7. Bab tujuh
PEMB4LUT SUAMIKU (7)

Badannya bungkuk, wajahnya penuh keriput. Jalannya tertatih-tatih. Namun, matanya awas memandang rumahku dengan raut wajah serius. 

Siapa nenek tua itu? Aku tak pernah melihat sosoknya sebelumnya.

Astaga! Mira dan Danu? 

Buru-buru aku mempercepat langkah menuju rumah. Aku teringat Mira dan Danu yang masih bermain mencari siput di sawah belakang. 

Gelagat nenek tua itu terlihat mencurigakan. Aku khawatir dia berniat buruk pada keluargaku. 

Melihat kedatanganku yang tergesa, nenek tua itu melotot tajam kemudian membuang muka masam dan segera berlalu memasuki kebun jagung. Mungkin dia mengira aku hendak menghampirinya. 

Seketika tengkukku meremang. Namun, tidak mungkin ada hantu di siang bolong begini. Aku yakin nenek itu manusia. Akan tetapi apa tujuannya mengawasi rumahku seperti itu. 

Anehnya, dia juga memasuki kebun jagung yang begitu luas. Tingginya melebihi tinggi tubuhku. Tentunya tubuh nenek tua yang sudah bungkuk itu tenggelam di antara puluhan pohon jagung. Pastilah di dalamnya gelap dan tak ada jalan. 

Jika memang dia tidak berniat jahat, kenapa tidak melewati jalan yang sudah disediakan untuk ke ladang? 

"Mira ... Danu ...," teriakku sembari memasuki rumah. 

Namun, tidak ada sahutan dari mereka. Buru-buru aku ke arah dapur, aku bernapas lega. Rupanya mereka tengah membersihkan siput yang sudah mereka dapat. 

Mereka sangat suka gulai siput sawah. Aku sering mengajaknya mencari siput jika uang belanja mulai menipis, untuk menghemat. Karena tidak tiap hari aku bekerja. Itu kenapa mereka sudah pandai mencari bahkan membersihkannya sendiri. 

"Ibuk kenapa? Kok mukanya begitu?" tanya Mira yang memperhatikanku. 

Mungkin dia melihat raut wajahku yang tegang dan cemas.

"Ehm, gak apa-apa. Kalian sudah lama balik?" 

"Iya, Buk. Kami sudah mandi. Ibuk gak lupa kan pesanan Mira?" 

"Cokelat pesanan Danu juga?" timpal Danu. 

Aku tersenyum sembari mengeluarkan pesanan mereka dari kantung kresek. 

"Mira ada lihat nenek-nenek tadi di kebun jagung waktu cari siput?" tanyaku. Barangkali mereka melihat. 

"Nenek-nenek? Gak ada, Buk. Tapi aku lihat perempuan di sini waktu kita cari siput," ujar Mira yang membuatku terkejut. 

"Perempuan? Perempuan siapa? Di sini di mana?" tanyaku bingung sekaligus penasaran.

"Gak tau. Soalnya aku lihatnya sekilas aja, Buk. Dia duduk-duduk di situ." Mira menunjuk bangku kayu yang berada di sebelah pintu dapur yang menjurus ke halaman belakang. 

"Kamu yakin, Nak?" tanyaku berjongkok di hadapannya. 

"Yakin, Buk. Mana mungkin aku salah lihat. Danu juga lihat kan tadi?" Mira menoleh pada Danu. 

"Iya, Buk. Bibinya cantik. Kayak ibuk. Tapi pas kita samperin gak ada," timpal Danu. 

Aku menelan ludah getir. Mereka tak mungkin berbohong. Jika pun Mira salah lihat, tentunya Danu tidak akan tahu tentang perempuan yang Mira maksud. Akan tetapi keduanya sama-sama tahu. Tetapi siapa perempuan itu? Apa yang mereka maksud nenek tua itu?

Tapi kalaupun iya, tidak mungkin Danu bilang perempuannya cantik sama sepertiku.

Ah! Kepalaku sungguh pening memikirkan ini. 

"Siputnya sudah bersih? Kalian main di teras rumah, ya?" pintaku. 

"Sebentar lagi, Buk!" sahut Mira. 

Setelah beberapa saat, siput yang mereka bersihkan sudah beres. Aku menyimpannya di lemari kayu tempat menyimpan lauk. Nanti sore akan kumasak. 

"Mira, nanti kalau dari jauh liat Bapak pulang, bilang Ibuk, ya. Biar Ibuk buatkan kopi. Sekarang Ibuk mau ke kamar dulu," pintaku pada Mira. Gadis kecil itu mengangguk. 

Aku meminta mereka bermain di teras sengaja untuk mengawasi kedatangan Mas Darma. Rasa curiga dan penasaran sudah tak terbendung lagi. Untuk kali ini tak apalah aku melanggar larangan suamiku untuk menyentuh barang-barang miliknya. 

Sejak awal aku memang sudah menaruh curiga. Mulai dari Mas Darma yang melarangku membuka tasnya bahkan melarang menyentuh celananya untuk dicuci jika tidak diperintah. Barang-barangnya pun masih berada di ranselnya meski sudah beberapa hari dia pulang. 

Sebagai baktiku pada suami, aku menuruti ketika dia melarangku membuka tasnya. Kupikir Mas Darma masih tidak terbiasa barang-barangnya disentuh orang lain. Aku mewajari itu, hampir sepuluh tahun bukanlah waktu yang sebentar Mas Darma hidup sendiri. 

"Ya Tuhan ampuni aku karena membantah larangan suamiku kali ini," bisikku dalam hati. 

Biarlah. Toh semua ini demi kebaikan keluargaku sendiri. 

Dengan sedikit rasa bersalah, aku membuka resleting pertama yang rupanya berisi tumpukan pembalut kemarin. Buru-buru kututup, aku tidak tahan baunya. Bahkan baunya samar-samar sudah tersebar di seluruh kamar, tetapi aku baru menyadari ini kemarin. Anyir dan busuk. 

Selanjutnya kuperiksa semua sisi ranselnya. Hanya ada baju dan celana Mas Darma. Tak ada sesuatu yang lain mencurigakan kecuali pembalut bekas pakai yang penuh dengan noda darah. 

Namun, ketika membuka resleting terakhir yang paling kecil, aku menemukan sesuatu. Sebuah kotak berukuran kecil. Kotak yang terbuat dari kayu dipenuhi ukiran yang begitu detail. Cantik tetapi penuh misteri.

Penasaran, kubuka kotak tersebut. Aku terkejut ketika melihat cincin bermata biru yang kutemukan kemarin di lemari baju terpasang rapi di dalam kotak. Aku yakin itu cincin yang sama yang pernah kupakai. 

Kurogoh kembali ke dalam tas, aku kembali menemukan sesuatu. Secarik kertas lusuh yang mulai berwarna kekuningan. Di pinggirannya mulai penuh dengan sobekan kecil. 

Kubuka kertas tersebut, aku melongo tak mengerti dengan tulisan di dalamnya. Seperti kolom sebuah jadwal? Entahlah. Yang jelas tulisan itu tidak ditulis dengan bahasa indonesia dan pulpen biasa.

Melainkan tinta kecoklatan yang sudah mengering. Aromanya begitu amis.  

Dari situ aku mulai sadar. Kertas ini ditulis dengan darah. 

"Ibuk ... Ibuk ... Bapak pulang!" teriak Danu dari luar kamar yang membuat sekujur tubuh gemetar. Takut. Disusul dengan derap langkah kaki yang aku yakin itu Mas Darma.

Gawat!

Tinggalkan love dan komen yuk kak. Biar author makin semangat dan bisa tripple update hari ini. 

Makasi kakak¬≤ semua.