Empat
Bab 4

POV Diwan

"Kamu di sini aja ya, aku ke dapur sebentar," ucapku sambil memakai sandal dengan cepat.

"Mas, aku ikut ya, takut sendirian," rengek Mala. Ia sudah berdiri di belakangku sembari menarik baju.


Dengan langkah penuh hati-hati, aku pun menyalakan lampu depan terlebih dahulu, kemudian langkah demi langkah kulewati dengan mengendap-endap seraya maling di rumah sendiri.


"Mas, kok suasana mencekam sekali ya, padahal masih sore ini baru selesai maghrib," bisik Mala. Aku tahu ia takut makanya terus menerus bicara agar menepis ketakutannya.

Setibanya di dapur, kunyalakan lampunya. Ternyata ada kucing di atas meja. Mala pun melepaskan genggaman tangannya yang menarik bajuku.

"Huft, alhamdulilah, lega," celetuk Mala sambil mendesah lega. Kemudian, aku dan Mala merapikan pecahan piring yang berceceran di depan rak. Kami merapikan dengan posisi jongkok. 

Kemudian, terdengar suara rintihan wanita menangis yang terdengar santar di telinga. Aku dan Mala melepaskan pecahan piring yang belum selesai kubereskan.

"Mas, suara tangisan wanita, kamu dengar nggak?" tanya Mala. Aku terdiam, dan membalasnya hanya dengan mengangguk diiringi melanjutkan buang pecahan piring tadi.

Aku berdiri dan membuangnya ke tempat sampah. Suaranya semakin santar, tangisan itu terdengar semakin dekat. Siapa yang maghrib begini nangis merintih seperti itu.


"Kamu di sini ya, aku cek ke kamar mandi belakang, sepertinya dari arah sana," seruku sambil melangkah, tapi Mala tak berani ditinggalkan, ia mengikuti langkahku sambil mendekap seperti ketakutan.


Setibanya di depan kamar mandi, suara air mengalir mulai terdengar. Namun, suara tangisan itu berhenti.

"Mas, suara tangisnya berhenti," ucap Mala.

"Iya, berhenti tapi di toilet ada suara air mengalir, perasaan tadi nggak ada suara air, apa ada orang ya di dalam?" tanyaku.

"Lah tanya aku sih? Ini kan bukan rumahku," pungkas Mala.

Tadi ia mengaku ini rumahnya, sekarang malah mengelak bukan rumahnya.

"Oh iya ya, ini kan rumah Dewi," ejekku.

"Nyebelin banget sih, Mas. Ini rumahku loh, sebentar lagi kan atas namaku," sanggahnya.

"Tadi kamu bilang bukan, gimana sih!" 

"Iya ini rumahku, tapi kan nggak pernah tahu se angker ini, Mas. Kok kamu nggak bilang sih?" tanya Mala.

Ini kedua kalinya aku injakan kaki di sini, waktu bermalam di rumah ini untuk mengecat rumah, tidak ada kejadian aneh apalagi menyeramkan. Kenapa sekarang jadi angker begini?


"Nggak, rumah ini nggak angker, apa karena ada kamu ya, penunggunya nggak suka wanita?" Aku bertanya-tanya pada Mala yang juga keheranan.


"Mas, jangan nambahin aku jadi ketakutan, jantungku udah berdetak tak karuan, harusnya kita bulan madu, ini kenapa jadi begini?" 

"Bulan madu apa, kamu kan udah tekdung duluan, kita dah sering begituan Mala!" tegasku. Aneh sekali Mala ini, lupa jika kami sering melakukan hubungan suami-istri di hotel kadang di kantor pun jadi.


"Mas, ini beda cerita, kita udah sah loh, rasanya beda dengan yang kemarin-kemarin pastinya," celetuk Mala yang masih agak polos dan lugu, inilah yang kusuka, ketimbang Dewi yang teramat cerdas, hingga banyak aturan yang ia buat di rumah. Buatku, Mala itu hiburan di saat aku suntuk dengan Dewi. Setiap kali bertemu dengannya, ada saja yang bisa membuatku tertawa.


"Iya, sudahlah, lebih baik kita buka pintu kamar mandi ini, biar tahu ada orang apa nggak di dalam," ajakku sambil menarik tangannya.


Krekek ....

Bunyi pintu mengalahkan suara air yang mengucur sejak tadi.

Kulihat keran terbuka tapi tidak ada orang di dalamnya. Aku menoleh ke arah Mala, lalu mematikan kerannya kembali.

"Aneh, nggak ada siapa-siapa di dalam," cetusku.

Wajah Mala semakin ketakutan, tangannya mengelus perut yang berisikan janin hasil perbuatan zina kami berdua.


"Mas, kita pulang aja yuk, kasihan nih bayi kita ketakutan juga nantinya," rengek Mala lagi. Kemudian, tangisan itu muncul lagi.


"Tangisan itu muncul lagi, Sayang, kamu yang tenang, ya. Aku coba keluar ke rumah Pak Dika, menanyakan apa di sini beneran angker? Kalau iya, kita nggak usah tinggal di sini," usulku.

"Ide bagus, Mas. Ayo!" ajak Mala.


Setelah kedapatan beberapa kejadian aneh di rumah baru kami, akhirnya aku putuskan untuk menanyakan langsung pada si pemilik pertamanya. Jangan-jangan rumah ini dijual karena angker.


Baru melangkah ke ruang tamu, tiba-tiba lampu mati semua.

"Astaga!" teriak Mala terkejut. "Mas, aku takut gelap, aduh bisa pipis di celana aku, Mas," lirih Mala.

"Iya sebentar, aku ambil ponsel untuk nyalain senternya," ujarku sambil merogoh saku celana lalu meraih ponsel. Namun, aku dikejutkan dengan tangan yang menempel di bahuku.

"Mas, buruan nyalain senternya," suruh Mala.

"Sayang, kamu pegang bahuku?" 

"Nggak, Mas, tanganku kan di samping kamu, nggak mau lepas aku, Mas," sahut Mala membuat jantungku berdegup kencang. Kalau Mala tidak memegang bahuku, lalu tangan siapa yang berada di bahu ini?


Aku menelan salivaku, dengan bulu kuduk yang sudah mulai berdiri.

"Sayang, ini ada yang megang bahu, Mas," ucapku gemetar.

"Mas, jangan becanda, aku udah kebelet pipis nih, jangan sampai pipis di sini jadinya," sambung Mala tambah ketakutan.

Aku pun menghela napas dan coba memberanikan diri untuk menoleh ke belakang sambil menyalakan senter ke arah belakangku.

Bersambung

Tembus 100 love gercep bikin bab 5