Belajar di Pengungsian
Kemudian mereka belajar di halaman tenda pengungsian. Pertama-tama mereka, membersihkan terlebih dahulu halaman yang penuh dengan sisa-sisa sampah banjir. Setelah bersih, mulailah mereka belajar. Mona menjadi guru. Sedangkan yang lain menjadi siswa.

"Hari ini kita belajar, pembagian ya anak-anak," kata Mona memulai pelajaran.
"Iya Bu," jawab anak-anak serentak.

Mona menuliskan angka 1250 kemudian angka 50 pada tanah yang menjadi papan tulis untuk belajar. 

"Baiklah, ini adalah contoh, setelah ini Ibu berikan soal yang akan kalian kerjakan," kata Mona sambil menunjuk angka yang telah dituliskan. Terlebih dahulu, bagikan bilangan yang lebih besar dibandingkan bilangan pembaginya. Bilangan pembagi disini adalah 50, maka 125 dibagi 50 berapa?" tanya Mona pada teman-temannya.
"2 Bu," jawab Romi.
"Ya betul kamu, Romi. Beri tepuk tangan untuk Romi, anak-anak," kata Mona.

Antusius mereka dalam belajar, menjadi obat ditengah banjir yang melanda Desa. Sekaligus hiburan bagi para orangtua, bahwa anak mereka masih semangat untuk belajar, meskipjn dalam sarana prasarana yang terbatas. 

Awalnya, hanya Romi, Tomi, Yahya, Baim, Helmi, Siti dan Mona yang bermain sekolah-sekolahan, lambat laun, hampir semua anak yang ada di pengungsian mengikuti jejak mereka. 

Suasana riuh dan ramai mewarnai tanah dengan coret-coretan lidi ataupun tangan mereka. Untuk kelas satu, Yahya membantu mereka dengan berperan menjadi guru. Mengajari membaca, menulis, dan berhitung.

Mereka berenam saling bahu-membahu mengajarkan pada anak-anak yang usianya di bawah mereka. Siti mengajarkan menari pada anak-anak kelas dua. Kebetulan, ia pandai menari dan pernah menjadi juara tingkat kabupaten.

Kesadaran mengenai belajar dimana pun terus dilakukan di segala keterbatasan yang ada. Para orangtua juga menyemangati anak-anaknya untuk belajar. 

Banjir ini meskipun musibah dapat mempererat silaturahmi yang mulai kendur. Lihat saja, orangtua Helmi yang jarang sekali bertemu dengan orangtua Siti. Padahal mereka saudara kandung. Namun, kesibukan masing-masing membuat mereka jarang sekali bertemu.