Bab 3 : Gadis Pengamen

Dari Sydney kami pindah ke Melbourno, sembilan jam perjalanan. Esoknya, dengan bus  wisata citty loop yang gratis dinaiki aku dan Bayu berpindah dari satu tempat wisata ke tempat lainnya. Udara siang musim panas sangat cerah Aku perhatikan gadis kecil berusia sekitar belasan tahun, sedang mengamen di daerah pertokoan di Victoria street.  Selama empat puluh lima menit dia nyanyikan lagu-lagu natal. Aku menghampiri. Postur tubuh dan wajah gadis itu menunjukan dia bukan warga lokal. 


Aku senang, ketika kutanyakan dia berasal dari Indonesia. Papanya sedang mengikuti program bea siswa pasca sarjana. Dia kelas tiga SMP. Perih hati menghangat di mata. Aku saat seusia gadis kecil itu sudah dirudapaksa. Selalu ingatan itu muncul, menjadi pembanding diriku. Dia begitu bahagia. Ketika kutanyakan berapa uang didapatkan mengamen selama empat puluh lima menit. $40 , jawabnya. Setara empat ratus ribu rupiah. 


Untuk apa mengamen?  Dia hanya ingin membeli hadiah natal yang akan tiba beberapa hari ke depan. Hadiah natal untuk Papanya. Atas seizin Bayu aku mengajaknya makan siang. Perbincangan yang menyenangkan di sela-sela suapan. Dia meminta izin pada pemerintah kota(Citty Council) Willoughby lewat internet untuk izin basking(mengamen) di daerah pertokoan. Pemerintah kota memberikan izin dua hari untuk basking dengan waktu jam sebelas siang sampai jam dua belas. Hanya satu jam saja. 


Aku tak melihat diriku di gadis itu, belakangan kuketahui namanya Veronica. Ramah, ceria, supel dan banyak bicara. Rasa hati teriris aku didera derita, masa remaja yang hilang, menguap meninggalkan kerak. Kerak yang sulit untuk kubersihkan, membelenggu langkah. 


Selesai makan Veronica segera pamit, menunggu papanya yang akan menjemput di tempat ia mengamen. 


Aku memandangi Veronica, hingga ia melangkah memunggungi meninggalkan restoran. Langkahnya enerjik. Penuh keceriaan.


Bayu mencuil daguku. "Yuk! Cari masjid, kita belum salat Duhur."


Aku mengangguk untuk imamku yang sangat penyabar.


Bayu mengajakku salat di Masjid Sunshine. Masjid dengan tujuh belas kubah dan dilengkapi satu menara dengan gaya arsitektur Usmaniyah. Nama masjid ini sebenarnya adalah cyprus Turkish Islamic of Comunity of Victoria. Cyprus Turki, sebutan untuk orang-orang siprus ber-etnis Turki yang kemudian hijrah ke Australia. Bayu selalu menjadi guide yang baik untukku, menceritakan semua yang diketahuinya.


Aku merasa sangat kecil, luruh dalam sujud. Bulan madu untuk suamiku sekuatnya kupinta. Jauh-jauh aku diterbangkan hingga ke negeri ini, apakah akan nihil? Air mata membanjir mengiringi doa. Pengantin priaku butuh haknya, butuh kewajibanku yang gagal aku tunaikan. Sakit itu mengapa terus mendera? Aku usap wajahku yang basah, mengakhiri doa. 


Bayu sudah menungguku di pelataran parkir. Alun-alun Victoria tujuan kami selanjutnya. 


Victoria street jalan utama di pusat kota Melbourne, membentang dari timur ke barat sepanjang lebih dari enam kilometer antara Meenster Terrace di Melbourne utara dan sungai Yaman. 


Hanya singgah sejenak, dari alun-alun kami mengalihkan tujuan menuju Rudlle Mall, tidak terlalu jauh jaraknya sekitar lima ratus meter di sebelah alun-alun Victoria. Rundlle Mall adalah komplek pertokoan yang terletak di Rudlle di tata dengan baik tertutup untuk kendaraan. Aku jadi ingat Malioboro di Jogjakarta. 


Di Rundlle Mall aku tertarik dengan seorang pengamen yang menampilkan musik tradisioanal Aborigine Australia, pasalnya wajahnya mirip dengan orang-orang Indonesia bagian timur. Bayu mengajakku mendekat, mengikuti musik Didgeridoo yang dimainkannya. Bayu spontan menggerakkan badan, bersama penonton lain.  Aku turut ambil bagian bertepuk tangan dan menghentakkan kaki. 


Musik usai terdengar dan Bayu memberi pengamen itu uang. Hari hampr sore, Bayu mengajakku pulang ke apartemen. 


Gadis pengamen itu membuatku iri. Bayangannya melintas, untuk Papanya dia rela mengamen.