Sakit
Sepulang dari restoran, William dan Ella masuk ke kamar masing-masing. Namun, baru beberapa detik William merebahkan tubuhnya ke atas ranjang, sebuah ketukan pintu terdengar. Dengan malas William berjalan ke arah pintu dan melihat siapa yang mengganggunya.

"Ada apa?" tanyanya dengan wajah datar.

"Will, apakah AC di kamarku bisa dimatikan dan diganti kipas angin saja?" tanya Ella dengan ragu.

"Di rumah ini tidak ada benda itu. Bahkan kamar pelayan di rumah ini menggunakan AC juga." William menolak permintaan Ella.

"Tapi sudah beberapa hari aku tidak tidur dengan nyenyak. Aku selalu kedinginan setiap malam dan malam ini kepalaku terasa sangat pusing karena masuk angin."

William memerhatikan wajah Ella yang agak pucat. Pantas saja selama di restoran dia diam saja dan tidak terlihat sehat.

"Baiklah, tapi besok saja aku belikan kipas anginnya. Jika kau tidak tahan dinginnya AC, kau bisa mematikannya."

"Mematikan? Tapi itu tidak mungkin. Aku pernah mematikannya dan rasanya seperti direbus. Lagipula jendela kamar tidak ada yang bisa dibuka untuk membiarkan angin masuk."

"Kalau jendela bisa dibuka, bukan hanya angin, tetapi pencuri pun akan masuk."

"Jadi bagaimana?" Ella terlihat bingung.

"Tahan saja untuk satu malam ini. Pakailah selimut hingga menutupi seluruh tubuhmu," ujar William.

"Baiklah." Ella mengangguk pasrah dan kembali ke kamarnya.

Di dalam kamar, Ella masih merasa kedinginan. Tubuhnya yang tidak pernah disentuh AC membuat daya tahan tubuhnya menurun.

"Aku tidak akan bisa tidur kalau begini. Eh, seingatku ada balkon kan? Aku tidur di balkon sajalah."

Ella mengambil selimut dan bantal lalu pergi ke balkon. Ia berbaring di kursi santai yang ada di sana. Udara segar mulai menyentuh kulitnya. Membawanya pada kenyamanan tidur yang ia rindukan. Dalam beberapa menit, Ella pun tertidur. Hingga waktu semakin malam dan udara semakin dingin tak membuatnya bangun karena sangking lelahnya.

*****

Pagi hari pun tiba. William membuka matanya dan meregangkan otot-otot tubuhnya. Kemudian, ia berjalan menuju balkon kamarnya untuk menikmati pagi yang indah itu.

Matanya menyapu seluruh pemandangan yang ada di sekitarnya hingga ia melihat sebuah pemandangan yang mengejutkan. Ella terlihat berbaring di balkon kamarnya dengan wajah pucat dan tubuh menggigil. Dengan cepat William berlari keluar kamarnya dan mencoba membuka kamar Ella dengan kunci cadangan.

"Ella, kau kenapa?" William menggoyangkan tubuh Ella yang masih terus menggigil.

"Siti!!!" panggil William.

Tak berselang lama, kepala pelayan yang bernama Siti datang. "Ada apa, Tuan?"

"Coba periksa tubuhnya!" titah William.

Siti langsung memeriksa tubuh Ella.

"Tuan, Nona Ella demam tinggi."

"Cepat panggil dokter Steven."

Siti segera menghubungi dokter Steven. Sedangkan William memindahkan Ella ke ranjang. Mata Ella masih terpejam, namun, ia terus menggigil.

Sepuluh menit kemudian, dokter Steven yang merupakan teman William sekaligus dokter pribadinya datang. Jarak rumah yang dekat memungkinkan nya datang dengan cepat.

Steven segera memeriksa kondisi Ella. Memberinya suntikan dan obat untuk di konsumsi saat sudah sadar.

"Bagaimana?" tanya William.

"Kelihatannya kau khawatir sekali," goda Steven.

"Berhentilah basa basi dan katakan bagaimana keadaannya!"

"Dia sudah baikan, demamnya juga sudah turun. Dia terlalu banyak angin-anginan. Apa dia tidur di lantai?" tanya Steven.

"Aku tidak sejahat itu. Ya sudah, pulang sana!" William mengusir Steven.

Steven keluar sambil tersenyum pada William. Namun sebelum ia pergi, ia mengatakan sesuatu. "Kau tahu, dia ini memiliki kecantikan alami. Aku bisa melihat kulit wajah tanpa kandungan zat berbahaya pada wajahnya. Kau beruntung memiliki istri yang memiliki wajah alami seperti dia. Jarang sekali ditemukan gadis dengan kulit wajah seperti itu."

"Enyahlah, dokter playboy !" William hendak melempar bantal pada Steven.

Steven langsung menghindar dan melanjutkan langkahnya. 'Ah beruntung sekali William. Seandainya kau tidak menyukainya, kau bisa melepaskannya untukku. Aku akan dengan senang hati menerimanya,' batin Steven yang terus tersenyum di tengah derap langkahnya.

*****

Ella sudah sadar. Perlahan, ia membuka mata dan langsung melihat William berada di sampingnya.

"William, kenapa kau tidak bekerja?" tanya Ella.

"Aku sudah mengundurkan jadwal meeting pagiku karena seseorang sedang sakit."

"Siapa yang sakit?"

"Siapa? Lihat dirimu." William berdecak kesal.

"Aku sakit apa?" tanya Ella.

"Yang kau rasakan saat ini memangnya apa?"

"Aku merasa sedikit pusing." Ella memegangi kepalanya.

"Apa yang kau lakukan di balkon kamarmu?" William menatap heran pada Ella.

"Aku tidak bisa tidur dengan AC. Aku pikir tidur di luar lebih baik, ternyata tidak."

"Karena itu jangan lakukan hal bodoh. Tidak bisakah kau menunggu sampai pagi ini?"

"Maafkan aku." Ella menunjukkan ekspresi sedih.

William menghela nafas panjang. "Baiklah, ya sudah aku harus pergi bekerja. Kau makanlah yang banyak dan minumlah obatmu. Aku ingin kau sudah sembuh saat aku pulang. Pengawal akan melepas AC di kamarmu dan menggantinya dengan kipas angin."

"Terima kasih, Will." Ella memberikan sedikit senyuman.

"Aku pergi." William hendak beranjak namun Ella menahan tangannya.

"Ada apa?"

"Apa boleh aku mencium punggung tanganmu?" tanya Ella ragu.

"Kenapa?"

"Itu hal yang dilakukan istri pada suaminya yang hendak berangkat bekerja," jelas Ella.

"Oh ya sudah."

William memberikan tangannya, membiarkan istrinya mencium punggung tangannya sambil berkata, "Hati-hati, ya."

"Hmmm." William mengangguk dan pergi keluar dari kamar itu.

Setibanya di kantor, Aiden sudah ada di sana.

"Ayah!"

"Kenapa kau mengundurkan jadwal meetingmu?"

"Maafkan aku, Yah. Itu karena....aku bangun kesiangan."

"Oh ya? Bukankah karena Ella sakit?"

William terkejut mendengar ucapan ayahnya. "Darimana.... Ayah tahu?"

"Tidak penting dari mana Ayah tahu. Katakan! Kenapa dia bisa sakit? Apa kau melakukan sesuatu padanya?" tanya Aiden penuh selidik.

"Tidak, Ayah. Aku tidak melakukan apa-apa. Dia hanya tidak bisa tidur dengan AC."

"Bukan karena dia tidur di balkon?"

"Apa Siti yang memberitahu ayah?"

"Siti? Ibumu datang ke rumahmu tepat saat kau berangkat bekerja. Ella mengatakan semuanya."

"Apa?"

'Astaga, aku lupa memberitahunya untuk tidak mengatakan ini pada ayah dan ibu,' batin William.

"Maafkan aku, Ayah. Aku tidak mungkin menggedor toko perabot jam sebelas malam."

"Kau bisa melakukannya. Ini baru kipas angin, bagaimana saat dia hamil dan ngidam ketoprak jam tiga pagi seperti ibumu? Pasti kau tidak akan peduli."

'Apa? Hamil? Yang benar saja,' batin William.

"Maaf, Ayah. Aku berjanji akan menjaganya lebih baik lagi."

"Bagus, itu baru anak Ayah, ayo kita mulai meetingnya." Aiden menepuk bahu William dan mengajaknya ke ruang meeting. Di sana juga ada Harry, adik kembarnya.

'Jika Ella menikah dengan Harry, aku yakin mereka akan mengalami hari yang berat. Aku juga ragu dia akan ingat jika punya istri. Astaga apa yang aku pikirkan. Dia adikku, kenapa aku malah menghina kelemahannya. Aku pun punya kelemahan yang cukup memalukan yang tidak semua orang tahu,' batin William.

Setelah mereka memasuki ruang meeting tersebut, rapat segera dimulai. Aiden memimpin rapat besar itu. Meskipun sudah berumur, Aiden masih tampan dan berwibawah. Dan tentu saja ketampanan kedua anak kembarnya menurun dari dirinya.

Sementara itu.
Di rumah William.

"Bagaimana, Sayang, apa sudah baikan?" tanya Haira pada Ella.

"Iya, Bu," sahut Ella. 'Dengan ibu menyodorkan tiga pil untuk ku telan sekaligus, aku yakin akan sembuh lebih cepat,' batinnya.

"Maafkan William ya, Sayang. Jika dia pulang nanti, ibu akan memarahinya, awas aja dia." Haira mengepal erat tangannya dan meninju telapak tangan satunya. Tampak wajahnya yang sangat kesal karena William sudah membuat menantunya tidur di balkon.