Bab 20 : Tak Mau di Paksa

Tak ada prestasi gemilang, tak ada sang juara lagi. Aku murid biasa saja. Pada penerimaan rapor semester banyak mata pelajaran inti yang harus remidi sebelumnya. 


Ketika Mama menengokku, yang pertama kali ditanyakan adalah nilai rapor. Mana tidak bertanya apakah aku kerasan tinggal di desa, apalah aku baik-baik saja, seharkah, sakitkah. 


Dengan wajah kesal, Mama melempar rapor itu ke mukaku. 


"Masa kamu bersaing dengan anak desa aja gak bisa. Kamu ini calon dokter, kenapa bodoh begini?"


"Clara gak mau jadi dokter, itu kan mau Mama." 


"Bukan cuma bodoh, sekarang kamu kurang ajar, ya!" Tak seharusnya Mama marah. Aku tak ingin jadi apa-apa sekarang. Cita-cita? Apa itu cita-cita. 


"Clara gal mau dipaksa," jawabku ketus. 


"Harus Clara! Harus!"


Eyang Kakung dan Putri menengahi, mereka tidak pernah memaksa Mama untuk menjadi yang mereka inginkan. 


"Ita, Bu.Sekarang itu bebeda, Clara perlu diarahkan. Aku sudah banggakan dia ke teman-teman, relasi juga, dia itu calon dokter."  


"Siapa yang akan menjalani hidup? Kowe opo Clara. Ndak bisa memaksakaan kehendak seenaknya," kata Eyang Kakung. 


"Aku ini ndidik anakku, Pak. Tujuanku baik biar dia jadi orang."


"Jadi orang ndak harus jadi dokter."


"Bapak mendidik Clara jadi kurang ajar, berani sama aku," kata Mama. 


"Lho, apa yang kamu lakukan itu salah. Dia masih SMA, biarkan dia jalani masa SMAnya."


"Kalau mau jadi dokter, harus disiapkan dari sekarang, Pak."


"Mama dengar nggak, Clara gak mau, sekali gak mau jadi dokter!" teriakku. 


"Kalau kamu gak bisa diatur, pulang ke Jakarta sekolah di sana. Kamu harus digembleng, harus ikut bimbel." 


Aku melempar rapor dan lari ke kamar. 


"Clara!"


Kukunci pintu, tak peduli pada teriakkan Mama dan pintu yang diketuk berulang kali.

Kemudia terdengar suara Mama yang lebih keras dari suara Eyang Kakung. Mereka bertengkar. 


Aku tentu tak ingin dipaksa. Semangat menjalani hidup sudah tidak semenyala dulu. Jangankan mengangankan cita-cita, belajar saja aku enggan. 


Untuk apa sih hidup? Jika aku sudah rusak begini. Aku hanya tidak bunuh diri, terapi bagiku hidup selanjutnya adalah kesuraman. 


"Clara! Buka pintunya!" Mama menggedior pintu dengan keras dan aku menutupi telinga dengan bantal. 


"Mama dobrak pintunya, nih!" 


Suara Mama masih aku dengar, bantal kurang rapat menutup telingaku. Terserah apa mau Mama, mendobrak pintu atau apa pun. Tapi tetap saja, Clara gak jadi dokter.