Bab 9 Hasutan Tante Mita

#Cinta_Terpaksa
#Part_9

Setelah mengepel lantainya tadi, aku memasuki kamar yang berada dibawah dan langsung mandi sambil beristirahat.

Sungguh lelah tubuh ini, tidak tahu apa-apa, tidak melakukan kesalahan yang fatal tapi, kenapa tidak dicari dulu apa yang terjadi.

Bukan malah kasih aku hukuman untuk mengepel lantai, sebelum tahu apa yang terjadi sebenarnya, tidak seperti dibenaknya yang menilai diriku buruk sekali dimatanya.

Hush!

Sungguh menyebalkan hidupku disini, bagaikan di api neraka saja.

"Princes,  Oma datang sayang," seperti biasa Mita tantenya Faris datang kesini, apa lagi Faris, sudah keluar dari tadi, entah pergi kemana.

"Ingat! Ya Princes, kamu jangan menganggap si perempuan kampung itu sebagai lbu kandungmu, walau sekedar memanggilnya sebagai lbumu sendiri, tidak boleh juga."

"Emang, kenapa Oma?" tanyanya polos.

"Karena lbu, sambung itu sangat jahat sama anak tirinya, suka membentak, memukul, dan satu lagi, dia akan mengambil, Papa darimu! Emang Princes, mau kehilangan Papa lagi setelah perginya Mama ?" tanya Mita yang selalu menghansut Princes, agar bisa membeciku dan ia bisa menyingkirkanku dari rumah ini.

Aku memang tahu diri, kalau aku berasal dari keluarga miskin tapi, bukan begini juga caranya, jangan sampai membuat Princes, benci padaku untuk menghasutnya, keluarga macam apa ini ? yang aku hadapi.

Jikalau ia benci padaku silahkan tapi, jangan melibatkan anak kecil juga ikut tidak suka padaku.

"Princes, tidak biar'kan orang kampung itu membentakku atau memukul diriku, dan tidak kubiarkan dia mengambil Papa, sebelum dia tahu siapa diriku yang telah berani mengambil Papa, dariku Oma.

Dan hadir dalam kehidupan Princes, dan akan membuatnya menyesal Oma, telah memasuki keluarga yang salah," ujar Princes dengan kelicikannya, yang sudah berpengaruh oleh omongan Mita.

Aku bisa mendengarnya, karena tidak jauh dari kamarku mereka berbicara, setelah itu mereka pergi entah kemana.

Aku tahu, pasti Mita dengan Princes, akan merencanakan sesuatu untuk mengerjainku atau mungkin kali ini ingin mencelakaiku.

Princes, tidak akan melakukan ini, jikalau tidak yang menyuruh, saat mengerjain aku itu membuatnya candu, seakan aku ini mainannya yang begitu buruk di matanya.

Sungguh, menyebalkan hush !.

***

Lagi enak santai, sambil makan cemilang dan menikmati angin yang begitu sejuk, sehingga mengenai wajahku yang membuat diri ini semangat dalam menghadapi esoknya.

"Janna, dipanggil sama Princes didalam," aku menoleh, ternyata bibik.

"Ada perlu apa ya bik, Princes memanggilku ?" tanyaku heran, karena tumben sekali memanggilku.

"Tidak tahu juga Janna, coba samperin nggih, siapa tahu lagi butuh perluan Janna," jawabnya, tidak membuatku puas apa yang dikatakan.

"Oh, baik bik, akan segera Janna, samperin," ujarku padanya.

"Baik Janna, semoga saja Princes, sudah menerima kamu sebagai lbu sambungnya," ucapnya yang begitu perhatian.

"Aaminn, mudah-mudahan saja bik," jawabku walau gak yakin sih, cuma bibik Surmi yang perhatian padaku, pelayan yang lain entah, kenapa acuh sekali.

Emang aku kelihatan jahat ya, atau akibat pengaruh hasutan tante Mita pada mereka juga.

Tanpa panjang, aku langsung menuju kekamar Princes, yang berada dilantai dua, entah drama apa lagi yang ia lakukan dan direncanakan selanjutnya.

Tok! Tok! Tok!

"Masuk," sahut dari dalam, setelah mengetuk pintu tiga kali.

"Tumben Princes, memanggil saya kesini, ada perlu apa lagi nih?" tanyaku memastikan.

"Atau ..., rencana apa lagi yang kamu mau lakukan, untuk saya Princes ?" tanyaku lagi, yang melihatnya masih diam, apa benar dugaanku dia ingin mengerjainku ya ? , tanya batinku, merasa aneh dengan Princes.

Itulah kebiasaannya kalau ada hal- hal aneh maka, tidak heran memanggilku jikalau bukan untuk dikerjain lagi.

"Ambil'kan bajuku diatas ," suruhnya dengan muka biasa saja. Apakah ia benar sudah menerimaku sebagai lbu sambungnya, ya? Tanya hatikuku.

Tanpa mencurigainya, aku membuka lemari, pas menyelusupi di sela bajunya tiba-tiba ....

"Aaaa ...." teriakku sungguh sakit.

"Kau, sungguh belum puasnya Princes !!" teriakku yang sudah pergi dari kapan, mungkin disaat aku mau muka lemari, dia sudah berlari.

Bagaimana gak sakit, didalam lemarinya ia taruh alat perangkap tikus, saat mengenai tangan itu sangat menyakitkan.

Ini pasti kerjaan tante Mita, batinku.

Aku hanya bisa menghela napas dengan kasar untuk hal yang menggilakan ini.

Sebelum itu, aku harus bicara berdua dengan Princes, karena aku bukanlah lbu yang kejam yang ia pikirkan dan didengar dari orang lain, termasuk tante Mita.

"Princes !!" teriakku memanggill.

"Cepat keluar, saya ingin berbicara denganmu berdua saja, dimana kamu?
Sebelum menjadi kesalahan pahaman yang terus-menerus, mari kita bicarakan baik- baik, sebelum kamu menyesal nantinya !" geramku, entah dimana dia sekarang.

"Janna, Princes kenapa? Sampai ia berlari dan menelpon tuan muda Faris ?" tanya bibik, disaat aku sudah di anak tangga terakhir.

Aku tidak menjawab ucapan bibik, yang aku mau Princes, untuk saat ini. Entah apa lagi yang ia mengadu pada Papanya.

"Jan, Janna ! Dimana kamu! " teriak dari luar, itu pasti si Faris, cepat sekali ia pulang, hanya demi anak kesayangan yang selalu dibela, tanpa mencari tahu siapa yang salah dan benar.

"Apa yang kamu lakukakan hah !" teriaknya sesudah sampai didepanku, apa lagi dengan nafas ngos-ngosan, dan rahang yang mengeras menampakkan urat-urat yang menonjol, sungguh Papa idaman untuk anak-anak, tapi caranya yang salah oleh anaknya sendiri.

"Menurutmu apa yang terjadi dan dilakukan Princes, padaku !" tantangku.

"Apa maksudmu hah !" pura- pura tidak tahu apa-apa lagi, ingin rasanya menampar tapi, tanganku masih sakit.

Lagi pula aku juga tidak berani menyentuh sedikit saja kulitnya apa lagi hatinya , hehe.

"Tanya saja sama anakmu sendiri ?."

"Kamu jangan macam-macam ya, Princes sudah menceritakan semuanya, kau telah menyakitinya dan membuatnya ketakutan saat ia menelponku !" geramnya.

"Siapa yang menyakitinya dan siapa yang tersakiti disini ? Apakah anda tahu, ahh mana mungking anda tahu, yang ada cuma anakmu yang tersayang kau bela'kan, ya tentu sajalah ," ujarku.

"Yang jelas Princes, takut dengan kelakuan kamu tanpa penuh dengan kelbuan, pada umum lainnya, seakan-akan kamu yang tersakiti disini ," ucapnya yang mulai tenang, sedangkan Princes entah kemana perginya.

"Masak, sih."

"Saya harap kamu akur dengan Princes, dan saya tidak mau mendengar lagi kalau Princes tertekan olehmu, kalau terjadi apa- apa padanya, awas saja !" ahh, dia mulai mengacam, sampai menunjuk wajahku dengan telunjuk jarinya, uhh takut tapi, boong, hehe ....

"Kau sungguh egois, hanya memikir diri dan anakmu sendiri, tanpa memikir perasaan orang lain dan kebenarannya yang terjadi sesungguhnya," ucapku yang mulai sesak dengannya.

"Emangnya, kamu siapanyaku ? Ingat! ya, aku tidak perna ---"

"Yah, aku tahu diri, yang hanya singgah disini sementara dalam menyelamatkan sebuah kehormatan di keluarga ini.

Dan cuma sekedar status dikertas saja, untuk mengisi hariku yang penuh menyedihkan bersama anda yang sungguh egois dan terserah anda, apa maunya lagi ," ujarku , tanpa mendengarnya lagi, sungguh lelah menghadapi sikapnya yang tidak mau kalah.

Kebenaran selalu dia ucapkan walaupun itu salah tanpa mengetahui kebenarannya.

'Gimana caranya aku akur dengan Princes, jikalau saja ia tidak mau berbicara, sanking benci dan takut terhadap lbu tiri, ia selalu membuat masalah terhadapku.

Seakan-akan diri ini ibarat debu yang harus disingkirkan di rumah yang besar ini, sebelum menyakiti yang lain dan membuat yang lain tidak nyaman, ucap hatiku' .

Kepala pusing dalam memikirkan keesoknya, aku kangen kamu Al, entah gimana kabarmu sekarang.

Dan kamu belum sadar juga Rel, inilah ulahmu Farel, telah membuatku menderita didalam keluargamu yang penuh drama ini.

Tidak butuh waktu lama, aku tertidur saat mengingat lelaki dimasa lalu, dan terjebak dikeluarga Farel, akibat kau kecelakaan.

Bersambung.

Jangan lupa krisannya ya.