Sassy Boy

Pagi yang indah seperti biasanya, tapi keheningan yang masih menggelayuti Peninsula itu terusik oleh pertengkaran dua orang cewek. Dari nada bicara mereka, sepertinya sedang terjadi pergelutan yang hebat.

"Enggak, Ar! Urus saja masalah elo sendiri! Gue juga punya tanggung-jawab yang lebih penting daripada sekadar mengurusi cewek manja pembawa masalah kayak elo!" teriak si suara sopran sengit. 

"Tolong gue, dong, Jel ... Elo sayang sama gue, 'kan?" Lawan bicaranya yang bernada alto terdengar mengiba. 

"Enggak! Gue lebih sayang sama diri gue sendiri! Sekarang enyah dan jangan pernah kembali sebelum masalah lo selesai!" jerit si suara sopran kehilangan kesabaran.

"Gue enggak mau pergi sampai lo mau tolong gue!" bantah si alto yang tampaknya keras kepala. "Kalau lo tega sama gue, jangan harap gue tetap manggil lo Angel. Seumur hidup gue bakal manggil lo Lucifer!"

"Emang gue takut? Elo enggak bisa ngancam gue seenaknya, Carlyle! Lo pikir gue wastafel buat cuci tangan semua kekacauan yang elo bikin sendiri? Gue juga manusia punya rasa punya hati jangan samakan dengan wastafel!" maki si sopran mulai melantur.

"Hhggh!" geram suara-suara itu berbarengan.

Suara sopran yang tak lain adalah Angel, memang pantas marah. Tiba-tiba saja Arla meminta bantuan yang merepotkan tanpa dibicarakan baik-baik dulu sebelumnya sama dia. Tanpa alasan yang jelas, Arla meminta Angel sebagai juru bicara untuk memberitahu ketiga finalis calon pacarnya kalau hasil audisi dibatalkan. Angel yang tegas-tegas tidak mendukung rencana Arla sejak awal, terang saja menolak kalau dia dilibatkan dalam masalah ini. Rengekan Arla pun tidak mampu meluluhkan hati Angel.

"ARLAAA ...."

Kedua gadis itu lantas bengong ketika seorang cowok berlari menghampiri mereka sambil memanggil nama Arla dengan mesra. Deg. Jantung Arla kemudian seakan berhenti berdetak ketika melihat wajah cowok itu. Rasa bernama deja vu tiba-tiba saja menyesaki dadanya. Siapa cowok yang mampu membuat hatinya ini berdebar seketika?

"Hai Arla, gue mau ngomong sama elo!" kata cowok itu sambil mengatur napasnya yang berantakan. Namun, mereka berdua jadi bingung karena cowok itu bicaranya malah ke Angel.

"Hei, gue ngomong sama elo! Elo budek, ya?" Cowok itu memaki Angel.

"Eh, elo yang rabun! Gue bukan Arla!" Angel lantas mencak-mencak. 

"Elo bukan Arla? Enggak mungkin."

"Jelas aja gue bukan Arla karena nama gue Angel! Gue Ketos, tau? Elo anak mana, sih, sampai kagak kenal status gue?" cerca Angel. 

Cowok itu menatap Angel tak percaya. Si baby face yang mungil ini ketua OSIS? Astaga, selama ini matanya ke mana saja saat orientasi siswa? Parah memang sampai dia tak bisa mengenali ketos sekolahnya sendiri.

"Sori, gue emang kagak tau kalau elo Ketua OSIS. Habis elo enggak punya tampang. Lagian rasanya juga enggak penting sampai gue musti tahu status elo."

Buset, ketus nian. Seumur hidup baru kali rasanya Angel merasa terhina. Cowok ini sama sekali tak punya perhatian sama lingkungan sekolah, ya? Memang dia tinggal di pedalaman rimba, apa?

"Jadi elo bukan Arla, 'kan? Aduh, syukur ... hampir saja gue bikin kesalahan fatal yang bakal gue sesali seumur hidup." 

Cowok itu malah berseloroh tajam dan membuat alis Angel miring 45 derajat. Habis ... mulutnya super nyelekit deh, enggak kenal rambu sopan santun. 

"Gue Arla! Siapa elo? Ada urusan apa?" Arla ikut-ikutan kesal dengan sikap cowok ini yang seenak udel. 

Perhatian cowok itu lantas terfokus pada gadis cantik di hadapannya. Dia menelusuri Arla dari kucir rambut sampai sepatu ketsnya.  

"Hehehe." Cowok itu malah tertawa geli. Ya ampun ... benar-benar enggak sopan ini orang!

"Gue malah berpikir kalau elo Angel ...," celetuknya salah tingkah. "Gue pikir Angel itu cantik seperti namanya. Ternyata enggak juga. Betul, ya, kata orang-orang kalau Angel kalah cantik dibanding Arla. Gue pikir mereka cuma bercanda."

"Apaaah??!" Angel berang luar biasa. Dasar cowok paling kagak tahu diri sedunia! Menghina terang-terangan di depan mata kepalanya sendiri. Arla yang biasanya sering meledek Angel pun kali ini berpihak pada sahabatnya. Mulut cowok ini musti ditatar tata krama!

Arla refleks meninju wajah cowok di depannya dengan sekuat tenaga. Angel pun kaget melihat sahabatnya yang baik hati dan lembut itu bisa galak juga. 

"Elo jangan ngomong sembarangan, ya? Angel sahabat gue yang paling hebat! Elo aja yang bodoh enggak bisa mengenali orang!" teriak Arla marah.

Angel kepingin menangis saking terharunya dibela begitu. Dia jadi menyesal kenapa tadi sempat menolak permintaan Arla.

"Aduh, ampun ... gue cuma mau ngomong sama elo, Lil," keluh cowok itu kesakitan. Kelihatan dari warna pipi kanannya yang langsung berubah menjadi lebam kebiruan setelah kena tonjok gadis itu.

"Lil? Darimana elo tau nama itu?!"

Arla yang tadinya cuma berniat membela Angel sekarang jadi marah kuadrat karena nama yang tak pernah ingin ia dengar lagi malah disebut-sebut. 

"Aaa, lepasin gue!" erang cowok itu menderita ketika Arla menarik kerah bajunya untuk memaksanya bicara. 

"Ayo cepetan ngomong elo siapa dan mau apa?!" desak Arla.

"Gue pengen elo jadi pacar gueee!" Cowok itu balas berteriak. 

Bruk.

Dan hasilnya, Arla mendorong jatuh cowok itu saking kagetnya. Di-replay, deh. Cowok ini tadi telah keliru mengenali orang, lalu menghina sahabatnya, dan sekarang tuh cowok nembak dia??? Nih cowok benar-benar gila, ya?

"Enak aja lo! Gue enggak bakal membiarkan sahabat gue pacaran sama cowok aneh kayak elo! Kayaknya pipi elo musti dibikin biru dua-duanya biar insyaf!" Giliran Angel yang marah. Pas mau digampar, eh ... cowok itu malah pingsan.

"Jel, lo apakan tadi?" tanya Arla cemas.

"Enggak ada!" ujar Angel kebingungan.

Kedua gadis itu menatap korban mereka yang sudah tidak berdaya. 

"Jel, kita kubur saja deh," usul Arla setengah serius.

"Oh iya. Benar juga. Ide bagus tuh. Orang kayak dia pantasnya memang dilenyapkan saja dari muka bumi. Kagak ada juga yang bakal menangisi dia," Angel menanggapi dengan enggak kalah serius. 

"Elo berdua gila, apa?! Masa gue mau dikubur hidup-hidup?!" 

Begitu mendengar niat Arla dan Angel, cowok itu berhenti pura-pura pingsan. Angel pun ngakak berat menikmati betapa puasnya sudah bikin wajah cowok itu pucat pasi, sementara Arla kembali melanjutkan interogasinya yang belum selesai.

"Cepetan elo bilang elo itu siapa jadi tahu nama 'Lil', dan apa maksud elo barusan nembak gue?"

"Ngomong baik-baik dulu, gih, elo belum dengar penjelasan gue ...!" protes cowok itu.

"Gue enggak mau ngomong sebelum lo jawab pertanyaan gue!" Arla bersikeras.

"Oke, oke. Gue akan cerita semua asal lo juga jawab pertanyaan tadi. Apa elo bersedia jadi pacar gue?"

"Kalau mau ikutan audisi, itu udah seminggu yang lalu, telat!" timpal Angel.

"Hehe ..." Cowok itu malah tertawa geli. "Asal elo berdua tahu, ya? Semua itu berkat jasa gue karena gue yang menyebarkan poster itu."

"Ooo, jadi eloo," celetuk Angel menyadari siapa biang keladi dari semua masalah ini.

"Ngapain lo nongkrong di bawah pohon beringin sendirian? Lo pikir lucu, ya, menakut-nakuti orang kayak gitu?!" Angel melampiaskan dendam kesumatnya.

"Gue yang mestinya marah karena lo berdua bertengkar di sana. Gue lagi nyari inspirasi tapi lo berdua malah mengusik ketenangan gue," sungutnya. Angel terperangah. Mencari inspirasi kok di bawah pohon beringin yang angker? 

"Ar, gue enggak rela kalau lo pacaran sama nih kunyuk! Kalau lo tetap nekat, berarti lo menari di atas penderitaan gue!"

"Ckck. Dramatis banget ...!" ejek cowok itu sambil memajukan bibirnya.

"Apa kata lo? Nantang ya???"

Arla pusing jadinya melihat Angel dan cowok asing itu malah sibuk berjibaku. Bukannya menyelesaikan masalah, dia malah dapat masalah baru. Diam-diam Arla memerhatikan cowok itu, kok kesannya deja vu banget, ya? Sepertinya dia pernah melihat cowok beralis dan berambut tebal itu sebelumnya. Wajahnya yang penuh tahi lalat seakan mengingatkan Arla pada seseorang. Tapi siapa? Dan semakin lama diperhatikan, cowok itu lumayan manis juga.

"Nama gue Joyan Ferdinand!" Cowok itu akhirnya menyebutkan namanya.

Sebelah mata Angel langsung menyipit mendengar sebuah nama yang cukup asing buat lidah orang Indonesia, sedangkan Arla sibuk mengingat-ingat kapan dia pernah mendengar nama itu.

"Dan gue sepupu lo!" Cowok itu menunjuk Arla.

"SEPUPU?!" pekik Arla dan Angel berbarengan.

"Elo jangan bikin lelucon murahan, ya? Lo sepupu gue yang mana?!" protes Arla. Enggak banget, deh.

"Gue anak Om Herlambang."

"Ups!" Arla menutup mulutnya saking terkejutnya. Dan cowok itu lantas tersenyum puas karena berhasil membuatnya tak berkutik lagi.

"Lo aja kali yang salah mengenali orang? Jangan percaya kata-katanya, Ar, dia enggak bisa dipercaya!" Angel memperingatkan.

"Iya ... gue ngaku! Gue tadi enggak yakin karena kami kan udah lama enggak ketemu?" Joyan membela diri.

"Benar yang dia bilang, Ar?!" kejar Angel. Anggukan Arla pun membuat sekujur tubuh Angel rasanya rontok. Oh sialan. Kenapa Arla mesti sepupuan sama cowok menyebalkan ini?

"Kok gue enggak tahu kalau selama ini lo sekolah di sini?" tanya Arla heran.

"Gue juga baru tahu kalau sepupu gue yang namanya Carlyle sekolah di sini. Awalnya gue enggak tahu kalo Arla itu adalah elo, Lil. Gue baru tahu kalau nama panggilan lo sekarang berubah. Yang gue ingat cuma nama belakang lo." Joyan menyalahkan Arla yang memang tidak menulis nama aslinya dulu di poster. Dan Arla balas melotot karena Joyan masih saja mengungkit-ungkit soal nama 'Lil'--panggilan yang diberikan Joyan untuknya dulu ... sebuah nama yang justru ia benci. 

Dia benci nama itu. Benciii .... sekali --Lilil--Jelek banget. Apalagi dulu Joyan mengucapkan lafal 'L' nya dengan super fasih. Nama itu diberikan oleh Joyan waktu mereka TK dulu, sampai akhirnya Papa memindahkan sekolahnya setelah tahu Joyan itu anak siapa dan mereka pun tidak pernah bertemu lagi sejak itu. 

"Tapi ... gue tetap enggak bisa sama lo. Gue sudah terlanjur memilih seseorang. Sumpah, gue enggak bisa ...." Alhasil, Arla malah jadi kepikiran soal penembakan Joyan. Dia ngerasa detak jantungnya mulai berdebar-debar tak bisa dikendalikan.

"Udah deh, Ar, elo kagak usah kagak enak begitu sama sepupu lo. Elo gila, deh, kalau sampai menerima dia! Sepupu lo aneh! Masa dia kepingin jadi pacar elo, tapi malah masang poster itu? Mestinya kan dia buang saja poster itu jauh-jauh!" Angel menatap Joyan dengan sinis.

"Baby doll, elo kagak usah ikut campur deh, gue enggak ngomong ke elo!" timpal Joyan ketus.

"Elo jangan kege-eran banget jadi orang, deh, Joran! Siapa sudi mengurusi lo?" balas Angel enggak kalah nyelekit memelesetkan namanya, tapi Joyan berkuping tebal.

"Udah, brenti, enggak ada gunanya bertengkar terus!" Arla melerai lalu menatap mata Joyan tajam. "Angel benar, lo seharusnya mencegah audisi itu kalau memang mau jadi pacar gue. Tapi kenapa lo malah bantu gue?" tanyanya bingung.

"Ehm, itu ...," ujar Joyan serba salah lalu meringis. "Biar kelihatannya hebat aja gue bisa mengalahkan cowok yang lain ... hehe ...."

"Ooo gitu ya??? Jadi elo memanfaatkan kesempatan ini untuk terkenal, padahal elo pakai cara curang nepotisme-nepostimean? Elo tahu artinya audisi ini buat sahabat gue?! Dia serius mencari pacar, tapi elo malah mengeruknya buat keuntungan pribadi! Lo cuma mau mempermainkan perasaan Arla, ya? Elo pikir ini sinetron, sandiwara bo-ong – bo-ongan?!"

"Eh, jangan didramatisir gitu, dong. Enggak gitu juga sebenarnya!" tukas Joyan kelabakan melihat ekspresi keruh di wajah Arla. Provokasi Angel selangit sih, kedengarannya dia jahat banget, padahal ....

"Dengar ya, Lil ..." Joyan masih saja memanggil Arla dengan nama itu. "Kalau lo enggak terima gue ... siap-siap aja gue bakal datang ke rumah elo."

"Jangan!" teriak Arla sterpojok.

"Elo jangan maksa gitu, dong. Tolong kasih waktu buat gue." Arla memohon.

"Gue pikir baik-baik dulu, ya?"

Joyan tampak tidak puas dengan jawaban Arla. Dia lantas melanjutkan dengan ancaman yang lebih serius.

"Mikir sekarang atau lo bakal menyesal entar!" Dia melototi Arla. Duh, sesak Angel melihatnya. Dia heran kenapa Arla masih mau-maunya ditindas oleh sepupunya yang kagak tahu diri ini. Mentang-mentang keluarga, enak saja Joyan menuntut dia dengan semena-mena.

Arla tidak berdaya di bawah ancaman Joyan. Dengan berat hati, dia akhirnya memutuskan. Kalau memang sudah begini jalannya, sepertinya dia harus menerima Joyan sebagai pacarnya.

"Tapi lo jangan pernah manggil gue Lil lagi, ya?"

"Tenang, Sayang... mulai saat ini gue akan panggil lo Arla Sayangku!"

Huek. Nyaris saja Angel muntah mendengar rayuan model basi itu.

"Ar, kayaknya gue udah enggak perlu lagi, deh, ada di sini. Lo udah punya pacar yang bisa bantu lo," ujar Angel datar.

Angel yang kehilangan kesabaran pun undur diri. Tapi dia urung ketika Arla memegang tangannya dengan mata berkaca-kaca. Apa yang salah dengan Arla hari ini, pikirnya bingung. Dulu gadis itu bersemangat kepingin nyari pacar, tapi setelah punya pacar malah sedih.

"Elo bikin pacar gue nangis aja, nih!" tuduh Joyan.

Ya ampun ... sabar, sabaaaar. Angel hanya bisa mengurut-urut dada kesal. Joyan kagak sadar ya kalau dia sendiri penjahat yang sudah bikin sahabatnya menangis?

"Ar, gue turut berduka cita buat lo!" kata Angel. Meskipun kedengarannya sarkas, tapi Angel memang benar-benar bersedih atas nasib Arla yang begitu malang karena terjebak bersama seorang sepupu yang bisanya hanya bikin dia sengsara.

"Tapi tolong tetap di samping gue, Jel. Satu kali ini ... aja!" tatap Arla nelangsa.

"Sayang, mulai sekarang bilang aja ke gue kalau lo ada perlu apa-apa. Gue lebih bisa diandalkan daripada dia!" Joyan mengibaskan tangan di depan muka Angel. Ya ampun ... minta dipites ini anak!

"Ayo kita ngomong sekarang juga ke Dhea, Jeamie dan Roverio!" Angel berusaha mengabaikan Joyan dengan segala tingkahnya yang bikin illfeel. Dia mengajak Arla untuk mengakhiri semua kegilaan audisi.

"Hei, minta izin dulu kalau mau bawa pacar gue!"

Enggak ada seorang pun yang menghiraukan Joyan.

 

♦♥♣♠