#Part 4


" aaaaaaaaaa......!" aku terus menjerit kuat .
Terkejut sekaligus takut itulah yang ada dalam benakku sekarang.

Timbul sedikit penyesalan dalam hatiku,kenapa aku tadi gak pamit sama emak dulu.

Aku rasa enakpun sekarang pasti kuatir ,karena aku menghilang sebentar gak bilang bilang dulu mau kemana.

Beberapa rollingan sontak membuat kepalaku sedikit pening.Kuusap pelan rambutku,ada darah disana.Berarti aku terluka.

Sewaktu berguling tadi,kepalaku sempat terhantuk suatu benda.Mungkin itu penyebabnya.

Sambil berusaha bangkit,aku berdiri perlahan.Ku dengar samar ada suara langkah kaki yang mendekat.Aku gemetar,sekaligus takut.

" Disini rupanya kau,Gung?.Ngapain kau mblangsak siang siang ke sawitan.Buat orang kuatir aja!" Ternyata kakekku yang muncul

Mungkin kakek orang yang mendengar ketika aku menjerit kencang tadi,makanya gegas beliau mencari kesumber suara.


"Ayo pulang! Kok malah bengong disitu." Pinta kakek

Aku masih shoc,makanya aku slow respon.


" Kakiku sakit,kek.Kepalaku pun sedikit pening". Jawabku


Mendekatlah kakek kearahku.Terkesiap dia mendapati kepalaku berdarah mulai bercucuran.


" Ayo kakek gendong aja!"


Waktu itu,aku masih umur empat setengah tahun ya gaes,jadi masih kecil.Tapi da hobi melalak ke sawitan hihihi

Aku nurut aja digendong kakek sambil meringis menahan sakit.

Gegas langkah kakek keluar dari kebun sawit.


Dalam hati setengah mati aku takut direpet emakku.Aku tahu,emak bukan marah.Tapi karena saking kuatir dan sayangnya,dia seperti itu sama aku,anaknya.

Pernah emak menjelaskan,emak marah ato membebel itu bukan berarti emak benci.Tapi karena saking kuatir juga saking sayang emak sama aku. 


" Coba kalo agung berbuat salah,bila tidak dibetulkan,apakah Agung tau kesalahan Agung?" Tanya emak

" Itu sebabnya,emak selalu langsung tegur aja.Jadi besoknya lagi jangan buat kesalahan yang sama ya,nak?. Lanjut emak


Disitulah aku paham gaes,ternyata emak sayang aku dengan caranya yang seperti itu.



" Ti....Oh Siti! Iki anakmu ceblok.Dolanan dewe nang sawitan dewean ra ono kancane.Endase luka iki.Cepet ndang di gowo nang nggone Bu Lina!"


("Ti.... Oh Siti! Ini anakmu jatuh.Main sendirian di kebun sawit sendirian ga ada temannya.Kepalanya luka ini.Cepat dibawa ketempat Bu Lina!") 


Ditempatku sudah biasa ya gaes,kalo ngomong dicampur campur,kayak gado gado itu.Kami menetap di Sumatera bagian Utara.


Dilingkungan sekitar sini,ngomong bahasa Jawa dicampur bahasa Indonesia kadang diselipi bahasa lokal juga.seru lah pokoke hihihi


Pias muka emak kutengok.Bibirnya bergetar menahan tangis saat dilihat kondisiku dengan kepala berdarah.


"Ayo,bapak bonceng ,bopong iki si Agung!" Perintah kakek


Gegas emak mengambil alih tubuhku dalam dekapannya.Ditepuk tepuk pelan bagian belakang badanku.

Mungkin saking shoc nya,emak sampai lupa jurus andalannya.Maklum gaes,emakku ini gemetaran kalau ternampak darah.Emak pernah bilang,badannya jadi lemes bila nampak orang lain yang berdarah.


Mau tidak mau emak harus gendong tubuhku,walau sebenarnya dia lemas.


( Maafkan aku mak,sudah buat emak kuatir) ucapku dalam hati


Sesampainya dirumah bu Lina yang merupakan bidan itu,aku diletakkan dipembaringan.


" Ini kenapa pak cucunya,kok sampai kek ginilah kepalanya" .Tanya bu Lina.


"Jatuh bu". Jawab kakek singkat


Dibersihkan kepalaku yang berdarah itu sebersih mungkin.Sambil meringis aku menahan perih lukaku.


"Ini harus dijahit lho pak lukanya.Buat mengurangi pendarahan" .Saran bu Lina



" Ya uda gimana baiknya lha,bu.Yang penting lekas sembuh kepala cucuku ini" .Kakek menyetujui.


" Kalo gitu harus ada yang mangku ya ,pak! Biar awak gampang ngerjakannya".


Kakek menoleh kearah emak.

" Piye iki,Ti.Bapak opo awakmu seng mangku Agung?". Tanya kakek


(" Gimana ini ,Ti.Bapak atau kamu yang memangku Agung ?" Tanya kakek)


"Wes bapak aelah seng mangku,aku ora tegel nguwasi geteh". Jawab emakku


" (Sudah bapak ajalah yang memangku,aku ga tega melihat darah".) Jawab emakku


Kakek mengambil tubuhku dari pembaringan.Dipangkunya aku yang ketakutan denger kalimat kepala dijahit.


Hii....ngeri ,sakit aku membayangkannya jarum itu menembus kulitku .


Dengan telaten bu Lina mencukur sebagian rambutku.Agar lokasi luka yang mau dijahit bersih,sehingga memudahkan kerja bu Lina nanti.

Disuntik entah apa itu kepala.


"Aaaaaaaaaa....." aku menjerit karena kaget


" Uda,ga papa,nak! Cuma sebentar aja,ya?". Bu Lina menenangkan.


"Da siap! Cepet kan,nak? Lain kali jangan lasak lagi ya!" Kata bu Lina 


Aku tidak menyahuti bu Lina.Aku diam aja.


"Jadi dua hari lagi datang kemari cek perban ya ,pak! Sambil kontrol lukanya terus ganti perban baru". 


" Ya uda kalo gitu kami permisi dan terimah ya bu atas pertolonganny". Jawab emak sambil menyelesaikan administrasinya.

" Iya,sama sama bu.Hati hati dijalan.semoga lekas sembuh si Agung ,ya?" Bu Lina mendoakan



######


Turun dari sepeda motor,emak membopong tubuhku masuk ke rumah.


" Makan dulu ya,nak!" 


Aku tahu,selepas ini pasti emak merepet.Dibiarkannya aku tenang juga kenyang dulu.


" Iya,mak?". Jawabku pelan.

Gak berani aku tengok muka emak.Aku takut karena memang aku salah.Pergi keluar rumah tadi tidak pamitan dulu.


" Nah,ini habiskan makannya!Lepas tu ,mak mau nanya!".





Kira kira emak mau nanya apa ya gaes?
Yok pantengin dibab selanjutnya.Jangan lupa subcribe nya ,ya.Biar Agung semangat nulis kisahnya....


Ayo baca lengkap di KMB App mak thornya @ Sitinuraini41 judulnya EMAK.