Maksud terselubung

"Mas Indra bangkrut? Sejak kapan, Bik?" tanyaku sambil menatap Bik Lastri.

"Sudah lama saya dengarnya, Non. Bibik kira Non Wawa tahu," ucap Bik Lastri lagi. "Makanya Bu Ratno berusaha biar Non Risma bisa nikah sama orang kaya. Mungkin ada maksud ya, Non?"

Aku terdiam seketika. Mas Indra bangkrut, tapi aku tak tahu apa-apa. Selama ini keluarga ini terlihat baik-baik saja. Bahkan sepertinya mereka bertambah sibuk saja. Mungkinkah mereka berencana memanfaatkan keluarga Davian? Ah, aku harus mencari tahu.

Tiba-tiba gawaiku berdering. Telpon dari pak Tomo. Aku segera mengangkatnya.

"Assalamualaikum."

"Waalaikumussalam, maaf Nak Najwa, menghubungi kamu selarut ini," ucap Pak Tomo dari seberang telpon.

"Tidak apa-apa, Pak. Ada yang bisa saya bantu?"

"Saya ada proyek baru, agak mendadak. Besok saya mau ajak kamu melihat tempatnya, biar kamu bisa memilih desain yang cocok dengan tempatnya," ucap Pak Tomo.

"Baik, Pak, saya akan usahakan," jawabku.

"Baiklah, akan saya kirimkan lokasinya. Besok kamu bisa langsung ke sana," ucap Pak Tomo lagi.

"Baik, Pak."

Telepon ditutup. Beberapa saat kemudian pesan dari Pak Tomo masuk ke dalam gawaiku. Tanpa menunggu aku langsung memeriksanya. Mataku membulat seketika, melihat lokasi yang dikirimkan Pak Tomo. Aku kenal betul di mana lokasi itu berada. Dan tanah itu ... Milik orang orang tuaku!
.
.
.
Pagi itu aku langsung meluncur ke arah lokasi yang ditunjukkan Pak Tomo. Syukurlah Mas Indra dan Ibu mertuaku sibuk di luar seperti biasa, dan Risma sibuk shooting, jadi aku bisa leluasa pergi ke luar rumah. Tak lupa aku memoles wajahku dengan make up, hingga tak ada yang bisa mengenali. Aku juga berpesan pada Bik Lastri untuk menghubungiku jika sewaktu-waktu mereka pulang.

Sepanjang perjalanan pikiranku tidak tenang. Dari semalam aku juga tak bisa memejamkan mata. Tanah lokasi tempat proyek baru Pak Tomo itu jelas-jelas milik orang tuaku, dan dari dulu mereka tidak pernah ingin menjualnya. Aku harus memastikan dengan mata kepalaku sendiri, jika yang kupikirkan keliru.

Sesampainya di lokasi, aku seketika terpaku. Ya Allah, ternyata benar itu tanah milik orang tuaku. Sejak kapan mereka menjualnya? Tanah warisan dari kakek itu letaknya memang sangat strategis, jadi banyak diincar oleh banyak pengusaha, tapi orang tuaku tak ingin menjualnya berapapun harganya.

Orang tuaku berkeinginan menghibahkannya untuk membangun masjid. Tapi kenapa tiba-tiba dijual? Aku harus pulang untuk mendapatkan jawaban, setelah pekerjaanku selesai.

Beberapa saat kemudian mobil Pak Tomo datang. Pak Tomo turun dari mobil dengan Davian. Aku berusaha tersenyum menyambut mereka.

"Sudah lama Nak Najwa?" tanya Pak Tomo.

"Baru saja kok, Pak," jawabku sambil tersenyum bimbang.

"Bagaimana? Bukankah tempat ini sangat bagus?" Pak Tomo tersenyum sambil menatap hamparan tanah luas yang ada di persimpangan jalan besar itu.

Aku terdiam sejenak.

"Maaf, Pak. Bukannya saya mencampuri urusan bisnis Bapak," ucapku ragu-ragu. "Tapi apa pemilik tanah ini benar-benar bersedia menjualnya?"

Pak Tomo menatapku.

"Bapak sudah lama mengincar tanah ini, tapi memang pemiliknya tidak mau menjualnya," jawabnya sambil tersenyum. "Padahal saya sudah menawarkan harga yang sangat tinggi."

Aku tersentak.

"Lalu, bagaimana Bapak bisa mendapatkannya?" tanyaku dengan mata yang membulat.

Pak Tomo tersenyum lagi.

"Bapak tidak tahu bagaimana detailnya, tapi tiba-tiba saja Bu Ratno yang justru jadi pemilik tanah ini, dan menjualnya pada Bapak."

Jantungku berdegup kencang. Aku seakan tak percaya dengan apa yang kudengar. Ya Allah, ada apa sebenarnya ini? Kenapa tiba-tiba Bu Ratno bisa memiliki tanah milik orang tuaku.

Aku tersentak ketika Davian memegang pundak ku.

"Kamu kenapa, Najwa? Wajahmu kelihatan pucat, kamu sakit?" tanyanya.

Aku berusaha tersenyum.

"Tidak, cuma kurang enak badan saja," jawabku beralasan.

"Kenapa tidak bilang sama Bapak kalau kamu sakit? Kita bisa datang ke sini lain waktu," sahut Pak Tomo.

"Terima kasih atas perhatian Bapak. Saya tidak apa-apa, tapi saya tidak bisa berlama-lama," ucapku kemudian.

"Biar kami antar kamu pulang," kata Davian.

"Tidak usah, ada suatu tempat yang mau aku kunjungi dulu," sahutku cepat.

Davian menatapku.

"Benar tidak apa-apa?" tanyanya lagi.

Aku tersenyum seraya mengangguk. Perhatian mereka selalu membuatku tersentuh. Perhatian yang bahkan tidak pernah kudapatkan dari suamiku sendiri dan keluarganya.

Aku segera berpamitan, lalu menaiki taksi dan langsung meluncur ke kampung orang tuaku yang letaknya tak jauh dari tempat itu. Sudah beberapa bulan ini aku tidak mengunjungi mereka, karena Mas Indra jarang mengijinkanku pulang. Alasannya, jika pulang harus bersama dia. Padahal, dia bahkan tidak pernah punya waktu.

Taksi berhenti tepat di depan rumah sederhana milik orang tuaku. Aku segera turun dan bergegas masuk ke halaman rumah. Berbagai pertanyaan memenuhi kepalaku. Aku tidak sabar ingin mendapatkan jawaban dari Ibuk dan Bapak.

"Assalamualaikum," ucapku sambil mengetuk pintu.

"Waalaikumussalam," terdengar jawaban dari dalam, suara ibuku.

Beberapa saat kemudian, pintu terbuka.

"Ya Allah, Wawaaa!" Ibuku langsung berhambur memelukku sambil menangis histeris begitu melihatku. "Bapaaak, ini Wawa anak kita, Pak!"

Bapak berjalan berbondong dari belakang, dan membulatkan mata penuh keharuan.

"Masya Allah, Wawa," ucapnya.

Aku hanya melongo bingung melihat expresi orang tuaku saat bertemu denganku.

"Ada apa ini, Pak, Buk?" tanyaku, masih dalam kebingungan.

Ibu dan Bapak menuntunku masuk ke dalam rumah. Kami duduk di kursi kayu yang ada di ruang tamu.

Ibuk masih menangis, lalu menggenggam tanganku erat.

"Kamu kapan pulang, Nak? Kamu gak apa-apa, kan?" tanyanya sambil berulang kali mengusap air mata.

"Maksud Ibuk apa? Wawa gak pernah ke mana-mana, kok. Wawa juga baik-baik saja," jawabku bingung.

"Tapi Ibu mertua dan suamimu bilang kamu sakit parah," kata Ibuk masih belum bisa menghentikan tangisnya.

Aku tersentak kaget, lalu seketika menatap Bapak dengan gusar.

"Apa benar begitu, Pak?" tanyaku dengan suara gemetar.

Babak menatap bimbang ke arahku.

"Benar, Wa. Mereka datang ke sini beberapa bulan yang lalu. Mereka bilang kamu sakit parah, dan harus berobat ke luar negeri untuk menyelamatkan nyawamu."

Tubuhku lemas seketika. Jadi inikah alasan orang tuaku menjual tanah mereka?