BAB 1 : Hakekat PAUD
Sejak era reformasi bangsa Indonesia, perkembangan pendidikan anak usia dini mulai memiliki "panggung" untuk memajukan pendidikan anak bangsa. Oleh karena itu untuk pembaca memahami apa sebenarnya hakekat PAUD, maka harus mengetahui bagaimana sejarah perkembangan pendidikan anak usia dini di Indonesia. Hal tersebut bertujuan agar pembaca memiliki wawasan secara holistik berkaitan alur pendidikan anak usia dini. Maka uraian penjelasan berikut, penulis membagi menjadi tiga bagian :
(1) Sejarah Pendidikan Anak Usia Dini di Indonesia
(2) Pengertian PAUD
(3) Tujuan & Manfaat PAUD
..............................................................................
(1) Sejarah Pendidikan Anak Usia Dini di Indonesia

Berbagai hasil studi literatur melaporkan bahwa pasti terjadi dinamika yang menggambarkan perjalanan panjang dan pasang surut dunia pendidikan di Indonesia. Kehadiran dunia pendidikan anak usia dini telah terjadi pada masa sebelum kemerdekaan bangsa Indonesia. Dikutip dalam www.paud.id.com, menjelaskan kehadiran PAUD di Indonesia sesungguhnya dimulai sejak sebelum masa kemerdekaan. Pada masa tersebut, dapat ditelusuri secara valid melalui dua periode, yakni pada masa pergerakan nasional (penjajahan Belanda) tahun 1908-1941 dan masa penjajahan (Jepang) tahun (1942-1945). Namun demikian, keberadaan PAUD di Indonesia tidak terlepas dari perkembangan PAUD di kancah dunia internasional. Dari sumber tersebut, dapat dipahami bahwa perkembangan PAUD di Indonesia menjadi arah kebijakan pendidikan hingga saat ini. Mengingat sisa-sisa warisan penjajahan masih terasa bahkan dilakukan pengembangan dalam dunia praktik pendidikan anak usia dini yang banyak mengadopsi aliran-aliran model penyelenggaraan PAUD di dunia internasional.
Adapun tokoh pelopor yang menjadi awal perkembangan pendidikan anak usia dini adalah Froebel yang mendirikan Kindergarten di Kota Blankerburg, Jerman pada tahun 1840 (Yuliani Nurani, 2009). Kinder berarti anak dan garten berarti taman. Menurut Froebel, anak usia dini diibaratkan seperti tunas tumbuh-tumbuhan, masih memerlukan dan perhatian sepenuhnya dari si juru tanam(Hapidin,2011) 
Pengaruh pemikiran Froebel melahirkan produk pendidikan anak usia dini untuk perawatan anak-anak dari keluarga miskin dan kaum buruh, dengan nama lembaga Casa del Bambini yang berarti rumah untuk perawatan anak yang selanjutnya dikenal sebagai rumah anak. Tokoh tersebut dikenal dengan teorinya, yakni Maria Montessori (Masnipal, 2013).
Sementara di Indonesia, pemerintah Hindia Belanda membawa konsep pandangan dunia tersebut (Froebel & Montessori) pada pendidikan di Indonesia. Sayangnya, pelaksanaan pendidikan anak usia dini terjadi ketimpangan yang tinggi pada bangsa Indonesia, karena keberadaan sekolah - sekolah tersebut untuk anak - anak keturunan Belanda, Eropa, dan Bangsawan. Lebih lanjit Masnipal (2013) menguraikan pada kondisi tersebut, berdiri berbagai pergerakan seperti Persatuan Aisyiyah (mendirikan Bustanul Athfal) di Yogyakarta mengusung pemikiran tokoh pendidikan Indonesia, Ki Hajar Dewantara. Materi kurikulum menanamkan sikap nasionalisme dan nilai-nilai ajaran agama. Lembaga tersebut mengikuti perkembangan pendidikan anak usia dini di Eropa (1922). Hingga masa penjajahan Belanda berakhir, Jepang tidak begitu ketat dalam mengawasi pendidikan anak usia dini. Perubahan yang Jepang lakukan adalah mewajibkan anak-anak menghafal lagu nyanyian-nyanyian Jepang.

Hingga pada akhirnya masa setelah kemerdekaan (periode 1945-1965; 1965-1998;1998-2003;2003-2009;dan periode 2010-sekarang), menurut penulis perkembangan sejarah pendidikan anak usia lebih pada menemukan "payung hukum" yang menaungi kebijakan strategis pendidikan anak usia dini dalam rangka mempersiapkan kado emas 100 tahun kemerdekaan Indonesia.
..............................................................................
(2) Pengertian PAUD
Menelaah definisi PAUD perlu dipahami bersama bahwa istilah PAUD lebih tepat disebut produk "payung hukum" agar tidak terjadi perdebatan maupun pembeda penyelenggaraan pada satuan sekolah. Karena terdapat fenomena di kalangan masyarakat serta praktisi yang tidak mampu menjelaskan dengan baik apa itu PAUD? 
Sementara, merujuk Pasal 1 (14) UU Sisdiknas Nomor 20 Tahun 2003, PAUD adalah "suatu upaya pembinaan yang ditujukan kepada anak sejak lahir sampai dengan usia enam tahun yang dilakukan melalui pemberian rangsangan pendidikan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani agar anak memiliki kesiapan dalam memasuki pendidikan lebih lanjut". 
PAUD juga merupakan "pemberian upaya untuk menstimulasi, membimbing, mengasuh, dan pemberian kegiatan pembelajaran yang akan menghasilkan kemampuan dan keterampilan pada anak (kompetensi).
Dari pengertian tersebut, perlu dipahami bahwa terdapat batasan usia paud yakni lahir hingga enam tahun. Namun, hal tersebut menjadi acuan pengertian usia PAUD yang dilayani dalam konteks pendidikan anak usia dini di Indonesia. Sedangkan Masnipal dalam Eka (2014) menjelaskan bahwa anak usia dini menurut sebuah asosiasi perkumpulan untuk PAUD tingkat dunia internasional, NAEYC (National Association for The Education of Young Children), adalah anak yang berusia antara 0 sampai 8 tahun yang mendapatkan layanan pendidikan di taman penitipan anak, penitipan anak dalam keluarga (family child care home), pendidikan prasekolah baik di dalam negeri maupun swasta, taman kanak-kanak (TK) dan sekolah dasar (SD). Dengan demikian, penulis menggarisbawahi agar memahami istilah pengertian PAUD menggunakan konsep dari Indonesia dan asosiasi PAUD tingkat dunia terutama untuk orangtua atau pemerhati anak usia dini.
..............................................................................
(3) Tujuan & Manfaat PAUD
Mengetahui tujuan serta manfaat PAUD mampu memberikan pengalaman lebih dalam praktik menyekolahkan anak serta melakukan pengasuhan di lingkungan rumah. Terutama bagi orangtua muda yang perlu memiliki alasan kenapa harus mempelajari ilmu PAUD. Sebab pada umumnya, tujuan PAUD adalah untuk mengembangkan berbagai potensi anak sejak lahir sebagai persiapan untuk hidup dan dapat menyesuaikan diri dengan lingkungannya. Adapun tujuan PAUD antara lain adalah:
a. Kesiapan anak memasuki pendidikan lebih lanjut
b. Mengurangi angka mengulang kelas
c. Mengurangi angka putus sekolah
d. Mempercepat pencapaian wajib belajar Pendidikan Dasar 9 Tahun
e. Meningkatkan Mutu Pendidikan
f. Mengurangi angka buta huruf muda
g. Memperbaiki derajat kesehatan & gizi anak usia dini
h. Meningkatkan Indeks Pembangunan Manusia (IPM)
(Sumber: Kemendikbud, Direktorat Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini, 2012)
Akan tetapi, selain tujuan diatas, mengutip dari UNESCO (2003) tujuan PAUD antara lain berdasarkan beberapa alasan:
a. Alasan pendidikan, PAUD merupakan fondasi awal dalam meningkatkan kemampuan anak untuk menyelesaikan pendidikan lebih tinggi, menurunkan angka mengulang kelas dan angka putus sekolah
b. Alasan ekonomi, PAUD merupakan investasi menguntungkan bagi keluarga maupun pemerintah
c. Alasan sosial, PAUD merupakan salah satu upaya untuk menghentikan kemiskinan
d. Alasan Hak/Hukum, PAUD merupakan hak setiap anak untuk memperoleh pendidikan yang dijamin oleh Undang-Undang

Dengan demikian, dua dasar tersebut dapat menjadi pertimbangan para orangtua/pemerhati anak usia dini tetap berpartisipasi dalam menyekolahkan terutama pada masa pandemi covid19 yang sedang dirasakan oleh seluruh bangsa di belahan dunia saat ini