Ujian Kenaikan Kelas Part 1
Days 29

Kondisi desa semakin membaik setelah penanaman pohon jati, pinus dan mangrove serta pengunduran diri Pak kades. Pemilihan kades yang baru juga sudah selesai tiga hari yang lalu. Terpilihnya Ayah Baim menjadikan desa mereka riuh menyambut kemenangannya di ajang pesta demokrasi.
"Selamat ya, Paman," ucap Helmi memberi selamat di rumah Baim. Ayahnya membuat acara syukuran setelah dilantik menjadi kades yang baru.
"Terima kasih, Helmi. Setelah dewasa nanti, kamu yang akan menggantikan paman memimpin desa ini." balas Ayah Baim.
"Siap paman!" tangan Helmi memberi hormat mengundang gelak tawa para tamu Ayah Baim.

Akhir semester genap sudah dekat. Dua minggu  lagi waktu bagi para siswa untuk aktif belajar. 
"Hel, masih bantu Ayahmu menanam bayam?" tanya Yahya.
"Seminggu ini, aku tidak membantunya. Kata Ayah, aku harus fokus belajar dulu karena udah dekat ujian," jawab Helmi.

"Anak-anak, seringlah belajar di rumah. Mengulang pelajaran. Jika ada materi yang kurang paham bisa tanyakan pada Ibu," ujar Ibu Rita di akhir pembelajaran.

"Kita buat kelompok belajar, yuk! Khusus untuk ujian ini," usul Baim pada jam istirahat.
"Boleh, boleh saja. Asal...," jawab Baim belum selesai bicara.
"Asal di rumah Helmi kan? sahut Romi menyambar perkataan Baim.
Baim mengembangkan bibir hingga tampak giginya yang putih kinclong. " Kalian tau saja," katanya.
"Kalau begitu di rumahku saja. Nanti aku minta ibuku buatkan bubur cenil," kata Siti seraya menyunggingkan bibir ke arah Baim.
"Baiklah, aku setuju!" seru Baim.
"Kalau tentang makanan, cepat tanggap kamu ya, Im," celetuk Tomi.

Mereka tertawa bersama.