Darah di Bagasi Mobil
Nunik memutar balik mobil, ia tidak mau mengambil risiko bertemu polisi. 

Jarak yang ia tempuh belum terlalu jauh meninggalkan rumah. Sambil tetap menyetir, Nunik memasang bluethooth ke telinga dan menghubungi Lala, sekretaris lainnya di kantor Kenzo.

"Lala!" panggil Nunik saat telepon mereka terhubung.

"La, apa Ilona ke kantor hari ini? Apa? Nggak masuk? Kalau begitu, tolong kamu cari tau di mana Ilona berada!"

Nunik sengaja menyingkat pembicaraan di telepon karena ia sadar pikirannya sedang kacau. Ia tidak ingin terjadi apa-apa saat ia membawa mobil.
Nunik tiba di depan rumah dan kembali memasukkan mobil ke garasi. Masih dengan penuh rasa kesal ia membanting pintu rumah.

"Mana Kenzo?" tanya Nunik pada Firda.

Firda membalas Nunik dengan tatapan mata tidak suka.

"Ngapain kamu cari anak saya? Sebaiknya kamu pergi saja, bawa ketiga anak dan juga adik kamu itu," ucap Firda sinis.

"Enak saja kalau ngomong. Sudah jelas ini rumah saya. Dasar nggak punya malu," balas Nunik ketus.
Firda tidak peduli dengan ucapan Nunik. Ia kembali fokus dengan ponsel di tangannya.

Nunik kembali berteriak memanggil-manggil nama suaminya.

"Mbak Nunik," panggil Sandrina.

"Milo tidur, Mbak," lanjut adik semata wayang Nunik itu sambil meletakkan jari telunjuk di depan bibirnya. 

Ia telah susah payah menemani keponakannya yang berumur lima tahun itu untuk tidur, jelas saja ia meminta Nunik untuk mengecilkan volume suaranya.

Nunik menarik napas panjang. Ia sadar bahwa kelakuannya dari pagi memang tidak dapat dikendalikan.

"Nggak bisa, Din. Ini urusan gawat. Fitri sama Varen, di mana?" tanya Nunik.

"Fitri masih belajar. Varen tidur juga. Badannya agak demam," jawab Sandrina.

Nunik mengangguk. Kemudian ia mengambil ponselnya yang bergetar di dalam saku.

'Bu, Mbak Ilona nggak ada kabar seminggu terakhir ini. Orang-orang di kosannya juga nggak tau ke mana dia.'

Sebuah balasan pesan ia dapatkan dari Lala, menjawab permintaannya saat Nunik telepon tadi.
Nunik membuang napas kasar, kemudian ia berjalan menuju kamar. Benar dugaannya, Kenzo sedang tiduran di atas ranjang.

"Kurang ajar! Bangun kamu!" maki Nunik sambil melempar bantal ke wajah Kenzo.

"Nunik! Kamu itu cari ribut terus," bentak Firda. Ia sudah tahu bahwa Nunik akan mencari gara-gara lagi terhadap Kenzo.

"Bangun! Aku bilang bangun. Kenzo!" teriak Nunik lagi.

"Astaga, Nik. Kepalaku pusing sekali," jawab Kenzo saat ia membuka mata.

"Jelaslah kamu pusing. Habis ngapain saja kamu sama Ilona? Kamu apain dia?"

Nunik berdiri tolak pinggang sambil marah-marah kepada Kenzo.

Kenzo memijat kening dan berusaha membuka mata. Kepalanya benar-benar sakit. Sekuat tenaga ia berusaha mencerna pertanyaan Nunik.

"Aku nggak tau di mana Ilona sekarang."

"Halah. Ngeles aja kamu. Anak orang ditenteng sana, tenteng sini. Sekarang bilang nggak tau."
Firda menghampiri Nunik kemudian mendorong bahu Nunik.

"Kamu ini didiemin malah ngelunjak ya, Nik. Suami lagi istirahat, diajakin berantem lagi."

Nunik beralih ke arah Firda. Masih dengan emosi yang membuncah di kepala.

"Ibu tau nggak apa yang sudah anak Ibu lakuin?" bentak Nunik. Ia tidak peduli lagi dengan status dan perbedaan usia di antara mereka.

"Nggak pakai teriak berapa, Nik? Hah? Berapa? Menantu apa kamu itu? Berani-beraninya teriak sama orang yang lebih tua!"

Nunik mengepal kedua tangannya. Ia menahan diri agar tidak memukul Firda.

"Kalian yang buat aku bersikap seperti ini!" ucap Nunik, masih dengan nada tinggi.

"Sekarang Ibu bisa bela anak Ibu. Tapi aku mau liat, apa Ibu masih tetap membelanya setelah tau apa yang ia lakukan?"

"Memang apa lagi yang mau kamu tuduhkan ke anak saya? APA LAGI???"

Firda sudah tidak dapat lagi menahan emosinya terhadap Nunik. Ia seakan berniat akan melawan Nunik sampai titik darah penghabisan.

"Asal Ibu tau ya. Anak Ibu ini, selain menid*ri sekretaris pribadinya, kemungkinan besar dia sudah membun*hnya. Anak Ibu ini PEMB*NUH!!!"

Plakkk. 

Sebuah tamparan mendarat tepat di pipi kiri Nunik. Firda mencoba mengatur napasnya yang kian memburu. Ia tidak menyangka Nunik akan melontarkan tuduhan sekejam itu kepada putranya.

Nunik memegang pipinya yang terasa panas. 
Hampir saja ia kehilangan kendali. Nunik meraih tangan Firda dengan kasar kemudian menarik ibu mertuanya itu keluar rumah, menuju garasi.

"Lihat! Lihat mobil itu, Bu," ucap Nunik setelah membuka pintu mobil.

Firda menutup mulut dengan kedua tangannya.

"Belum puas? Sini. Ikut!" ucap Nunik lagi. Ia kembali menarik tangan Firda dengan kasar menuju bagasi.

"Tuh! Lihat bagasi mobil yang Kenzo bawa semalam. Astaga. Hampir saja aku ditahan polisi gara-gara anak Ibu!"

Firda semakin terkejut saat melihat banyak noda darah di bagasi mobil Kenzo. Selain itu, masih ada darah yang menetes dari sana.

"I-itu ... Itu darah semua, Nik? Kamu sudah buka bagasinya?"