BAB 4 Pentingnya Usia Keemasan Anak Usia Dini
Setelah membaca bab I - III, maka penulis
merasa perlu memasukkan bab IV ini yang membahas usia keemasan anak usia dini ditinjau dari berbagai landasan yang bersifat kebijakan (regulasi), filosofis, sosial, serta hasil-hasil penelitian di bidang pendidikan anak usia dini. Dalam pembahasan ini, maka penulis membagi menjadi tiga landasan yakni landasan yuridis, landasan filosofis dan landasan keilmuan.
Usia keemasan anak usia dini yang lebih familiar sebutan golden age's merupakan sebuah rentang usia yang memiliki kesempatan untuk memperoleh pengasuhan, pengajaran, dan pendidikan yang tepat oleh pihak - pihak seperti orangtua, sekolah, masyarakat, lingkungan dan Negara.

Dibawah ini merupakan materi landasan
-landasan yang menjadi penanda pentingnya usia keemasan pada anak usia dini:
1. Landasan Yuridis
Landasan yuridis merupakan segala per
aturan dan kebijakan yang mengatur penyelenggaraan suatu program. Maka landasan yuridis pendidikan anak usia dini yang menjadi penanda pertama untuk pentingnya usia keemasan anak usia dini adalah UUD 1945, UU nomor 20 Tahun 2003 dan UU nomor 23 tahun Tahun 2002. 

Berdasarkan amandemen UUD 1945 pasal 28 B ayat 2 dinyatakan bahwa "setiap anak berhak atas kelangsungan hidup, tumbuh dan berkembang serta berhak atas perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi". 

Sementara, UU No 23 Tahun 2002 Pasal 9 Ayat 1 tentang Perlindungan Anak dinyatakan bahwa "Setiap anak berhak memperoleh pendidikan dan pengajaran dalam rangka pengembangan pribadinya dan tingkat kecerdasannya sesuai minat dan bakatnya".

Begitu pula mengacu pada Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional Bab 1, Pasal 1, Butir 14 dinyatakan bahwa "Pendidikan Anak Usia Dini adalah suatu upaya pembinaan yang ditujukan kepada anak sejak lahir sampai dengan usia 6 tahun yang dilakukan melalui pemberian rangsangan pendidikan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani-rohani agar anak memiliki kesiapan dalam memasuki pendidikan lebih lanjut".

Sedangkan pada Pasal 28 B tentang Pendidikan Anak Usia Dini dinyatakan bahwa "(1) Pendidikan Anak Usia Dini diselenggarakan sebelum jenjang Pendidikan Dasar (SD), (2) Pendidikan Anak Usia Dini dapat diselenggarakan melalui jalur pendidikan formal, non formal, dan/atau informal, (3) Pendidikan Anak Usia Dini jalur pendidikan formal: TK, RA, atau bentuk lain yang sederajat, (4) Pendidikan Anak Usia Dini jalur pendidikan non formal: KB, TPA, atau bentuk lain yang sederajat, (5) Pendidikan Anak Usia Dini jalur pendidikan informal: pendidikan keluarga atau pendidikan yang diselenggarakan oleh lingkungan".

2. Landasan Filosofis Pendidikan Anak Usia Dini
Pendidikan merupakan suatu upaya yang dilakukan dengan tujuan untuk memanusiakan manusia. Artinya, melalui proses pendidikan diharapkan mampu terlahir manusia-manusia yang baik. Standar manusia yang dikatakan "baik" berbeda antar masyarakat, bangsa atau negara, karena perbedaan mendasar pandangan falsafah yang menjadi keyakinannya. Perbedaan filsafat dan arah pandangan suatu bangsa akan membawa perbedaan dalam orientasi memajukan peradaban manusia terutama bidang pendidikan.

Bangsa Indonesia yang menganut falsafah Pancasila berkeyakinan bahwa pembentukkan manusia pancasilais menjadi orientasi tujuan pendidikan yaitu menjadikan manusia Indonesia seutuhnya. Bangsa Indonesia juga sangat menghargai perbedaan dan mencintai demokrasi yang terkandung dalam semboyan Bhinneka Tunggal Ika yang maknanya "berbeda tetapi satu". 

Dari semboyan tersebut, bangsa Indonesia juga menjunjung tinggi hak-hak individu sebagai makhluk Tuhan yang tidak bisa diabaikan oleh siapapun. Maka penting sekali usia keemasan ini menanamkan nilai-nilai karakter budaya Timur yang berciri khas saling menghormati serta menghargai keragaman.

Oleh sebab itu budaya dan sejarah peradaban bangsa Indonesia perlu berkelanjutan diajarkan pada anak usia dini terutama budaya gotong royong, kerja bakti, cinta pada orangtua, cinta agama yang dianut karena jika tidak diajarkan anak usia dini akan menjadi pribadi yang meniru budaya-budaya luar. 

3. Landasan Keilmuan Pendidikan Anak Usia Dini
Menurut Yuliani Nurani (2009:10) konsep keilmuan PAUD bersifat isomorfis, artinya kerangka keilmuan PAUD dibangun dari interdisiplin ilmu yang merupakan gabungan dari beberapa disiplin ilmu, diantaranya: psikologi, fisiologi, sosiologi, ilmu pendidikan anak, antropologi, humaniora, kesehatan dan gizi serta neurosains (ilmu perkembangan syaraf otak manusia). 

Berdasarkan tinjauan secara psikologis dan ilmu pendidikan, masa usia dini merupakan masa peletak dasar atau fondasi awal bagi pertumbuhan dan perkembangan anak. Segala sesuatu yang diterima oleh anak usia dini, seperti makanan, minuman, serta stimulasi pengasuhan dari lingkungan akan memberikan pengaruh secara signifikan pada pertumbuhan dan perkembangannya.

Sementara, secara empiris banyak hasil laporan penelitian yang menghasilkan kesimpulan betapa pentingnya usia dini yang dilayani dalam proses pendidikan. Hasil-hasil penelitian tersebut menurut Clark (dalam Yuliani Nurani, 2009) menunjukkan fakta penting bahwa sejak manusia dilahirkan telah memiliki kelengkapan organisasi struktur otak mencapai 100-200 milyard sel otak yang siap dikembangkan dan diaktualisasikan untuk mencapai perkembangan optimal. 

Akan tetapi, hasil penelitian berbeda melaporkan hanya 5% potensi otak yang terpakai karena kurangnya stimulasi yang berfungsi untuk mengoptimalkan otak (Fachrul, 2019).

Dengan demikian, dapat dipahami bahwa penanda pentingnya usia keemasan anak usia dini terletak pada tiga landasan penyelenggaraan PAUD yang dapat menjadi pertimbangan orangtua untuk tetap menyekolahkan anak serta mendidik dalam kondisi apapun. Hal tersebut bertujuan untuk menyiapkan anak menjadi generasi unggul yang akan memajukan bangsa Indonesia.