Hangusnya rumah  bagi 1,2 juta Penulis!


            Sekitar satu juta dua ratus ribu orang kehilangan rumah! Ya, rumah bagi mereka membaca secara gratis, rumah bagi mereka di berbagai pelosok tanah air yang bertekad menjadi penulis, juga rumah bagi mereka yang ingin secara rutin mendapatkan pembekalan agar kian terampil meramu tulisan.

            Banyak di antara penghuninya, putra daerah yang jauh dari keramaian acara baik tatap muka maupun webinar, apalagi dengan narasumber para penulis nasional yang karyanya menjadi mega best seller dan difilmkan, perwakilan penerbit mayor, penulis skenario bahkan sutradara pencetak box office di tanah air.

Selama ini penghuni ‘rumah’ memang mendapatkan asupan rutin, berkenalan juga belajar membangun network sebab tidak sedikit di antara pemateri di acara mingguan yang diadakan, memberikan alamat hingga mereka bisa mengirimkan karya baik melalui surel atau dalam bentuk cetak.

            Satu juga dua ratus orang memang tidak kehilangan rumah dalam arti nyata, namun tetap sangat  kehilangan,  sebab rumah tersebut sudah terasa seperti kediaman  hangat  yang selama ini  memayungi berbagai kegiatan positif. Termasuk memberi peluang sama bagi anggota untuk mempromosikan karya di hadapan massa lebih besar. Hal yang kian berarti khususnya bagi penulis yang bukunya baru diterbitkan terbatas atau indie dan belum memiliki kemewahan dipromosikan di rak toko-toko  buku besar.

Selama ini semua kegiatan positif di atas  bisa mereka lakukan tanpa harus membayar sepeser pun, tidak juga kepada saya maupun suami, Isa Alamsyah sebagai pendirinya.

            Setelah pandemi  muncul, keberadaan Komunitas Bisa Menulis (KBM), yang selama bertahun-tahun telah menjadi forum kepenulisan secara daring barangkali terbesar di dunia, kian terasa dibutuhkan.  Sebab jika dulu banyak akses bagi penulis untuk keluar mencari bacaan, maupun mengikuti berbagai bengkel kepenulisan, kini langkah serba terbatas. 

            Bisa  dibayangkan bagaimana terpukulnya para penghuni KBM saat rumah mereka kemudian dihapus oleh salah satu jejaring media sosial yang selama ini memayungi.

 Apalagi banyak di antara anggota yang masih harus menulis melalui ponsel sebab tidak memiliki laptop atau komputer.  Akibatnya bersama hangusnya KBM, hangus pula tulisan yang dikerjakan susah payah, sebab satu-satunya cadangan data hanya group daring tersebut. Hangus pula harapan akan bisa menerbitkannya kelak.

Para anak muda juga ibu rumah tangga yang terbiasa menghabiskan waktu berjam-jam membaca di sana, kehilangan sumber bacaan. Pastinya kegiatan Belajar dari Bintang yang selama ini diadakan setiap Rabu malam, terpaksa dihentikan sementara.

Padahal dari  KBM, sudah lahir ribuan penulis, puluhan ribu buku, belasan penerbit, dan puluhan grup kepenulisan lain. Bukan hal mudah untuk mencapainya. Semua bisa diraih dengan kerja keras, pembinaan lama, dan proses panjang.

            Rumah kami dihapus tanpa alasan jelas kecuali keterangan melanggar kebijakan komunitas dari  media sosial bersangkutan. Setelah dikaji bentuk pelanggaran yang dimaksud, ternyata semua bermula dari sistem artificial inteligent atau kecerdasan buatan yang tidak sepenuhnya cerdas.

Kecerdasan buatan bagaimanapun bukan manusia, jika terkait dengan hubungan sosial dan kemanusiaan, sulit untuk mampu  mengimbangi kemampuan manusia. Hal ini justru saya ketahui setelah kami membuat group baru di sosial media yang sama dan kembali menduduki posisi sebagai komunitas kepenulisan dengan jumlah anggota terbesar mencapai hampir 400 ribu anggota hanya dalam waktu beberapa bulan.

Kepedulian membuat saya dan suami merasa kami harus berupaya bangkit dan melakukan evaluasi. Tidak ada lagi tulisan politik, moderator sempat ditiadakan hingga media sosial tersebut bisa secara otomatis menghapus konten yang mereka anggap sensitif.

Namun lagi-lagi komunitas yang dibangun dengan susah payah itu, hanya berumur pendek,  sebab kembali dihapus.  Setelah dicermati, KBM dianggap mengumbar hate speech atau ujaran kebencian. Yang lucu adalah, bentuk ujaran kebencian yang dituduhkan merupakan dialog dalam cerpen atau cerita bersambung karya anggotanya.

"Dasar suami tak bertanggung jawab,"

"Lelaki begitu  tenggelamkan saja,"

Kalimat tersebut dan puluhan kalimat lain dianggap melanggar standar komunitas, padahal bukan ditujukan kepada anggota lain, murni dialog dalam tulisan, atau terkadang bagian dari komentar pembaca yang terlibat secara emosi.

Amat disayangkan sosial media tersebut sepertinya memiliki  artificial inteligent yang tidak mengerti konsep tulisan fiksi. Maklum saja bagaimana pun   robot bukan manusia hingga kaku dan tidak secerdas itu dalam penerapan.  Sayangnya sekalipun sudah diberitahu masalah tersebut tim sosial media yang harusnya bisa menyesuaikan diri seolah bersikukuh dengan pendapat artificial intelligent mereka.

Ada yang berkomentar group dihapus karena konten politik. Jelas tidak. Karena banyak sekali grup lain yang  membahas politik lebih terbuka namun tidak dihapus, kenapa? Jawabannya mungkin sebab tidak ada yang melaporkan. Sekali lagi kecerobohan sistem kecerdasan buatan.  Mereka hanya menangkap postingan atau grup yang banyak dilaporkan sebagai komunitas daring bermasalah. Padahal dalam kehidupan nyata mungkin saja ada yang  tidak senang atau kompetitor ramai-ramai melaporkan, secara seringkali keburukan lebih memotivasi ketimbang kebaikan.

Pelajaran bagi semua. Sebagai pendiri tentu kami berduka, berharap akan ada mediasi. Di sisi lain hati kian takjub pada kehebatan Allah yang telah menciptakan manusia dengan rasa,  kecerdasan dan segala yang sempurna. Dibandingkan manusia maka artificial intelligent yang tidak cerdas bahkan sangat mungkin menjadi lelucon.


(semoga berkenan bergabung di facebisa.com sebagai media silaturahim dan promosi karya-karya teman sekalian di KBM App maupun di aplikasi kepenulisan lain... )



11 Desember 2020