Menangkap
Rencana sudah tersusun rapi. Beberapa penduduk desa sudah berada di hutan seberang sungai terlebih dahulu. Mereka bertugas mengintai penebang pohon.

Sedangkan kepala desa dan warga yang lain masih di atas sampan. Mereka juga bersiap-siap. Jika terdengar suara dormal dan pohon yang ambruk. Maka bergegaslah mereka ke sana.

Tiga puluh menit sudah mereka berjaga di sana. Namun belum ada tanda-tanda penebangan terjadi. Beberapa warga yang berada di hutan, juga tidak memberikan kabar yang baik. Sudah bosan katanya, tapi kepala desa mengatakan untuk lebih bersabar lagi. Hingga tiga jam kemudian, mereka masih berjaga di sana. 

Satu persatu penduduk desa pergi dari sana. Mereka sudah bosan dan tidak sabar. Di hutan, hanya tinggal dua orang. Itupun mereka sudah tertular kebosanan. Akhirnya mereka pergi meninggalkan. Baru berapa langkah kaki berjalan, tiba-tiba terdengar suara berisik. Namun bukan suara dormal. Melainkan suara orang-orang yang sibuk mengangkat kayu yang tertumpuk ke dalam bot penebang pohon. Kemudian mereka mengsms kepala desa untuk segera menyebrang.

Kepala desa dan beberapa penduduk pergi menaiki sampan dan mengayuhnya. Tiba di sana, sudah bersiap menyergap. Ayah Helmi dan Ayah Baim pergi ke bot mereka. Bersiap untuk mencegah penebang pohon yang mencoba kabur nanti.