Bab 19 : Geliat Pagi

Geliat pagi penduduk desa sudah dimulai sebelum matahari muncul.  Pagi buta Eyang sudah bangun.. Aku pun dibangunkan Eyang sebelum azan dari langgar  berkumandang.. Di dapur sebakul besar nasi dan lauk-pauk telah terhidang di meja besar. Eyang membungkusnya beberapa bagian dengan daun pisang. Selain uang para pekerja menerima sebungkus besar kojong, nasi dengan lauk telur dadar, oseng-oseng kacang panjang, sambal goreng tempe dan mi goreng. 


"Selesai salat Clara bantu Kakung bersih-bersih, ya," kata Eyang Putri. Aku mengiyakan. Dingin air saat mandi dan berwudu masih tersisa. 


"Anaknya Wening sudah perawan, yo, Dhe Carik." tanya seorang perempuan. Tangannya cekatan memasukan nasi kojong dalam sebuah tas keranjang. 


"Sudah SMA, sekarang sekolah di sini, " jawab Eyang Putri. 


Aku menggelar sajadah, lamat-lamat aku dengar perempuan itu bertanya lagi. "Kenapa kok pindah sekolah di sini, Dhe 

Carik? Nakal ya di kota."



Aku tidak perlu mendengar jawaban Yangti segera aku tunaikan salat Subuh. 



Eyang Kakung sudah selesai menyapu halaman rumah, depan, samping, belakang. Butir-butir keringat menempel.di dahinya. Meski sudah berumur badannya tetap tegap berisi. 


"Sudah salat, Clara?" tanya Eyang Kakung. Aku jongkok di sisinya yang sedang mencabuti rumput-rumput. 


"Sudah, Eyang."


"Besok jadi tugasmu, ya, menyapu bersih seluruh halaman rumah."


"Nanti Clara telat sekolah, Eyang."


"Bangunnya lebih pagi lagi."


"Clara nggak janji, Yang.*


"Sana kanu bantu, Yangti masak."


"Sudah matang, sudah siap dibawa sama siapa itu, perempuan. Aku nggak kenal."


"Yu Siti namanya. Masih saudara kita."


"Clara …!"


"Itu Yangti manggil."


"Inggih, Yangti," teriakku seraya menghampiri. 


"Itu teh tubruk sama pisang godok diaturke Eyangmu."


Yu Siti sudah pergi rupanya, Yangti mengemasi sisanya. 


"Clara mau pisangnya, Yangti"


"Ambil, terus siap-siap sekolah, sarapan dulu. Angdesnya sesak kalau kesiangan."


Angdes di desa ini menggunakan mobil bak terbuka. Bagian bak didesain sedemikian rupa dengan jok panjang berhadapan. Dipasang pula dinding di kedua sisi, dan atap. 


Tidak hanya orang yang diangkut. Hasil panen sayur mayur untuk dijual ke pasar. Kambing, ayam campur-baur dengan penumpang. Baunya lumayan amboi. 


"Ini teh tubruk nya, Yangkung."


"Oo, matur suwun, Nok. "


Aku ikut menikmati pisang godok, dan menyeruput teh tubruk milik Eyang Kakung. 


"Sudah siang, sana siap-siap!" 


"Okey!