04

"Akan saya coba, Pak. Apa hanya itu?"

_________________

Guru BK mengangguk. 

"Saya, boleh keluar?"

Ia mengangguk lagi. 

"Saya, permisi." Azam mencium tangannya dan melenggang pergi tanpa memedulikan Sinta yang terus mengekori langkahnya.

"Zam!" Ternyata Hengky menunggu di teras kantor, ia menyapa duluan lalu menggandeng tangan Azam, tidak memedulikan Sinta yang tersenyum masam.

"Kamu, mau ke perpus kan?"

"Iya," angguk Azam.

"Aku mau tunjukkan sesuatu."

"Apa?"

"Ayo, di perpus aja!"

Sesampai di perpus, Hengky mengeluarkan buku gambar yang dipegangnya sedari tadi. Azam sempat melirik saat di jalan, tapi tak terlalu menghiraukan.

Azam menatapnya. Menunggu sebuah kalimat penjelas.

"Aku menggambar kamu yang lagi dorong Sinta. Tara ...."

Netra Azam melebar, coretan pensilnya seperti nyata.

"Waaw, keren banget, bakal jadi seniman sejati kamu Ky," tuturnya seraya menepuk bahu Hengky.

"Aamiin, kita pajang di mana, ya?" Hengky merasa terbang setelah dipuji sahabatnya itu, persahabatan yang baru berusia satu bulan. Hengky yang tinggal bersama nenek, memutuskan ikut Ibunya yang sekarang menjadi PNS di tempat Azam bersekolah.

"Di mading." Jawab Azam cepat.

"Nah, cocok biar semua orang liat. Aku sebel banget tau sama Sinta itu, mana centil, mulutnya nyerocos, suka ngomongin orang. Ih!" Azam melihat Hengky bergidik, ternyata tak hanya ia, yang tidak suka perempuan lemes. Batinnya.

"Biar kapok, dia," Imbuhnya. Hengky tertawa puas.

Azam tersenyum melihatnya yang ekspresif.

"Pulang sekolah aku ke rumahmu, ya?"

"Jangan langsung, aku sibuk."

"Oke, jam dua, deh!"

"Oke."

"Bantu warnai ini dong, biar cepet selesai!" Hengky menyodorkan pewarna.

"Warna apa, ya?" 

Hengky memainkan pensilnya ke meja, sehingga menimbulkan suara.

"Putih merah dong. Kan kejadiannya di sekolah."

"Hahaha. Iya, ya."

Mereka asyik memberi warna pada lukisan, sampai tak mendengar suara bel masuk. Sekolah lengang, dua anak itu langsung memasang lukisan di mading kemudian masuk ke dalam kelas. 

"Eh, Mamanya Azam nikah lagi loh, sama Om pake mobil mewah."

Sesaat Azam dan Hengky masuk, Sinta mulai membeo lagi, membicarakan orang tua Azam. Padahal kejadian ini sudah berlangsung beberapa tahun lalu, tapi kenapa justru viral beberapa pekan ini.

"Emang kamu liat, Sin?"

Tanya teman sebangkunya.

"Liat, dia bawa koper gede."

Gigi Azam gemeletuk mendengar ocehan Sinta dan temannya. Ia beranjak dan memindahkan pantat ke sudut kelas, bertukar tempat dengan anak bertubuh tinggi, lebih tinggi darinya.

Jam belajar berakhir, Azam dan Hengky pulang bersama. Cukup lelah berjalan kaki. 

"Ayo, mampir dulu. Nanti ke rumahmu sama-sama."

Tawar Hengky pada Azam.

"Kamu, nyusul aja nggak papa dong? Aku banyak kerjaan, nanti kita gak bisa belajar kalo kerjaanku belum selesai."

"Ehm ... Oke deh."

Azam bergegas pulang, di jalan dihadang Sinta. Ia masih saja merasa kurang puas sudah menggunjingnya sedemikian rupa. Ucapan Sinta kali ini benar-benar membuat ia murka. Azam menjambak rambutnya dan mendorong tubuh Sinta, hingga jatuh. Tetangga dekat rumah seketika berkerumun. Darmi marah besar karena Azam sudah menyakiti putrinya.

"Dasar kamu! Bapak dan anak memang sama, suka main tangan, pantes aja istrinya gak betah. Kasar, sih!"

"Buah jatuh tak jauh dari pohonnya, memang." Jawab salah seorang dari belakang.

"Cukup!" 

Bentak Azam pada mereka yang mencibir. Ia berlari menuju rumah, membanting pintu dengan keras. Ia keluarkan semua yang menyesakkan dada namun hanya air mata yang tersisa. Setelah merasa baik, Azam menata tubuh dan mengganti pakaian. Ia mencari sesuatu di lemari dapur, menemukan sebungkus mi instan lalu diseduh dan memakannya dengan lahap. 

Azam bergegas membersihkan rumah, karena Hengky akan segera datang. 

Tiba-tiba suara pintu diketuk. Ia membukanya, Hengky sudah rapi dan wangi. Terbesit rasa iri padanya 'Andai Mama ... ah, tidak. Aku sudah membuangnya dari ingatan'. Gumam ia pelan.