Bab 14 : Aku Persis Papa

Aku lulus dengan nilai pas. Mama marah besar dengan nilaiku yang merosot drastis. Mama pikir aku akan terus jadi pemenang. Terus di depan memimpin semua pertandingan. Nyatanya? Aku telah kalah sebelum pertandingan usai.


Aku seperti terlempar ke jurang amat dalam. Mama murka oleh kekalahanku. Terlebih lagi tak bisa masuk SMA favorit. Tak ada kebanggaan yang bisa Mama tunjukan di hadapan teman dan relasinya. 


Kak Evan adalah pembanding yang di puji Mama. Sekolahnya cemerlang. Bukankah aku dulu seperti itu? 


Dengan uangnya Mama berusaha memasukkan aku ke sekolah yang diinginkannya. Aku harus masuk bimbingan belajar ternama. "Kamu harus jadi dokter, Clara!" Kalimat ini membuat Mama pontang-panting mencari guru les privat. Banyak ilmu yang harus masuk ke otakku. Tak cukup bimbel harus kuikuti. Mama mengganggapku sangat bodoh. 


Aku kelebihan muatan, otakku tak mampu. Semakin banyak pembelajaran yang kuikuti aku semakin bodoh. Semua tak masuk dalam daya pikirku. 


Mama semakin marah, semester pertama nilaiku terutama mata pelajaran inti terbakar semua. Warna merah untuk angka empat, lima tertulis di rapor. 


Ya! Aku Clara Adelia dilahirkkan pada hari ibu, dua puluh dua Desember satu sembilan delapan enam. Aku adalah pribadi anggun, keibuan, cantik, pintar. Itu kata Mama. Sekarang Clara Adelia telah mati semangat, terpuruk, marah, hanya hidup dalam penyesalan. 


Mama melempar rapor ke mukaku. Menghabiskan simpanan kata-kata terpedasnya untukku. Sebagai anak yang tidak tahu diuntung, anak yang tidak bisa dibanggakan orang tua. Anak yang bikin malu. Anak tidak berguna. Persis seperti Papanya!


Persis seperti Papanya? Aku mengulang berkali-kali dalam dada. Tidak bergunakah Papa? Berguna seperti apa? Bukankah Papa pun bekerja keras. Jarang di rumah, selalu sibuk untuk sebuah urusan. Menanyakannya pada Mama, aku tidak berani. Akan semakin menambah murkanya. 


Kak Evan menenangkanku. "Mama tak bisa memaksakan kehendak Mama untuk Clara." 


"Clara menerima fasilitas yang lebih darimu. Kenapa tidak bisa?" jawab Mama untuk Kak Evan. 




Aku hanya menangis sebentar. Tak juga ingin mendengar pertengkaran Mama dan Kak Evan. Yang perlu kuingin tahu, aku persis Papa yang tidak berguna. Kemana Papa? 


Papa disebut tidak berguna, seluruh waktunya habis untuk bekerja? 


Kemana Papa? Kenapa tidak membelaku.

Aku baru menyadari Papa sering tidak bersama Mama. Aku baru tahu Papa tidak tidur satu tempat tidur dengan Mama. Di ranjangnya Mama tidur aendiri. Aku pernah secara tak sengaja malam-malam membuka kamar Mama karena sesuatu hal dan melihat Papa tidur di sofa. Sekali tempo melihat pula Papa tidur di depan televisi.


Paginya aku menanyakan kenapa Papa tidur di luar? Karena kepanasan, jawabnya. Kamar Mama berAC, tinggal menyetelnya sesuai kebutuhan. Jawaban yang absurd. 


Tidak pernah terdengar olehku pertengkaran mereka. Papa giat bekerja, Mama giat berkarir. Dua Pribadi yang klop. 


Aku persis Papa. Dalam hal apa? Rupakah? Suarakah? 


Papa bahkan lama tak pulang. Jika ditanya, Mama cukup mengatakan Papa pulang bawa uang dah habis perkara. 


Aku akan mengajak Papa bercermin. Membandingkan dari rambut, kening, alis, bahkan mata. Semua berbeda. Mensejajarkan hidung. Hidung Papa mancung, dengan tulang hidung yang tinggi. Hidungku tidak pesek tetapi tidak bangir juga.