1
tes...tes...tes...

Suara air dalam kamar mandi tak berhenti sedari tadi. Sesaat suara berdebam pintu kamar mandi tertutup.

Aku yang terlelap sejenak, terperanjat bangun. Tidak kutemukan Sakinah di sampingku.

Padahal kami semalam, bersama-sama merevisi proposal. Minggu depan kami akan ujian proposal sebelum masuk bab penelitian.

"Sa... sakinah? Kamu di dalam?"

Tidak ada jawaban dari dalam. Suara air pun juga berhenti. 

Wushhh...

Angin menerpa wajah menyibak rambut, tatkala kudorong pintu kamar mandi. Tidak ada siapa-siapa di dalam.

Aku mengecek kran air, posisinya tertutup. Persis pas sore tadi, aku sudah menutupnya. Lantai kamar mandi juga kering.

Kututup kembali pintu itu lalu melangkah menuju ke kamar dengan kondisi masih mengantuk. Aku terperanjat ketika melihat laptopku hidup sendiri.

Aku menggaruk kepalaku yang tak gatal. Padahal tadi sudah kumatikan. Diam-diam jahil sekali Sakinah ini, keluhku dongkol.

Kulihat, Sakinah terlelap di ruang tamu. Kakinya meringkuk kedinginan. Pintar juga ia berpura-pura tidur, gumamku.

Aku melangkah mendekati laptopku yang menyala. Cepat-cepat kumatikan lalu meletakkannya ke lemari. Kulihat jam menunjukkan pukul 12 tengah malam.

Malam masih panjang ternyata. Kutarik selimutku menutupi telinga.

Tap.... tap... tap... 

Seiring terdengar langkah-langkah kaki begitu dekat di teras depan kamar. Apa peduliku? Mata ini terasa begitu mengantuk.

Samar-samar diantara sunyinya malam. Seseorang memanggilku dengan suara lirih.

"Dea... Dea..., tolong aku."



***

" Dea, kau yakin akan pindah dan ngekost di sini?"

Aku mengangguk dan mataku berbinar mendapati kost-an baru ini mempunyai pohon mangga. Aku memang suka buah mangga, tetapi bukan itu.

Adanya pohon di pekarangan tak luas ini membuat suasana menjadi sejuk. Mengingat udara kota pempek ini sangat panas tatkala siang hari.

"Di sini sejuk, Say dan aku tidak khawatir kebanjiran kalau hujan turun. Aku bosan dengan julukan putri duyung," jawabku sambil bercanda.

kost-an baruku ini beruntungnya berdekatan dengan rumah sang pemilik. 1 lahan kapling tetapi jalur jalan yang berbeda.

Posisinya saling membelakangi. Satu-satunya penghubung akses langsung dengan rumah pemilik kost-an adalah pintu dapur yang tepat di bawah tangga menuju lantai dua.

Kebetulan aku mendapatkan kamar di lantai dua. Alasannya tak lain tak bukan, beberapa bulan lagi Diva, adikku juga akan kuliah di kota yang sama denganku.

Hasil tesnya kemarin, Diva lulus disalah satu kampus islam negeri di salah satu kota besar daerah sumatra. Mau tak mau, aku sebagai kakak turut bertanggung jawab selama ia kuliah di sini. Meski aku berbeda kampus dengan Diva, kedua orang tuaku yakin kami bisa saling membantu.

Tidak aku gubris segala keluh kesah Sakinah, teman akrabku. Aku mulai sibuk membersihkan tiap ruang.

Beruntung, tempat ini cukup luas untuk anak kuliahan sepertiku. Ruangan ini memanjang ke belakang. Ada empat ruangan di kamar ini. Ruang tamu, kamar tengah, dapur dan kamar mandi.

Lebih dari cukup untuk berbagi ruang bersama Diva. Di banding di kost-an lama. Satu ruang kamar sempit, pastinya tidur berdesakan.

Hampir dua jam, aku dan Sakinah berjibaku membersihkan ruangan ini. Barang-barang juga sudah tersusun rapi.

Kami berdua pun langsung mengambil posisi rebahan karena kelelahan. Untung saja, kami tadi sempat mampir di gerobak cinlok dan bakso.

Setidaknya mengobati rasa lapar dan rasa capek kami. Tetangga kost-an kiri-kanan tampaknya juga belum pulang. Jadi kami leluasa makan di teras yang memanjang hingga ke ujung.

Angin semilir berembus membuat suasana makan siang ini semakin nikmat. Sakinah terlihat begitu konsentrasi dengan mangkuknya.

"Malam ini, temenin aku ya, kamu tidur di sini. Diva kemungkinan besok siang akan sampai di sini."

Uhuksss!

Sakinah tersedak, mendengar permintaanku. Buru-buru kusodorkan air mineral botol yang sudah kubuka tutupnya.

Wajahnya memerah seketika karena tersedak. Bisa kurasakan sakit dan perihnya. Aku pernah mengalaminya juga.

"Makannya, pelan-pelan Sakinah bersamamu. Aku enggak minta kok," ucapku kalem sambil mengusap punggungnya.

Ia mendelik marah, tangannya mengusap mulut dengan tisu. Ia hendak menolak tawaranku. Namun langsung kusodorkan layar ponsel di depannya.

Ia membaca pesan yang kukirim kemudian ia melemparkan tisu tadi. Aku menghindar sambil nyengir kuda. Mamanya kuhubungi via BB messenger, meminta izin agar Sakinah menemaniku malam ini.

Ia tak bisa menolak lagi. Kubiarkan ia dengan rasa dongkolnya. Sehabis makan, aku ambil piringnya untuk dicuci. Awalnya menolak, tetapi aku bersikeras. 

Kutinggalkan ia yang sedang asyik dengan ponselnya.

Disela-sela asyik mencuci diantara busa sabun. Sakinah berteriak dari ruang depan.

"De! Dea... lagi uzur ya?"

"Apaan sih Sakinah?" dumelku dalam hati.

Tanggung rasanya meninggalkan cucian sedikit lagi rampung. Kutuntaskan dengan meletakkan rapi di rak piring. Lalu menemui Sakinah ke ruang depan.

Sebelum aku sempat bertanya, Sakinah menunjukkan sesuatu dari pintu hingga ke teras.

"I-itu..., jangan bilang kamu enggak uzur. Soalnya aku juga enggak,"' ujarnya terbata.

Kuikuti arah tangannya. Mendadak embusan angin yang lewat membuat bulu kudukku meremang.

Aku berjengit ngeri menatapnya. Sakinah menubrukku, memeluk. Membuatku sedikit gementar

Tetesan darah segar terlihat menjejak di lantai. Berakhir di tangga menuju lantai satu.

"'I-ini, darah siapa?"

***

Hai reader setia jangan lupa tinggalkan jejak  ❤

Tabik othor