Terperangkap
“Tunggu. Jelaskan padaku."  Ku tahan emosiku yang membuncah dan kembali duduk.

Ia mengulum senyum kemenangan sembari duduk dihadapanku dan membuka laptopnya untuk mulai menerangkan lagi.

“Aku tak memberimu gaji bulanan melainkan insentif penjualan sebesar sepuluh persen dari tiap item bento tools yang terjual. Berapa nilai rupiah yang Kau terima tergantung berapa banyak pembeli yang bertransaksi denganmu." Ia kembali menguraikan.

Membuatku berpikir bahwa pekerjaan ini tak ubahnya dengan sales atau marketing produk asuransi, kartu kredit, property dan kendaraan yang bukan bidangku dan tak pantas seorang sarjana ekonomi sepertiku lakoni.

“Kau tahu? Aku lulusan sarjana ekonomi jurusan management dengan nilai cumlaude." Ku terangkan padanya background pendidikanku agar Ia merasa malu menawarkan pekerjaan ini padaku.

“Kau tahu? Aku lulusan SMU yang bisa keluar dari stigma bahwa seorang tamatan sekolah menengah hanya akan terdampar di pabrik. Aku menghasilkan uang dengan caraku sendiri, tak bergantung pada orang lain atau institusi. Aku memiliki toko online yang mampu mendapatkan sepuluh pelanggan perhari dengan nilai transaksi minimal dua ratus lima puluh ribu per orang, Aku menghasilkan laba bersih satu juta perhari, selain itu Aku juga memiliki usaha lain yang berkaitan dengan toko onlineku. Catering dan workshop Japanese bento yang tak semua orang bisa lakukan. Dan Kau apa hebatnya dirimu? Apa Kau punya pekerjaan yang bisa dibanggakan?" Ia menyerangku balik dan membuatku tak berkutik. 

SHIT! lagi-lagi Aku harus kalah bicara darinya.

“Seharusnya Kau bersyukur, Aku memberimu kesempatan untuk tahu seluk beluk pekerjaanku. Dengan begitu Kau bisa mempelajari bagaimana formula bisnis di jaman sekarang yang tak bisa Kau temui dibangku kuliah." kali ini nada bicaranya tak terkesan sombong. Lebih tepatnya seperti menasehatiku.

Membuatku benar-benar terdiam dan tak ingin membantahnya lagi. Untuk beberapa hal, Ia benar.

“Kau mungkin malu menjadi Marketing atau Sales suatu produk. Tapi harus Kau tahu, tiap orang adalah pemasar bagi dirinya. Bagaimana orang tahu Kau kompeten atau tidak kalau tak pernah belajar bagaimana me-marketing diri sesungguhnya. Di dunia online Kau bisa belajar lebih dari apa yang Kau tahu, bahwa situs jejaring atau website ada hanya untuk Kau eksis dan mendapat informasi secara cepat. Lebih dari itu, Kau bisa merintis jalan menjadi pengusaha seperti Reza Nurhilman produsen Kripik Maicih kerjakan atau menjadi pedagang dropship seperti yang orang lain lakukan. Kau bisa belajar bisnis tanpa harus merasa malu karena netizen tak melihatmu, mereka hanya akan menghubungimu lewat chat jika tertarik membeli. Dan kemudian jika setuju dengan penawaran produkmu akan melakukan transfer ke rekeningmu."

Penjelasannya sedikit banyak membuat wawasanku terbuka, ini dunia baru yang belum pernah Ku telusuri. Dimana biasanya Aku hanya menggunakan internet sebatas untuk eksis di jejaring sosial seperti teman-temanku lakukan. Sebaliknya Ia menggunakan internet untuk menghasilkan uang dengan cara membuka toko online. Terdengar menggagumkan dan menarik untuk dipelajari.

“Baiklah, akan Ku coba." Kuputuskan untuk belajar dari pekerjaan ini.

Dan Ia tersenyum lebar saat mendengar jawabanku. 

“Kau hanya perlu connect to internet dan mobile banking untuk melakukan promo dan transaksi jual beli online." Ia mulai menerangkan lebih lanjut mengenai sebagian job description yang harus Ku lakukan. 

Jam menunjukkan pukul satu dini hari saat Aku tiba dirumah, senyap tak ada satupun orang rumah yang mengkhawatirkanku dan menungguku pulang. Padahal jelas-jelas tadi Papih datang dan melihatku terancam dibui. Tak mungkin Papih tak menceritakannya pada Mamih dan adikku. Papih pasti cerita, hanya saja mereka mungkin sudah benar-benar tak peduli padaku. SHIT! keluarga macam apa ini yang tak mau membantu anggota keluarganya yang tertimpa masalah.

Benar-benar Mereka keterlaluan." Ku naiki anak tangga menuju kamarku dan bersiap untuk tidur.

KLING! bunyi pesan masuk di WA-ku. Setengah mengantuk Ku buka juga isi pesan.

'Ingat, Kau karyawan yang bertugas shift malam. Kalau besok pagi Ku cek ada chat atau inbox yang belum Kau balas. Tamatlah Kau!' ternyata pesan bernada ancaman dari gadis itu.

Keterlaluan, apa Ia tidak berpikir Aku sudah keletihan. Duduk dibangku pesakitan dengan perut kelaparan, sementara Ia sejak awal menipuku. Benar-benar gadis licik, Ku harap Tuhan mengutuknya menjadi perawan tua!

Ku lempar tubuhku di tempat tidur sembari masih memegangi ponsel, melihat satu persatu lapak online-nya dan mengecek apakah ada chat atau inbox yang masuk. Tak sadar karena mengantuk Aku terlelap begitu saja.

KLING ! bunyi pesan masuk. Kali ini di facebook dengan user name toko online miliknya.

“Jam berapa ini?" Aku terjaga dari tidur dan membuka mata, Ku lihat jam di dinding masih menunjukkan pukul tiga pagi. Kubuka isi pesan di Facebook akun toko dan membacanya.

'Sist, rice mold ball-nya masih ada nggak? kalau masih Saya mau pesan satu.'

Aku mengusap wajah tak percaya waktu membaca inbox FB. Gila! jam segini ada customer yang ingin berbelanja? Apa Ia tidak tidur? apa Ia maniak shopping? Aku benar-benar tak habis pikir.

Jujur Aku mengantuk berat, inginnya meneruskan tidur dan mengabaikan inbox dari Si maniak shopping. Tapi itu tidak mungkin Ku lakukan, Gadis itu pasti menjebloskanku ke bui.

Sial! Ku beringsut dari tempat tidur dan mencuci muka sebentar di wastafel. Setelah itu kembali memelototi layar ponsel.

“Apa itu rice mold?" Aku yang tak mengerti dengan nama benda yang ditanya membuka album Facebook. Mengklik gallery rice mold yang ada dan melihat-lihat bentuk rice mold yang diinginkannya.

HAH! tidak salah? Harganya hanya lima puluh ribu rupiah. Jika sepuluh persennya merupakan insentif penjualan untukku berarti Aku hanya dapat keuntungan lima puluh ribu rupiah. Uang sejumlah lima puluh ribu rupiah  untuk seliter bensin bersubsidi pun masih kurang dari mencukupi.

Ini benar-benar gila! ini sama saja kerja rodi! Aku tak akan bisa melunasi hutangku jika barang yang Ku jual hanya menjanjikan sedikit keuntungan. Kau benar-benar licik  perawan tua!