Ingatan Kenzo
Kenzo muncul di garasi rumah. Wajahnya sangat berantakan. Ia mengerjapkan mata berkali-berkali. Kepalanya masih terasa berputar. Ia tidak yakin kalau sakit kepalanya ini berasal dari lemparan mangkuk Nunik. Ditambah lagi, ia bingung kenapa istri dan ibunya banyak bertengkar hari ini?

"Kamu boleh marah sama aku, Nik. Tapi tolong jaga sikap kamu ke ibuku," ucap Kenzo saat melihat Firda terduduk di tanah.

"Kamu sudah sadar? Heh, liat tuh, Bu. Anaknya sudah sadar. Sekarang mendingan Ibu tanya deh, itu darah apaan yang ada di mobilnya?" pinta Nunik, sinis.

"Ken. Kenzo. Bilang sama Ibu kalau kamu nggak ngelakuin seperti apa yang kami pikirkan, Ken," ucap Firda dengan sedikit gemetar.

Kenzo menatap bingung kepada kedua perempuan yang ada di hadapannya itu.

"Katakan, Ken. Katakan!"

Kali ini Firda yang berteriak kepada Kenzo. Kenzo memukul pelan kepalanya beberapa kali, berharap ia dapat mengerti apa yang sedang dikatakan oleh Firda dan Nunik.

"Ooh. Belum sadar sepenuhnya ya ternyata? Apa pura-pura nggak nyambung? Drama banget nih laki!" sindir Nunik.

Kenzo mendekati mobil, berjalan memutari sambil melihat keadaan mobilnya itu.

"Kenapa banyak bercak darah begini ya?" tanya Kenzo dengan wajah bingung.

"Hah? Hahahaaaa ... ternyata suamiku ini jago banget akting ya? Astaga. Selingkuh nggak ketauan, sekarang sok-sok-an nggak inget sama hal yang dilakuin semalem. Terus, besok-besok apa? Mau ngaku amnesia? Atau berkepribadian ganda?" ejek Nunik.

Firda menatap serius ke arah Kenzo.
"Ken, coba kamu ingat-ingat lagi apa yang terjadi semalam sama mobil ini."

"Halah. Sok lupa. Denger ya, Ken. Ini bukan masalah main-main. Ini sudah di luar jangkauan toleransiku sebagai istri. Aku nggak bakal mau ikut-ikutan kalau kamu sampai berurusan sama pihak kepolisian."

Kenzo melihat ke arah Nunik. Ucapan istrinya itu semakin membuatnya bingung. Namun ia pun tahu bahwa ini bukan hal sepele. Ia terus berusaha mengingat apa yang terjadi semalam dan dari mana darah ini berasal.

"Tapi aku benar-benar nggak ingat, Nik. Kok mobil ini bisa ada darahnya?"

Nunik kembali mencibir Kenzo.

"Apa perlu aku pancing supaya kamu bisa mengingat kejadian semalam? Gimana kalau kamu mulai dari kegiatan terakhir kamu bersama Ilona di atas ranjang? Ah, ya. Pasti gampang banget kamu bisa inget lagi tuh serentetan kegiatan kamu lainnya sama Ilona."

"Tapi semalam, aku nggak tidur sama Ilona, Nik."
Nunik memijat keningnya.

"Terus, kamu tidur sama perempuan mana lagi?"
Kenzo terperanjat, ia sadar bahwa ucapannya membuka kelakuannya selama ini di belakang Nunik.

"Enak ya jadi kamu. Benalu nggak tau malu," ujar Nunik, ia tak peduli Firda mulai menatapnya lagi.

"Nggak tau ah, Ken. Aku lelah menghadapi kamu. Urus saja urusanmu itu. Aku nggak mau terlibat."
Nunik berjalan dengan lunglai, masuk ke dalam rumah. Ia benar-benar merasakan lelah yang luar biasa.

"Kamu nggak bisa cuek gitu dong, Nik. Bantu Kenzo apa gitu," ujar Firda sambil menarik tangan Nunik, melarang menantunya itu lepas tangan.
Nunik memandang kemudian menepis tangan Firda.

"Urus saja anak Ibu itu."

"Kamu nggak bisa begitu, Nunik. Jangan-jangan kamu yang membuat mobil itu berdarah-darah. Kan tadi kamu yang bawa mobil itu terakhir. Kamu sengaja ya ngejebak Kenzo karena kamu marah sama dia?" bentak Firda, tenaganya sudah kembali.

Nunik menatap Firda kemudian tertawa sinis.

"Huh ... Bisa-bisanya aku punya suami dan mertua seperti ini. Dosa apa aku dulu ya?"

"Nunik!"

"Nggak usah teriak-teriak lagi, Bu. Tenaga saya sudah habis. Terkuras karena meladeni Ibu yang selalu membela Kenzo."

Kenzo tidak peduli dengan pertengkaran menantu dan mertua yang terjadi di depannya. Ia berdiri mematung di depan bagasi belakang mobil. Di mana darah terus menetes dari sana.

Kenzo mengulurkan tangan ke tuas bagasi. Secara spontan pertengkaran Nunik dan Firda berhenti.

Mata mereka mengikuti, memperhatikan dan menantikan apa yang akan Kenzo lakukan.
Kenzo menarik napas panjang. Kemudian tanpa ragu lagi, ia pun membuka bagasi mobilnya.

"Oh My God."

"Astaga."