Membersihkan Rumah
Baim, Tomi, dan Romi bertugas menyapu dapur yang penuh dengan lumpur. Siti dan Mona mengumpulkan benda-benda yang berserakan di lantai. Sedangkan Helmi dan Yahya membuang sampah sisa-sisa banjir yang ada di dalam rumah. Ayah Baim mengumpulkan atap rumah yang terbang terbawa angin. Sebelum banjir melanda, hujan deras disertai angin dan petir  berhasil mencabut paku-paku yang menempel pada atap rumah warga. Termasuk rumah Baim ini.

Meskipun Ayah Baim fokus membereskan hal itu, tapi sesekali juga membantu mereka yang mengalami kesulitan. Seperti mengeluarkan balok yang tidak sanggup diangkat oleh Helmi dan Yahya. Entah dari mana datangnya balok berukuran besar itu. Mungkin saja, ada penebangan kayu liar di seberang sungai. 

Banjir yang terparah adalah dusun Baim tinggali. Dusun ini terletak di pinggir sungai. Banjir setinggi satu meter orang dewasa menggenangi tempat ini. 

"Paman, rak piring dan kursi ini diletakkan dimana?" tanya Siti.
"Letakkan saja di kamar tengah. Sudah paman bereskan tadi." kata Ayah Helmi menunjuk sebuah kamar yang berukuran 3 x 4 M. Dimana kamar itu tempat peraduan Baim di malam hari.
"Aliran listriknya bagaimana paman?" tanya Helmi.
"Sepertinya listrik mati. Perlu diperbaiki nantinya. Paman akan sering mengunjungi rumah, jika kita semua masih tinggal di pengungsian."

Srek... Srek... Srek...
Suara sapu lidi. Baim dan Tomi menggunakannya membersihkan lantai yang licin terkena sentuhan lumpur. Mereka menggunakan sisa air banjir yang masih menggenangi halaman belakang rumah. Ayah Baim mengangkatkan air tersebut dengan timba yang nampak bocor. Romi dan Tomi turut membantunya.

Setelah selesai mengumpulkan benda yang berserakan di lantai, mereka mulai merapikan bagian luar. Mengumpulkan batu bata yang masih utuh dan ditumpuk rapi di samping dinding rumah. Sedangkan yang hancur, dibiarkan saja.

"Alhamdulillah, selesai juga," gumam Baim sembari duduk lantai yang baru saja mereka bersihkan.
"Besok giliran rumahku ya, Baim?" ucap seloroh Helmi.
"Baiklah, asal ada kue rasidah," kata Baim tersenyum lebar.
"Ah, kamu ini Baim, makan saja yang kamu pikirkan," ledek ayahnya.
"Tidak apa-apa, yah. Gemukkan sehat!" celutuk Baim yang mengundang gelak tawa mereka semua. 

Sore kian menyingsing di barat. Mereka kembali ke pengungsian.