Pembicaraan Tengah Malam di Telepon
"Jadi, Kenzo. Kamu bisa cerita sama Mama sekarang," ucap Firda saat mobil Nunik telah menjauh.

"Apa yang harus aku ceritakan, Ma?"

"Ken. Berhenti bermain-main."

Firda menatap putranya dengan kesal. Pada saat seperti ini, bisa-bisanya Kenzo bercanda.
"Aku nggak main-main. Aku memang nggak ingat sama semua kejadian semalam."

"Ya sudah. Kalau begitu, apa yang terakhir kamu ingat?"

"Aku meeting. Bareng klien dari Jepang. Karena aku mengerti bahasa mereka, jadi aku turun tangan sendiri."

"Di mana? Sama siapa saja?"

Kenzo terdiam. Ia kemudian mengambil kunci mobil dan membawa mobil itu ke garasi bagian dalam.

Firda hanya terdiam saat melihat putranya mencuci mobil, karena pada dasarnya ia sendiri tidak tahu apa yang harus dilakukan.

*****

Sandrina turun dari taksi. Ia mendapati teras rumah kosong, lantai garasi mobil berada dalam kondisi basah. Ia pun kemudian masuk ke rumah, menemui Fitri dan juga Milo.

"Papa dan Nenek ke mana, Fit?" tanya Sandrina kepada Fitri yang sedang menonton televisi.

"Nggak tau, Tante. Tadi habis cuci mobil, pergi gitu aja. Nggak pamitan. Pakai mobil sendiri-sendiri sih."

Sandrina melihat ke arah Milo. Anak laki-laki itu sedang sibuk dengan mobil-mobilannya.

"Milo, sudah malam. Yuk kita tidur," ajak Sandrina.

Milo segera merapikan mainannya, begitu juga Fitri. Mereka berdua mengikuti Sandrina ke kamar. Sandrina pun merasa hari ini sangat melelahkan, dengan cepat mereka bertiga tertidur.

Pukul satu tengah malam, Sandrina terbangun. Ia keluar kamar, menuju kamar mandi. Setelah itu ia membuka kulkas dan mengambil segelas air. Malam begitu sepi, tetapi telinga Sandrina mendengar suara seseorang berbicara.

Sandrina merapatkan diri ke dinding kemudian mengintip dari jendela. Ia melihat Kenzo sedang menelefon di teras samping rumah. Sandrina berdiri terdiam, mencoba fokus mendengarkan obrolan Kenzo.

"Kamu keterlaluan! Kenapa tiba-tiba seperti ini?" ucap Kenzo.

Sandrina tetap menyimak.

"Seharusnya kamu bilang dulu ke aku. Jangan tiba-tiba. Orang-orang rumah jadi curiga."

Kenzo terdiam, mendengarkan omongan dari lawan bicaranya di telepon.

"Nggak semudah itu menyingkirkan Nunik. Kamu pikir dia wanita bodoh? Yang ada dia bisa semakin frontal."

Sandrina menutup mulut dengan kedua tangannya saat mendengar kata-kata Kenzo.

"Langkah kamu sembrono. Hampir saja kacau semua. Lagipula ada satu orang lagi yang lebih penting untuk disingkirkan ...."

"Sandrina! Ngapain kamu di situ?"

Sandrina terperanjat karena pertanyaan Firda yang tiba-tiba.

"Eh, nggak. Nggak ngapa-ngapain, Bu," jawab Sandrina gugup.

"Jangan bohong!"

"Saya nggak bohong. Saya cuma mau liat ada siapa di teras samping. Saya pikir maling. Nggak taunya Bang Kenzo."

Sandrina melangkah berlagak tidak peduli dari ruangan itu, meninggalkan Firda.

"Kenapa, Ma?" tanya Kenzo yang baru saja masuk.

"Kamu ngapain sih malem-malem terima telepon di teras? Dikira maling tuh sama ade ipar kamu!" omel Firda.

Sandrina terus berjalan menuju kamar. Ia pura-pura tidak melihat ke arah Kenzo saat ia melewati kakak iparnya itu. Sedangkan Kenzo menatap Sandrina dengan tajam.

Sandrina masuk ke kamar dan langsung menguncinya. Ia segera memastikan jendela pun dalam keadaan terkunci. Ia dan anak-anak harus berada dalam keadaan aman.

Di atas ranjang, ia duduk sambil termenung. Kejadian hari ini begitu banyak yang mengganjal.

'Rambut penuh darah di bagasi itu sudah paling aneh, terus menyingkirkan? Bang Kenzo mau menyingkirkan siapa? Ya ampun. Mbak Nunik, kamu tuh nikah sama orang seperti apa sih?'