KKN yang Suram
"KKN selesai dengan kehambaran yang melekat dan kemuraman yang tak berbinar sedikitpun." Isi benakku tentang KKN.

Perkuliahanku sudah berjalan tiga tahun. Sama seperti mahasiswa lainnya, di semester enam aku harus mengikuti Kuliah Kerja Nyata yang sering disebut dengan KKN. Mahasiswa dibagi ke dalam kelompok-kelompok untuk ditempatkan di berbagai desa. Kelompokku berjumlah tujuh orang, dua orang laki-laki dan lima orang perempuan. 

Kami ditempatkam disebuah desa yang tidak begitu jauh dari kota Bengkulu, membutuhkan perjalanan kurang lebih satu jam untuk sampai kesana. 

Kami disambut dengan baik di desa ini, pada waktu siang dan petang hari anak-anak sering main ke sekre kami dan biasanya para pemuda desa berkumpul di halaman tempat kami tinggal. 

Aku dan empat teman lainnya yang perempuan menempati balai desa yang tidak dipakai, sedangkan dua orang teman kami yang laki-laki tinggal di rumah kepala desa yang memilki satu kamar kosong untuk mereka tempati. 

Selama beberapa hari disana kami merasa sangat nyaman meski peralatan tidur seadanya. Setiap malam setelah Maghrib kami mengajar ngaji dan disiang harinya aku mengajar anak-anak bahasa Inggris. 

Akan tetapi sangat disayangkan, baru satu minggu disana, kami mendapat musibah. 

Disuatu awal pagi, kami terbangun dikagetkan oleh suara jeritan mb' ina (bukan nama sebenarnya) salah satu teman kelompokku berteriak histeris. 

Aku dan teman-teman lain bangun serentak dan bingung dengan apa yang terjadi, mb' ina menangis sambil mengungkapkan kalimat dengan terburu-buru yang tidak kami tangkap secara jelas. 

"Kita kemalingan, semuanya hilang, koper hilang, handphone hilang!" Ucap mb' Ina dengan nada berteriak. Oh Tuhan, aku langsung bangkit dari lantai mengikuti teman-teman yang berlarian ke pintu belakang. 

"Lihat itu Koper Pida!", ucap salah satu temanku, kami langsung menuju kesana dan mendapatkan pakaian Pida berhamburan sedang dua laptop yang kami simpan disana telah lenyap. 

Entah apa yang terjadi dengan diriku, aku seakan belum begitu menyadari apa yang terjadi, aku tahu kami kemalingan, aku syok, beberapa menit setelahnya aku baru menyadari bahwa laptop dan Hand phone ku telah hilang, begitupun dengan uangku, modal untuk hidup selama tiga bulan masa KKN sudah tidak ada lagi. 

Aku dan beberapa temanku menyimpan uang dan laptopku di koper Pida dikarenakan kopernya besar dan menggunakan gembok sehingga kami merasa akan lebih aman jika disimpan disana. Aku dan semua teman-temanku menangis sejadi-jadinya. 

Selang beberapa menit, aku melihat diujung tikar tempat tidurku, koperku masih ada, lalu ada suara HP berdering didalamnya, aku langsung berlari mencari sumber suara tersebut. Aku mendapatkannya, aku baru mengingat HP ku satu lagi kuletakkan dalam koperku. Alhamdulillah! Teriakku, merasa bersyukur karena masih ada alat untukku berkomunikasi. 

Aku langsung menelpon ayah dan memberitahunya tentang kejadian yang menimpa kami. Setelah kejadian, warga sekitar baru memberitahu kami bahwa di desa mereka memang tidak aman, disetiap bulannya pasti akan ada rumah yang kemalingan. 

Malahan di malam yang sama dengan kejadian ditempat kami, salah satu rumah warga disana juga didatangi maling bahkan lebih mengerikan karena penjahat menarik kalung yang terpakai dileher pemilik rumah yang sedang tertidur.
 
Akhirnya pihak kampus memutuskan untuk memindahkan lokasi KKN kami ke desa yang lain dan kami juga diberikan sedikit bantuan dari pihak kampus untuk biaya makan sehari-hari.

Dihari perpindahan kami, terlihat raut kesedihan anak-anak disana. Ketika mobil kami melaju secara perlahan, anak-anak berlari mengikuti laju mobil kami, kulihat seorang gadis kecil kisaran usia tujuh tahun menangis sambil melambaikan tangannya padaku. 

Ah, aku menjadi sedih mengingat ini. Melihat hal tersebut, Dosen Pamong kami berkata "Sayang sekali sebenarnya kalian pindah dari sini." Kami semua hanya terpaku tanpa jawaban.

Desa KKN kami yang baru memang lebih aman, tapi aku tidak merasa mereka membutuhkan mahasiswa KKN karena kulihat keagamaan warga sekitar cukup bagus, lagi pula selain kami sudah ada dua kelompok KKN disana, satu dari Universitas Bengkulu, satu lagi kelompok yang berasal dari  perguruan tinggi yang sama dengan kami, Institut Agama Islam Negeri Bengkulu. 

Hari-hari KKN berlalu tidak menyenangkan bagiku, tidak adanya kegiatan seperti di tempat KKN sebelumnya serta konflik internal kelompok yang muncul membuatku merasa KKN tidak memberi manfaat bagiku. 

Kuliah Kerja Nyata merupakan pengalaman buruk yang ingin ku hapus dari memoriku.