Paket Datang
Beberapa hari kemudian, aku coba iseng mengecek pemberitahuan aplikasi orange. Disitu tertulis kalau paket sudah sampai di kantor paket setempat. Aku jadi degdegan, kayak orang nunggu surat cinta dari tersayang.

Sampai jam dua belas siang, paketku tak kunjung datang, aku mulai harap-harap cemas. Sambil menunggu kang paket datang, aku kembali mengacak-acak rambut Maya, hanya telur yang sudah kosong, yang kudapati. Lalu kemana pula makhluk berkaki itu hinggap.

"PAKEEET....." teriak kang paket di luar rumah.
Pucuk di cinta, ulampun tiba, akhirnya obat kutu yang dinanti-nanti datang.
Asyiap... Aku lalu bergegas membuka pintu rumah. Nggak peduli muka gembel, karena selain suami dan anak, ada kang paket yang lihat muka kusut kita.

"Ashiiiiiiiaaaapp....." sahutku dari balik pintu. Kang paket cuma bisa tersenyum.

"Atas nama bapak Prasetyo?" tanya kang paket tesebut.

"Iya, benar banget," jawabku.

"COD ya Bu, biayanya, seratus tiga puluh lima ribu." ucap kang paket tersebut.

Aku lalu mengeluarkan uang pecahan lima puluh ribu tiga lembar pada kang paket. Yang kemudian diterimanya, dan ditukar uang pecahan sepuluh ribu dan lima ribu, masing-masing satu lembar.

"Makasih, Mas..." kataku, yang sudah menerima paket dan uang kembalian.

Aku kemudian masuk ke rumah, dan tidak perlu basa basi, aku bergegas unboxing kotak paket di depanku. Di dalamnya ada tiga botol obat kutu, dan bonus tiga biji sisir rapat. Kulihat cara pakai yang berada di belakang botol. 

Maya yang asik duduk di depan tivi dengan kartun favoritnya, langsung aku eksekusi (maksudnya kutu di rambut). Ku usap kepala Maya dengan obat kutu tersebut, yang sudah ku baluri sebelumnya di telapak tangan.

Kini rambut maya penuh dengan baluran minyak, aku lalu tertawa melihatnya. Sisa minyak yang  masih ada di telapak tanganku, lalu kuusapkan di kepala. Untuk antisipasi kalau aku juga tertular kutu.

"Eh, anak siapa tu? Rambutnya kayak tikus kecebur got!" seru suamiku dari dalam kamar.

"Hah? Nggak tau, anak orang! Bapak Ibunya kerja di arab..." jawabku ngasal.

Suamiku hanya tertawa terbahak, mendengar celotehku itu. Hidup itu sudah susah, tidak perlu dibuat susah lagi. Itulah slogan yang suamiku terapkan.