebelum waktunya pulang, kami di briefing. Aku diberitahu bahwa pijatan creambath ku terlihat belum enak. “Hufft, aku saja belum pernah merasakan bagaimana itu creambath, memangnya aku datang ke Jakarta untuk jadi tukang pijat,” batinku. 

Baru dua hari bekerja disana, penampilanku mulai berubah, bukan karena aku menginginkannya, tetapi aku dijadikan objek latihan kakak senior pekerja disana. Aku tidak berkeberatan untuk membantunya, apalagi ia adalah yang mengajariku manicure dan pedicure. Dia belajar memotong rambut, karena rambutku panjang, dia memotong rambutku, dia belajar memasang maskara pada bulu mataku. Aku disuruh membawa kutek pulang agar bisa latihan mengecat kuku. Sekitar lima hari bekerja disana, aku diberikan baju seragam, pemilik salon kelihatan senang melihatku mengenakan seragamnya.

Lagi, aku merasa ini bukan pekerjaan yang cocok untukku. Genap satu minggu bekerja, ayah menelpon, ia menyuruhku untuk mengemas barang dan bersiap-siap untuk dijemput. Ayah akan mengantarku ke Tangerang, ke rumah salah satu teman baiknya untuk menetap di sana. Ayah bilang, salah seorang dari anak teman baiknya itu bekerja di bank, ayah berharap ia dapat membantuku mendapatkan pekerjaan yang lebih layak, ia tidak setuju aku bekerja di salon kecantikan apalagi pulang kerjanya malam hari.

Akhirnya, akupun pindah ke Tangerang tinggal bersama teman ayah dan keluarganya yang belum ku kenal. Entah berapa lama tepatnya aku tinggal disini, kurang lebih satu bulan tanpa mendapatkan pekerjaan. Selama menetap disana, ayah memberiku uang untuk sebagian diserahkan kepada istri temannya dan sebagian aku simpan untuk kebutuhanku. Aku merasa keputusan ayah untuk menempatkanku disana tidaklah tepat, aku dirumah saja, tidak ada teman yang mengarahkan, tidak tahu harus kemana mencari pekerjaan, ank teman ayahku berangkat pagi, pulang malam, tidak ad waktu untuk membantuku mencari pekerjaan. Sikap uwak (begitu aku memanggil istri teman ayahku) juga tidak begitu baik kepadaku, setiap tindakanku dianggap salah dimatanya, pergaulan disana juga tidak baik untukku.
 
Aku menangis hampir tiap malam. Aku menelpon ayah bahwa aku tidak betah disana dan ingin pulang. Menjelang lebaran idul adha, ayah menjemputku pulang. Aku pulang dengan sukacita. Tidak mengapa aku pulang, aku bisa merawat ibu yang sudah sakit dalam beberapa tahun ini dan bisa mencari lowongan pekerjaan di kampung saja.