Bab 5 Dengan siapa menikah
Aku sayang kamu
Bukan bearti mencintaimu
Kamu mau menikahiku
Bukan bearti meninggalkanku


Aku ingin kamu disini
Mengajariku cara mencintaimu
Aku ingin mulai dari awal
Tapi kau pergi tanpa ada kabar


Apa yang harusku lakukan
Agar kau kembali lagi
Temanilah aku dalam kesepian
Dalam suka maupun duka

*

Sudah satu minggu tidak ada kabar dari keluarga Farel, waktu itu mereka mengatakan bahwa Farel sudah melewati masa kritisnya tapi, sayang Farel belum sadar juga.

Semoga saja ia sempat sembuh, setidaknya ia sudah melewati masa kritisnya, tinggal menunggu ia sadar kembali.

Sampai sekarang belum ada tanda kabar  tentang Farel, jujur aku sangat khawatir dengan keadaannya sekarang ini, cuma doa yang bisa ku lafadkan untuknya.


Harapanku semoga Farel cepat sembuh, bisa memulai hidupnya kembali seperti semula, mendapat wanita yang ia cintai disana dan bisa melupakanku.


"Jann, woii!" teriak Fitri mengagetkan saja.


"Apaan sih lo!" ketus ku melihatnya menghampiriku, pasti ingin menanyakan tentang Farel.


"Lamun aja dari tadi gue teriak-teriak gak nyahut, rupanya lo di sawah, pasti lagi mikirin Farel 'kann?" tanyanya menelisik ke wajahku.
 
Tentu saja aku lagi mikirannya yang tanpa kabar, makanya agak khawatir juga sih, hush.

Apa lagi ada Fitri, menganggu saja.

" Apan sih! Siapa juga mikirin dia."
 
"Halah ngaku saja, gak usah ---"


"Gue lagi nikmati angin disini, lagi pula ---

" Atau bisa jadi lagi ingat All 'kan," malah nyebut Al lagi, dasar'kan bikin aku sedih saja.


Hushh.


"Pusing gue mikirin begituan, lebih baik mikir diri sendiri daripada mikir mereka yang gak ada jelas kabarnya," jelasku sambil melempar tanah ke sawah.


Aku menceritakan keadaan Farel di saat Maminya bilang waktu ituu sudah melewati masa kritisnya dan sudah mendingan dari sebelumnya walaupun belum sadar dan banyak hal lagi kami bicarakan berdua, sampai tentang Al pun belum ada kabarnya juga.


" Kalau Farel gak ingat sama lo dan ia menikah dengan wanita lain gimana?Hayoo," ucap Fitri ingin menakutkanku.


"Itu lebih baik, kalau  Farel lupa sama gue dan menikahi orang lain," aku lihat Fitri terkejut dengan jawaban aku.


" Emang lo gak takut kehilang Farel," aku hanya menngeleng saja.


"Keliatannya lo gak cinta deh sama Farel, pasti cinta lo sama Al kan," aku tidak menanggapi lagi dengan pertanyaan konyol itu, walau itu memang apa yang dikatakan Fitri.


"Kok gak jawab sih lo, baiklah kalau begitu," ucapnya meletakkan tangannya di dagu seolah-olah lagi mikir sesuatu.


"Bagaimana kalau Farel nikah saja sama gue, gimana cocokan daripada lo gak mau," lanjutnya dengan kepedaan.


'Awww' rintihnya.


Aku langsung menjidat keningnya. "Lo kalau mikir jangan ngawur, bilang saja sama Maminya Farel apakah ia mau punya menantu kayak lo."


"Yahh bantuinlah, gue hanya becanda kali, lagi pula gue udah ada gegebatan sendiri," ungkasnya.


"Terserah lo dehh," ketusku padanya.


Dret!  Dret!


"Bentar ya Jan, angkat telpon dulu," ujarnya aku hanya menangguk saja.


'Hallo Dev ada apa.' 


Pasti lagi bicara dengan Devan, Devan dia teman kelas ku dulu, waktu itu Devan sempat mengungkapkan perasaannya padaku tapi, aku tidak membalasnya dia selalu mendekatiku dengan tingkah konyolnya seperti menyembunyikan buku, pulpen atau menggangguku saat tidur, dia lucu asik orangnya, aku hanya menganggapnya sebagai teman gak lebih.


Di saat aku bersama Al begitu menyenangkan hari-hariku, bisa menghabiskan waktu bersamanya, andai kamu masih disini Al menemaiku saa ...


Dorr.

"Anak ayam, eh anak ay...."

Terkejut gara-gara Fitri mengagetkanku, aku mengusap dada.
"Apaan sih lo ngagetin gue saja."


"Dari tadi gue lihat, lamun teruss tuh Ibu lo manggil dari tadi, nyahut kek jangan mikir A --," aku langsung membekapkan mulutnya dengan tanganku.


"Diamm, jangan nyebut nama dia lagi!" geramku padanya.


"Jan, disini rupanya dari tadi dipanggil gak nyahut, terus kenapa tuh tangannya di mulutnya si Fitri tuh," aku langsung melepaskan tangan dari mulut Fitri.


"Masuk! lbu ingin bicara serius dengan kamu," kok aku jadi penasaran ya, pakek serius lagi apakah ada hubungannya dengan Farel ya.

Kalau itu tentang Farel, gak sabar rasanya mendengarnya, eh kok aku senang sih, haish ini gak boleh ada rasa untuknya, aku menggeleng kepala memikir yang aneh.


Aku langsung masuk duduk di ruang tamu sambil mendengar apa yang akan Ibuku katakan, awalnya biasa saja aku tannggapi masalah soal Farel tapi di ujung-ujungnya aku kaget.


" Pernikahan akan dilanjutkan di Jakarta."


" Apaaa!!" bagaimana gak terkejut rupanya pernikahan akan dilanjutkan.


"Tapii, bukan dengan Farel dia masih belum sembuh total," lanjutnya lagi meninggalkan aku sendiri yang sedang syok.
Ini gak mungkin, masak bukan dengan Farel, apakah ini hanya prank mereka saja, kalau itu memang bukan dengan Farel gimana.

Tidak, tidak! Tidak mungking orang yang lain yang menggantikan, aku tidak bayang apa yang akan terjadi selanjutnya nanti, aku hanya menggeleng kepala seolah-olah itu tidak benar.

Semoga saja ini tidak benar apa yang dikatakan lbuku barusan.

Sebaiknya aku pingsan saja, semoga saja pas bangun ini hanya mimpi belaka
sebelum pingsan hitung dulu sampai 3 dialam hati.


1
2
3


Bersambung....

Jangan lupa like,komen dan krisannya ya.