2 - Dia Yang Salah, Dia Yang Marah

Jangan lupa tekan tombol BERLANGGANAN dan FOLLOW AKUN ya.😘


"Saya ke toilet sebentar ya. Mbak lihat-lihat dulu koleksi saya yang di lemari etalase atau di majalah ini dulu ya."

"Oke, Mbak."

Kulangkahkan kaki ini cepat menuju ruangan yang berfungsi sebagai kantor. Kututup pintu dan menyandarkan tubuh di sana. Hancurnya hati ini mengetahui suami mendua di tengah kehamilan yang sudah mendekati kelahiran. Bahkan sudah mau menikah pula.

Kuremas dada. Betapa sakitnya kenyataan ini, Ya Rabb. Mas Hans dan keluarganya hidup di bawah tanggunganku. Semua biaya hidup Ibu dan adiknya yang masih kuliah, semua dariku.

Tok tok tok.

"Hilda ...." Suara Tiara.

Aku berbalik dan membuka pintu.

"Kamu baik-baik aja, Hil?" tanyanya khawatir.

Kugelengkan sambil mengusap air mata di pipi. "Nggak. Aku baik-baik aja, Ti. Kecewa dan terluka pasti. Tapi, aku nggak mau berlarut-larut."

Alis Tiara bertaut. "Maksud kamu?"

"Aku punya rencana untuk membalas Mas Hans."

"Kamu mau menggagalkan rencana pernikahan mereka?"

Aku menggeleng cepat. "Untuk apa, Ti? Biarkan saja mereka menikah. Nggak ada gunanya mempertahankan orang yang jelas-jelas nggak bisa mempertahankan kesetiaan. Sekali selingkuh, pasti mereka akan selingkuh lagi."

Tiara hanya bisa menghela napas. Dia sangat paham aku ini seperti apa. Kami sudah berteman sejak SMP.

"Yuk, kita balik lagi ke depan, Ti."

Begitu sampai di balik lemari kayu yang digunakan untuk menyimpan alat-alat jahit, langkahku dan Tiara terhenti.

"Hilda, itu 'kan Mas Hans?"

"Iya, itu memang Mas Hans."

"Memangnya dia nggak tahu ini butik milik kamu?"

"Kamu 'kan tahu, kalau Mas Hans berlayar bisa sampai setahun. Paling dikit juga enam bulan baru pulang. Dan butik kita ini baru empat bulan. Jadi, aku belum sempat ngomong ke dia."

"Astaga, ini sih judulnya kamu perancang baju nikah untuk suami dan simpanannya."

Aku mengangkat bahu seraya tersenyum pahit. "Dan itu bagian dari rencanaku, Tiara."

"Rencana apa sih, Hil?"

"Lihat aja nanti. Mendingan sekarang kita temui mereka?"

"Apa? Kamu yakin?" Tiara semakin bingung.

"Why not? Aku punya cara untuk menemui mereka. Tapi, cuma kamu aja ya. Kamu 'kan tadi belum kenalan sama perempuan itu."

Meski dengan perasaan bingung, Tiara menurut saja ketika dia kupakaikan wig berwarna coklat pirang, kaca mata dan masker. Semoga saja, Mas Hans tidak mengenali Tiara nantinya.

---

Sore itu juga, aku dan Tiara kembali ke Jakarta. Sesampai di rumah, segera kubasuh tubuh di bawah guyuran shower. Hari ini benar-benar melelahkan. Tiba-tiba, ulu hati ini berdenyut lagi. Membayangkan suamiku akan menikah dengan wanita lain. Apalagi, gadis itu sudah hamil juga. Itu artinya Mas Hans melakukan hal yang sama dengan gadis itu. Atau mungkin lebih liar dan panas?

Cepat kuusaikan ritual bersih-bersihku. Masih banyak hal yang harus diurus daripada menangisi nasib. 'Sabar ya, Nak. Kita akan lalui ini semua berdua. Mama akan selalu ada untukmu dan selalu melindungimu,' batinku lirih sambil mengusap perut.

Butik bridal-ku ini sudah cukup dikenal banyak orang, terutama di sosial media. Jadi, tak heran, jika butik di Bogor meski baru buka selama empat bulan sudah mendapatkan banyak pelanggan.

Akhirnya selsai sudah men-design pakaian-pakaian pengantin pesanan pelanggan. Untuk pakaian pelakor itu nanti-nanti saja lah.

Tak lama kemudian, pintu diketuk dan Mas Hans dengan pakaian seragam nakhoda-nya masuk. Tangan kanannya menarik handle koper. Sedangkan tangan yang satunya lagi entah menyembunyikan apa di balik punggungnya.

"Hai, Sayang."

Aku mengangkat kepala malas. Ketika ia hendak mencium dahi, cepat kupalingkan muka.

"Kamu kenapa, Sayang?"

"Nggak kenapa-napa. Aku lagi capek aja," jawabku datar.

"Kalau capek, ya kamu istirahat, Sayang. Ini buat kamu." Setangkai mawar putih dikeluarkan dari balik punggungnya. Aku mencebik sinis.

"Kamu suka?"

"Biasa aja."

Raut wajah Mas Hans sontak berubah. "Kamu kenapa sih, Sayang? Kamu marah sama aku?"

Bibirku mencucu. "Nggak, biasa aja. Mendingan kamu mandi sana."

Dengan mimik wajah bingung, Mas Hans meraih handuk di kapstok lalu masuk ke kamar mandi.

Selama Mas Hans di kamar mandi, aku segera menggeledah isi tasnya. Siapa tahu ada yang bisa kutemukan.

Benar saja, ujung jariku menemukan sebuah kotak. Ketika kutarik ke luar, ternyata sebuah kotak cincin yang terbuat dari kaca plastik. Di dalamnya ada cincin emas putih bermata berlian. Pasti ini cincin untuk wanita jal4ng itu.

Pintu kamar mandi terbuka. Mas Hans ke luar dengan celana boxer dan bertelanjang dada. Tangan kanannya menggosok rambut basahnya menggunakan handuk.

"Mas, ini cincin siapa?"

Lelaki berhidung mancung itu tercengang. Matanya bergerak liar, mencari alasan yang tepat.

"Itu ... Itu ...."

"Uuuh, kamu memang romantis banget. Makasih ya, Sayang." Kukecup pipi kanannya. Mas Hans tidak dapat berkata apa-apa. Ia hanya bisa meneguk ludah, melihat cincin yang seharusnya menjadi cincin mempelai wanita, malah jatuh ke tangan istri sah.

"Oh ya, Mas, mana kunci mobil?"

"Kunci mobil apa?"

"Ya, kunci mobil yang biasa kamu pakai lah. Itu lho, hadiah ulang tahun dari aku. Jadi yang mana lagi."

"Kenapa kamu tanya soal mobil?"

"Itu 'kan masih atas namaku. Udah gitu aku yang beliin juga 'kan? Suka-sukaku dong."

Mas Hans masih berdiri mematung. Enak saja, aku tidak akan rela mobil itu pindah ke tangan pelakor jal4ng itu.

"Mana, Mas?" Telapak tanganku bergerak membuka dan menutup ke arahnya.

Mas Hans akhirnya memberikan kunci mobil itu ke tangannku.

"BPKB-nya mana?"

Mas Hans menghela napas kasar. "Sama BPKB-nya juga?"

"Ya, iya dong."

"Ada di ruangan kerja bawah. Nanti aku kasih.

"Oke."

"Kenapa kamu tiba-tiba minta mobil kamu minta dan BPKB-nya pula. Nanti aku pakai apa?"

"Bukannya gaji kamu sebagai nakhoda itu gede. Kebutuhan ibu kamu dan Asty seringan aku yang ngasih 'kan? Ya, belajar beli sendiri dong. Jangan tergantung sama istri melulu."

Sontak wajah putih bersih itu berubah menjadi merah padam.

"Kamu ...." Tangan Mas Hans terangkat bersiap untuk menampar.

"Kamu mau nampar aku? Berani? Coba, ayo tampar!"


****



Jangan lupa tekan tombol LOVE dan review bintang lima yaa😘


































Komentar

Login untuk melihat komentar!