Part 1
SETELAH IBU PULANG

PART 1

|Ibu kena stroke, Rim? Kamu saja yang urus. Aku sibuk, Mbak Risa juga sama sibuknya, pasti nggak bisa mengurus ibu dengan baik|

Pesan dari Mas Oky kakak sulungku saat kuberitahukan padanya jika ibu sedang sakit dan minta tinggal bersamanya. Kini ibu memang terkena stroke dan harus memakai kursi roda untuk aktivitas hariannya. 

Ibu ingin tinggal di rumah Mas Oky, mungkin karena di sana lebih nyaman, Mbak Risa-- istri Mas Oky juga di rumah bahkan ada ART pula yang bisa dimintai tolong setiap saat, sementara aku bekerja sebagai guru honorer yang pulang siang hari. Kasihan ibu bila kutinggal sendiri selama aku mengajar.

"Gimana, Rim? Kakakmu mengizinkan ibu tinggal di rumahnya?" tanya ibu penuh harap. Air mataku menitik seketika saat menggelengkan kepala. 

"Mas Oky sibuk, Bu. Dia bilang, Mbak Risa juga sibuk jadi nggak bisa merawat ibu," ucapku tergugu. 

Aku tak bisa membayangkan bagaimana hati ibu saat ini, pasti terluka ditolak anak kandungnya sendiri. Namun ibu justru tersenyum tipis, menyeka kedua pipiku yang basah air mata. 

"Jangan menangis. Coba kamu telepon Mbak Diana. Mungkin dia bisa menerima ibu, di rumahnya juga ada Art, kan?" Ibu kembali berharap, anak keduanya mau menerima kehadirannya. 

Iya, Mbak Diana yang sudah sangat mapan dengan hidupnya. Bekerja di sebuah perusahaan dengan gaji lumayan, punya rumah cukup mewah dilengkapi perabot dan kendaraan lengkap. Suaminya bekerja di perusahaan tambang dengan gaji besar pula. 

Rumah Mbak Diana tak terlalu jauh dari sini, hanya sekitar dua puluh menit jika ditempuh dengan kendaraan. Sementara Mas Oky sedikit berbeda, sekitar empat puluh menit dari rumah ini. Namun ada persamaan diantara keduanya, sama-sama sudah mapan dan nyaman dengan kehidupan masing-masing. Jauh berbeda denganku yang bahkan rumah saja belum punya. Namun aku selalu bersyukur berapa pun rejeki yang DIA karuniakan. 

Berulang kali kutelepon Mbak Diana namun tak diangkat juga. Seperti biasanya, dia memang jarang mengangkat telepon dariku. Mungkin memang malas karena aku sering minta uang padanya. Bukan untuk mencukupi kebutuhanku, melainkan untuk berobat  atau membeli kebutuhan ibu di saat aku benar-benar tak memiliki uang sepeser pun. 

"Nggak diangkat, Bu. Biar kukirimkan pesan saja," ucapku pada ibu dengan senyum yang sedikit kupaksa. Ibu mengangguk perlahan. 

|Mbak, boleh kah ibu tinggal bersama Mbak Diana? Paling tidak sampai tengah hari saja, karena sekarang ibu kena stroke. Kasihan kalau aku tinggal di rumah sendirian saat aku mengajar. Di rumah mbak ada ART, kan? InsyaAllah bisa membantu ibu jika membutuhkan pertolongan| 

Gegas kukirimkan pesan itu pada Mbak Diana. Hanya beberapa detik setelahnya terlihat dua ceklis biru di sana. Sepertinya memang pesanku sudah terbaca olehnya. Kulihat dia mulai mengetik. 

|Nggak bisa dong, Rim. ARTku sibuk urus dua keponakanmu yang sedang aktif, dia juga urus rumah. Kalau ada ibu otomatis dia minta naik gaji. Gaji dia sudah cukup besar di rumah mbak. Lagipula cuma setengah hari gimana? Maksudmu sopirku harus menjemput ibu kalau kamu berangkat kerja dan antar kembali kalau kamu sudah pulang, begitu? Ribet!|

|Tapi, Mbak ... aku nggak tega ninggalin ibu sendiri di rumah. Mana sekarang ibu pakai kursi roda|

|Kalau sopirku tiap hari antar jemput ibu ya nggak bisa dong, Rim. Repot nanti, dia juga harus jemput adik Mas Gilang pulang sekolah. Kamu saja yang merawat ibu, suamimu kan sudah kerja. Kamu resign saja dan fokus merawat ibu| 

Air mataku kian meleleh membaca pesan balasan dari Mbak Diana. Bagaimana mungkin dia menolak ibu juga bahkan memintaku resign segala? Padahal dia tahu kalau Mas Adam suamiku hanya sebagai buruh bangunan dengan penghasilan minim. Aku harus membantunya mencari penghasilan tambahan untuk mencukupi kebutuhan. 

|Kalau aku resign, gimana bisa membangun rumah sendiri, Mbak. Bukan kah mbak selama ini minta agar aku cepet-cepet punya rumah biar rumah peninggalan bapak ini bisa dijual dan dibagi rata?|

Lagi-lagi kukirimkan pesan pada kakak keduaku itu agar dia bisa menerima kehadiran ibu. Tak tega rasanya melihat ibu kembali terluka saat melihat penolakan kedua anak kandungnya. 

Selama ini Mas Oky dan Mbak Diana selalu menyindirku soal rumah. Mereka bilang enak jadi aku dan Mas Adam yang tak perlu mengontrak bertahun-tahun karena sudah tinggal bersama ibu yang gratis.

Mereka sering menyindirku soal sewa kontrakan, entah apa maksudnya padahal semua juga tahu kalau ibu sendiri yang memintaku untuk tinggal bersamanya setelah bapak meninggal dua tahun lalu. 

|Kamu kan sudah enak tinggal di rumah tanpa menyewa, Rim. Masak ngurus ibu saja nggak mau? Rugi dong ibu ngajak kamu tinggal gratis di rumahnya!|

Deg. Ada nyeri yang menyelusup relung hati saat membaca pesan dari Mbak Diana barusan. Teganya dia berpikir sepicik itu pada adik kandungnya sendiri. 

|Astaghfirullah, Mbak. Bukan nggak mau, tapi aku kerja sampai siang. Kasihan ibu kalau kutinggal sendirian. Kalau butuh pertolongan gimana? Kalau ada apa-apa sama ibu gimana? Sementara di rumah nggak ada yang jaga|

Mbak Diana terlihat kembali mengetik balasan. Menunggu balasan darinya sungguh membuatku berdebar. Kira-kira apa yang akan diucapkannya lagi? Apa dia akan kembali melukai hati? 

|Kamu resign saja kenapa sih, Rim? Lagipula gajimu itu nggak seberapa. Dua tahun kerja honorer juga nggak punya tabungan apa-apa, jangan kan punya rumah beli motor second saja nggak bisa. Buat apa dipertahankan, lebih baik mengurus ibu di rumah| 

Kuhembuskan napas panjang membaca balasan yang Mbak Diana kirimkan. Tiba-tiba ibu meminta ponselku. Aku sudah berusaha melarang, namun dia tetap ingin membaca balasan dari kedua anaknya. 

Kulihat sudut matanya basah. Dihembuskannya napas panjang sembari mengusap lenganku perlahan. 

"Sabar ya, Rim. Ibu selalu mendoakan kamu dan Adam setiap waktu. Kalian anak yang berbakti meski hidup dalam kekurangan. InsyaAllah kelak kamu akan jauh lebih sukses dibandingkan kedua kakakmu." 

Ibu menyeka kedua pipiku yang semakin basah. 

"Jangan menangis. Kamu ngajar saja, ibu nggak apa-apa di rumah sendiri. Lagipula kamu juga cuma setengah hari, kan?" Ibu kembali tersenyum meski kutahu senyum yang terlalu dipaksakan. 

"Nggak, Bu. Nanti kalau tiba-tiba ibu ingin buang air gimana? Kalau ibu butuh sesuatu atau terjatuh gimana? Kalau memang Mas Oky dan Mbak Diana nggak bisa merawat ibu meski hanya setengah hari, lebih baik Rima resign saja. Fokus mengurus ibu, nanti kalau sudah sembuh, Rima melamar kerja lagi," ucapku sembari tersenyum, menyeka kedua sudut mata ibu yang basah.  

Pantas saja ada pepatah kasih sayang seorang ibu sepanjang jalan, kasih sayang anak sepanjang galah. Karena pada kenyataannya memang begitu. Banyak anak terkadang tak mampu mencintai dan merawat satu orang ibu. Haruskah aku membiarkan kedua kakakku sibuk dengan dunianya, sementara ibu sangat ingin bertemu mereka?

*** 

Love dan komennya jangan lupa ya, Kakak. Terima Kasih banyak 💕


Komentar

Login untuk melihat komentar!