Harus Berani Ngomong
Majalengka, tahun 2004

Saat naik ke kelas 6 SD, pembullyan verbal dan fisik bertubi-tubi saya alamin dari temen cowok baik itu temen sekelas maupun adik kelas.

Hari itu persis di bulan-bulan terkahir di tahun 2004 sebelum kejadian tsunami aceh meletus. Pada siang hari dijam istirahat kedua antara jam 11.00- 12.00 WIB.

Setelah saya makan roti harga 500 perak dari warung belakang sekolah. Saya lewat tepi lorong sekolah sendirian dan dihadang sekelompok bocah adik kelas. Ada 4-5 orang waktu itu, diantara nama yang masih saya ingat waktu itu adalah Akbar, solihin, deden, dan 2 orang lainnya.

Akbar dan deden langsung menghalangi jalan saya sambil bilang.

" hei ban*i, lu berani lawan kita". Sebut deden sambil mengepalkan tangan.

" Apa-apaan lu, emang gue salah apa?! " kata saya membela.

" Minggir kalian! Gue mau masuk kelas, jangan cari ribut!". Sambil menepiskan tubuh gede dedeb dan akbar.

Tiba-tiba saya langsung didorong tubuh sayake tembok sekolah dan  dua orang lainnya memegang kedua tangan saya setelah saya terpental dari tembok.

Akbar  langsung meremas kerah saya, dan sedikit memekik leher saya. Dengan suara serak basahnya dia nyeletuk.

" Gue gak takut sama lo ban*i. Dasar lo benc*ng." Muka nya didekatkan ke muka saya dan percikkan ludah nya mengenai muka saya.

Lalu saya mencoba melepaskan kedua tangan saya tapi sulit, deden pun menampar pipi kanan saya, sedangkan akbar menampar pipi kiri saya.

Saya marah. Lepasss! Brengsek!

Tiba-tiba saya bisa melepaskan tangan saya dari cengkraman dua bocah itu. Kedua bocah itu terpental, deden dan akbar merasa takut saat saya mulai marah.

Solihin pun lari duluan sambil bilang " weuy ada guru, ada guru". Dia lari ke belakang sekolah.

Akbar dan deden pun berlarian berikut kedua orang lainnya. Mereka berlari sambil menoleh ke saya dan ngejek-ngejek.

" Ban*i, ban*i lemah! "
" si kurang makan!"
" Si anak melarat !"

Mereka sedikit menggoyangkan bokongnya dan senyum puas sudah membuli saya.

Saya hanya terengah dan menghela nafas sambil berdiri lunglai.

Waktu itu dengan jelas, air mata saya hampir terjatuh dan berpikir.
" Adik kelas aja berani bully saya sampe ke kekerasan fisik gitu, saya ini sebegitu lemah dan gak ada wibawa kah?"

Teeeeeett!!

Tiba-tiba bunyi bel masuk sekolah berbunyi. Saya langsung merapikan kerah yang kusut dan mengusap air mata yang sempat jatuh. Lalu bergegas masuk ke kelas.

Kejadian itu saya gak adukan ke wali kelas maupun ku ceritakan ke kedua orang tua saya ataupun kakak saya.

Saya gak tega untuk menceritakan hal itu, karena ibu sibuk mengurusi kedua adik saya yang masih kecil. Apalagi ke ayah yang selalu pulang sore dan sering kelihatan lelah cari nafkah.


Setiap kali mengingat ini, saya mau menangis karena saya selalu merasakan betapa gak ada yang peduli dan merasa gak berharga saat itu.

Tapi saya bersyukur sudah melewati kejadian itu dan pelajaran berharganya adalah, menghargai diri sendiri dan berani menyuarakan apapun yang membuat harga diri kita terinjak-injak. Sepahit apapun dan mau dikondisi apapun.

Kita adalah bangsa yang gak enakan, korbannya saya yang waktu itu gak enakan buat ngomong apa yang menimpa saya ke keluarga atau pun guru saya.