Hasratku Untuk Kuliah
Sekarang aku sudah kembali ke rumah dimana aku bisa bertemu dengan ibu, kakak pertamaku, dan adikku setiap hari. Aku tidak banyak bercerita dengan siapapun tentang apa saja yang telah kulalui selama di Jakarta dan Tangerang. 

Kakak keduaku perempuan telah menikah dan tinggal bersama suaminya. Sebagai anak gadis yang tinggal dirumah tentu saja semua pekerjaan rumah menjadi tugasku, apalagi ibuku sakit. 

Setelah lebaran idul adha berlalu, aku mulai bertanya kepada orang-orang terdekatku kira-kira dimana aku bisa melamar pekerjaan menggunakan ijazah sekolah menengah kejuruanku. Aku mendapat saran untuk melamar pekerjaan sebagai guru sebuah Taman Kanak-Kanak yang katanya sedang mencari membutuhkan. Akupun membuat surat lamaran kerja, melampirkan ijazah dan sertifikat yang kupunya. Akan tetapi, kenyataannya tidak semudah yang kubayangkan, lamaranku tidak mendapat jawaban sesuai harapan. 

Lalu, aku membuat lamaran kerja lagi, kali ini aku berniat untuk memasukkannya ke SD (Sekolah Dasar) Negeri 1, tempat aku bersekolah dulu. Aku menemui Kepala Sekolah di rumahnya, dan Alhamdulillah, tidak menunggu lama, aku mendapat panggilan untuk bantu-bantu di sekolah. 

Hari-hariku mulai diisi dengan kesibukanku sebagai seorang guru dan staf Tata Usaha Sekolah Dasar. Awalnya aku ditugaskan sebagai staf Tata Usaha, ini pas dengan jurusanku administrasi perkantoran. Guru disana sempat memuji kemahiranku menggunakan mesin tik, karena masa itu komputer belum banyak dipakai. Tentu saja aku bisa memakainya karena di SMK kami diajarkan menggunakannya. 

Tugasku kemudian ditambah untuk mengelola perpustakaan dan menggantikan guru masuk ke kelas jika guru tersebut berhalangan datang. Kemudian aku dipercaya untuk mengajar mata pelajaran Matematika. 

Di pagi hari sampai siang aku bekerja di Sekolah Dasar, sepulangnya, aku beres-beres rumah, memasak, sambil membuka konter isi ulang pulsa, dan malamnya aku mengajar ngaji. Kakak ketigaku yang memodaliku untuk buka usaha konter pulsa, aku membukanya dihalaman rumah dari siang sampai jam sembilan malam. 

Usahaku ini cukup menguntungkan mengingat masih jarang yang membuka konter kala itu. Aku pernah dengar ibuku bercerita dengan nenek bahwa usahaku ini sangat membantu, disaat beras habis dan ayah belum pulang, maka kami bisa membelinya pakai uang konter. 

Cukup ramai yang mengisi pulsa dikonterku, selepas isya, setelah aku mengajar ngaji, hampir tiap malam halaman rumahku ramai oleh teman-teman yang datang untuk mengisi pulsa atau hanya sekedar berbincang ringan bersama. 
 
Perihal mengajar ngaji, inilah aktifitas menjelang malam yang paling aku sukai. Pada awalnya, aku tidak berkeinginan untuk mengajar ngaji, aku merasa kemampuan mengajiku masih belum cukup, dan belum pantas menjadi guru ngaji, tapi ayah dan ibuku mendorongku untuk melakukannya karena guru ngajiku dulu sudah meninggal dan tidak ada lagi yang mengajar ngaji di lingkungn sekitar rumah kami, sedangkan banyak anak-anak usia sekolah yang seharusnya belajar mengaji. 

Aku tidak serta merta menyetujui keinginan orangtuaku sampai suatu hari ayah berkata ajarkan saja yang kau bisa, selebihnya biar mereka belajar sendiri nanti. Aku setuju dengan ucapan ayah, ternyata aku yang hanya lulusan SMK ini disambut baik oleh warga sekitar untuk mengajarkan anak mereka membaca Al-quran. 

Aku mengajarkan sedikit ilmu yang kupunya dari guru ngajiku sewaktu aku masih anak-anak dulu, aku menikmati mengajarkan mereka huruf demi huruf dalam iqra’ dan juz-amma, membaca Al-quran setiap malam, mengajarkan mereka tata cara sholat dan hafalan bacaan sholat setiap malam Jumat.

Murid ngajiku dulu cukup banyak, ruang depan rumah panggung yang panjang bisa penuh dengan murid-muridku. 
Ah, sungguh aku merindukan masa ini.

Merindukan keriuhan anak-anak yang mengikuti arahanku dengan antusias tinggi, merindukan bernyanyi bersama, dan membcakan doa khatam Quran bersama. Aku berharap suatu saat aku bisa mengajar ngaji lagi sepert ini.

Setelah beberapa bulan mengajar di sekolah dasar, aku diarahkan untuk kuliah jurusan Pendidikan Guru Sekolah Dasar di cabang Universitas Terbuka yang ada di daerah kami. Ayah memfasilitasiku untuk kuliah disana, pertemuannya dalam satu semester hanya beberapa kali, itupun hanya diakhir pekan dan belajarnya di gedung sekolah dasar negeri 2.

Meski aku tidak sepenuhnya yakin untuk kuliah jurusan ini, aku tetap mendaftar dan menjalaninya. Kuliah ini kujalani hingga dua semester. Sebelum pendaftaran ulang semester 3 aku merasakan kebimbangan yang sangat dalam untuk melanjutkan. 

Aku merasa ini bukanlah jurusan yang pas untukku. Aku merasa tidak puas dengan hasil KRS yang kuterima dua semester ini, belajar disini juga tidak memenuhi tingginya semangatku untuk belajar. 

Aku menahan rasaku ini selama berminggu-minggu. Namun, semakin ku tahan, keinginanku untuk melanjutkan kuliah di perkuliahan regulerpun semakin membuncah, aku ingin kuliah sesuai pilihanku, aku ingin belajar setiap hari, itu yang ada dibenakku, kepalaku sampai sakit memikirkan hal ini. 

Aku tidak langsung menyampaikannya pada orangtuaku karena aku tahu besar kemungkinan mereka tidak akan setuju. Benar saja, setelah aku menyampaikan keinginanku ini, ayah menunjukkan keberatannya. 

Beliau berkata "nanti kamu menyesal, teman-teman kamu yang kuliah disini nanti bakal jadi orang, sedangkan kamu mau meninggalkan pekerjaan dan kuliahmu disini". 

Aku tetap teguh pada pendirianku, bagiku jika memang bisa kuliah, aku harus menjalaninya dengan sepenuh hati, bukan seperti perkuliahanku saat ini, masalah pekerjaan, aku tidak berkeberatan meninggalkannya, karena aku bisa mencarinya lagi setelah ini.
 
Akhirnya ayah berkata ia akan mengizinkan jika ibu juga mengizinkan. Di kesempatan berikutnya, aku mulai mencoba menyampaikan hasratku untuk melanjutkan  kuliah dengan ibu. Aku mendapatkan penolakan, ibu tidak memberiku izin dengan banyak kekhawatiran akan hal buruk menimpaku.

Aku memaklumi semua kekhawatiran ibu, kakak pertamaku dulu mendapatkan sakit jiwanya ketika ia bersekolah di Palembang, kelas satu SMA ia mulai mengalami sakit jiwa. Ini menjadi salah satu alasan ibu tidak mengizinkanku bersekolah jauh dari rumah.

Ibu pasti khawatir hal yang sama menimpaku. Ibu juga bilang aku anak perempuan tidak seharusnya jauh dari rumah, melihat banyaknya contoh kasus di kampung kami, anak-anak gadis bersekolah atau kuliah diluar kota pulang tanpa menyelesaikan pendidikannya lalu menikah. 

Ibu juga bilang bahwa mereka tidak mempunyai cukup uang untuk menguliahkanku. Oh Tuhan, tidak mudah bagiku mendapatkan izin dari mereka.

Aku tidak patah arang, keinginanku untuk kuliah kian membuncah, aku memberitahu bibi, adik ibuku. Alhamdulillah dia mendukungku dan akan memperkenalkanku dengan seseorang yang bisa menjad pembuka jalan bagiku untuk melanjutkan kuliah. 

Aku kembali menyampaikan inginku pada ibu. Aku meyakinkan ibu untuk tidak menghawatirkan masalah biaya. Untuk biaya awal masuk kuliah aku punya tabungan selama honor di Sekolaah Dasar dan itu akan cukup mengingat perguruan tinggi tujuanku nanti adalah perguruan tinggi negeri dengan biaya kuliah paling terjangkau.
 
Aku bilang pada ibu untuk biaya semester nanti aku akan mencari kerja, kerja apapun itu yang penting halal, jadi tukang sapu, tukang cuci piring di rumah makan, atau yang lainnya aku siap asalkan dapat menghasilkan uang untuk kuliahku, aku menyampaikannya sambil menangis, aku bilang pada ibu jika bukan kita yang berusaha merubah nasib kita sendiri maka Allah tidak akan merubahnya. 

Aku meyakini pepatah dimana ada kemauan disitu ada jalan. Allah pasti memberi jalan bagiku dalam memperjuangkan pendidikanku. Aku berujar pada ibu bahwa aku akan kuliah dengan baik dan sungguh-sungguh. 

Ibuku menangis melihatku menyampaikan keinginanku dengan begitu kukuh. Demi melihat kerasnya tekadku, ibu kemudian menyetujuinya begitupun dengan ayah.

Namun, ayah mensyaratkan padaku bahwa hanya boleh kuliah jurusan pendidikan, selain jurusan itu tidak diperbolehkan. 

Aku tidak masalah dengan persyaratan dari ayah. Aku yang sedari sekolah menengah pertama tidak pernah membayangkan untuk duduk di bangku kuliah, bahkan tidak berniat sedikitpun untuk menanamkan keinginan melanjutkan sekolah dikarenakan sulitnya kondisi keluarga kami ditambah lagi ayah pernah bilang tidak akan mampu menguliahkanku. 

Akan tetapi, saat ini keadaannya berbeda, setelah dua tahun lulus SMK lalu mengajar di SD, keinginanku untuk kuliah mulai tumbuh dan semakin kuat ketika ayah menyuruhku kuliah di Universitas Terbuka. Hal ini menjadi pertanda bagiku bahwa ayah sebenarnya membolehkan aku  kuliah.

*Salam semua, terimakasih sudah mampir dan membaca tulisanku, mohon dukunganannya ya, terimakasih,😊**