Menanam Pohon
Days 28

Pak kades kembali ke desa dengan membawa empat pelaku penebang pohon. Ia menuju balai desa. Di sana sudah berkumpul warga desa. Di tengah keributan warga dengan perilaku mereka, Pak kades mulai berbicara.
"Saya tau kebijakan yang saya buat ternyata mendatangkan masalah besar di desa kita. Oleh karena itu, saya meminta maaf sebesar-besarnya kepada warga sekalian. Kemudian sebagai penebus kesalahan, izinkan saya menanam pohon kembali yang ditebang, serta menanam pohon mangrove di sekitar sungai." ujar Pak kades.
Seluruh warga kembali terusik dengan ide pemimpinnya.
"Baiklah, saya setuju," sahut Ayah Helmi.
"Saya juga setuju," timpal Ayah Baim.
"Saya juga."
"Saya juga setuju."
"Saya juga."

Seminggu kemudian, penduduk desa sudah ada di seberang sungai dan pinggir sungai. Puluhan pohon pinus, jati dan mangrove sudah tertata rapi. Pohon jati dan pinus akan ditanam di hutan, menggantikan puluhan pohon yang sudah ditebang secara liar. Sedangkan mangrove ditanam dekat pinggir sungai demi menghindari banjir.

Seluruh warga saling bahu membahu menanam pohon tersebut. Tak ketinggalan juga Helmi dan teman-temannya juga ikut membantu. 
"Semoga dengan kita menanam pohon ini, desa kita tidak akan terkena banjir lagi," ungkap harapan Helmi begitu meletakkan pohon mangrove ke dalam lubang yang sudah dicangkul.
"Aku juga harap demikian," harapan Yahya juga sama.

Matahari mulai meninggi. Para ibu-ibu mulai berdatangan mengantarkan teh, kopi, makan siang dan cemilan untuk para warga yang bekerja. Baim segera menyerbu begitu melihat ibunya membawa makanan untuknya. Perutnya sudah berdemo sejak sejam yang lalu, katanya. 

Begitu azan zuhur berkumandang, seluruh penduduk desa istirahat. Kemudian pulang ke rumah masing-masing.