Bab13 : Anak Jalanan

Aku begitu benci bercak di sprei. Sprei  hello kitty warna pink, noda yang begitu kentara untuk dilihat. Aku menariknya dengan kasar. Boneka Tedy Bear dan bantal-bantal di atasnya berserakan di lantai. Aku ambil gunting menggunting-ngguntingnya menjadi beberapa bagian. 


Aku ambil tas sekolah lama yang sudah tidak terpakai. Baju dan pakaian dalam yang basah, beserta sprei tercabik-cabik aku masukkan. Akan kubuang jauh-jauh. 


Hari ini seharusnya, aku  ada di antara Harbani dan teman-teman. Dalam kegiatan ekstrakulikuler kelompok ilmiah remaja berwawasan sains dan teknologi. Nantinya kelompok ini akan mewakili sekolah untuk berlaga di tingkat provinsi. Menang atau kalah tentunya aku membawa nama sekolah dengan harum. 


Dalam bidang seni, tropy kejuraan dance banyak aku miliki. Tubuhku bagus oleh diet yang Mama terapkan. Langsing berisi. 


Aku kesohor oleh kecantikan dan prestasi. Aktif di berbagai organisasi membuatku banyak dikenal orang. Dan seluruh aktivitas yang aku lakukan semua atas dorongan dan dukungan Mama. Memberikan segala fasilitas yang aku butuhkan. 


Sebentar lagi aku ujian sekolah dan lulus. Melanjutkan SMA lalu kuliah. Cita-cita itu tidak lagi berpinar, redup. Pendar cahayanya perlahan hilang berganti mendung. 


***


Sudah tiga hari aku tidak masuk sekolah. Selama itu, Mama dan Papa belum pulang juga. 



Beberapa teman cewek terutama gengku datang dengan keriuhan. 


"Sakit apa kamu, Cla?"


"Paling juga sakit rindu sama Harbani, iya, 'kan?"


"Serius, muka lu  pucet banget, Cla!"


Ada di mana hatiku? Teman-teman bercanda, menggoda, aku tersenyum. Hatiku pergi ke tempat antah-berantah..


"Lu sariawan? Ngomongnya pelit amat."


"Virly kenapa, nggak ikut kesini?" tanyaku kemudian. 


"Dia nggak masuk, kabarnya sih sakit," jawab Sahara.


"Sakit? Sakit apa?" tanyaku lagi.


"Mana gue tahu! Elo sakit apa?"


Bi Enah datang dengan makanan dan munuman. Orange Juz dan bermacam camilan. 


"Non Clara demam, badannya panas banget. Sekarang sih udah mendingan," jawab Bi Enah untuk Sahara. 


"Kecapean dia mah, Bi. Kagak inget ama waktu." Yang lain kemudian menimpali, saling bersahutan dengan celotehan dan candaan dengan tawa sepuasnya. 


"Kalau udah minum kalian turun, Bibi siapin makan siang." 



"Asyiiiiik ….!" teriak teman-teman seperti koor. 


***


Setelah empat hari bolos, esoknya aku berangkat dengan mobil jemputan. Pak Indra menanyaiku sebagai basa-basi. 



"Sudah sehat, Non Clara?"


"Sudah, Pak."


Di mobil sudah ada beberapa anak komplek pelanggan Pak Indra yang dititipkan orang tuanya, sama sepertiku. Demi keselematan!  Pak Indra bertanggung jawab menjemput dan mengantar kembali pulang dengan selamat. Mama dan orang tua yang lain harus membayar setiap bulan demi kata 'selamat'. Mama tidak mempercayakan pada supir pribadi padahal ada mobil yang disiapkan Mama untukku kelak aku kuliah. 


Apa yang terjadi? Aku justru tidak selamat di rumah. 


Sekolah tempat favorit bagiku. Kini turun dari mobil melangkah sampai gerbangnya saja langkahku sangat berat. Enggan.


Banyak yang mengatakan aku pucat, kelihatan lemas, tidak seperti biasanya. Untuk kabar sakit saja bertubi pertanyaan harus dijawab. 


Pelajaran yang diterangkan Bu Guru dan Pak Guru, tak satu pun yang menyangkut di otakku. Aku gelagapan ketika diberi pertanyaan.Suatu keanehan yang tidak pernah terjadi sebelumnya. 


Aku malas ke kantin. menghabiskan waktu istirahat duduk saja di bangku. 


Pulangnya aku izin Pak Indra untuk tidak ikut mobil jemputan. Semula tidak diizinkan, tetapi aku beralasan ada tugas praktikum untuk KIR, yang bahan-bahannya harus dibeli sekarang juga. Aku berjanji untuk segera pulang. 


Aku menyusuri jalan sejak dari halaman sekolah tanpa tujuan. Masuk Mall Gading Center berputar-putar di dalamnya tanpa membeli apa pun. Duduk di halte hingga puluhan orang datang dan pergi silih berganti. 


Beberapa meter dari pandangan di lampu merah para pengamen cilik bergelut dengan lalu-lalang kendaraan. Menjajakan suara mereka pada para pengguna jalan. Selamatkah mereka hidup di jalanan? Mama bilang banyak orang jahat di luaran sana. 


Banyak juga anak seusiaku mengasong dagangan. Di lampu merah, di trotoar di antara hiruk-pikuk pejalan kaki. Baru kali aku ada di dunia luar selain sekolah dan rumah, tempat les, klinik dan butik Mama atau restoran dan tempat plesiran.


Berjam-jam aku hirup debu jalanan, asap knalpot dan bau matahari. 


Apatah artinya kehidupan yang aku terima jika aku menderita. 


Hujan deras, aku basah kuyup. Aku ingin tahu rasanya hidup di jalanan seperti anak-anak itu. 


Menjelang sore aku pulang naik metro mini, berganti bajaj sampai di mulut gerbang perumahan. 


Kru rumah heboh dan kalang kabut, terutama Bi Enah pengasuhku. Melihatku dengan baju basah Bi Enah pasti repot dan ketakutan.