Kenapa Ayah Memeluknya?
Jangan lupa tinggalkan jejak dengan subscribe, rating, like, dan komen. 

Selamat membaca. Semoga menginspirasi

****

"Ayah, kenapa ayah merangkul Tante Rana?" tanya Izza, bocah sembilan tahun sambil memegang boneka. 


"Izza, sudah datang? Sini peluk ayah. Ayah rindu sekali." Ridwan mendekat dan menjongkok,  tetapi Izza menjauh.


"Ayah belum jawab pertanyaan Izza. Ayah bilang, tidak boleh laki-laki dengan perempuan yang bukan mahram bersentuhan, tetapi, kenapa ayah tadi merangkulnya? Dia 'kan bukan mahram Ayah?" 


Izza menatap sahabat ibunya polos. Matanya beralih ke perut Rana. Ia tahu Rana dan ibunya bersahabat, tetapi baru kali ini melihat ayahnya menyentuh perempuan itu.


Sedang Anita tak kuasa lagi menahan air mata. Sesuatu yang dikhawatirkan akhirnya terjadi. Sebelumnya ia telah meminta Ridwan agar jangan membawa perempuan itu ke rumah mereka. 


Ternyata di belakangnya ini Ridwan ingkar janji  dan siapa sangka bertepatan dengan Izza pulang ke rumah. 


Dari awal kepercayaannya sudah hilang kepada Ridwan. Sebelum Izza pulang, Anita sudah berusaha menghubungi laki-laki itu, tapi tak kunjung diangkat. Pesan teks yang dikirimnya, tak kunjung dibaca. 


Dari perjalanan, ia dengan Bayu sudah berusaha mengalihkan perhatian Izza agar tidak ke rumah, dengan mengajaknya ke rumah nenek bahkan mengajak ke mall.


Namun, anak itu sudah sangat merindukan ayahnya. Berbagai rayuan dicoba sudah tidak mempan lagi.


"Dengarkan Ayah. Kita masuk dulu, ya. Nanti ayah jelaskan." Suara Ridwan menembus lamunan Anita. 


Ridwan kembali mendekati Izza. Izza hendak menjauh, tapi Ridwan sigap menangkap lengannya.


Izza menoleh ke arah Anita. Ia lihat wajah ibunya basah. Pandangan Izza beralih ke ayah yang ada di depannya. "Kenapa ibu menangis? Pasti karena Ayah nakal, selama ibu tidak ada."


Ridwan mendesah. Ia memegang kedua tangan putrinya. "Tidak. Ayah tidak nakal."


"Lalu kenapa Ayah deketan sama Tante Rana? Ayah bilang la--"


"Izza," potong Ridwan. "Izza suka adik bayi, kan?"


Izza mengangguk. Mata Izza berbinar cerah. Ridwan merasa sedikit bernapas lega.


"Sebentar lagi Izza akan punya adik bayi." Mata Izza semakin membesar.


"Bayi yang di perut Tante Rana itu ... adik Izza."


Izza terkesiap. Ia masih belum mengerti, mengapa ayahnya bilang, bayi di perut Rana itu adiknya? 


Namun, insting membuatnya menarik tangan, lalu mundur beberapa langkah. Ia menggeleng. "Izza hanya ingin adik bayi dari ibu."


"Izza." Ridwan mendekat. Tetapi Izza berlari ke arah seorang laki-laki yang sedari tadi berdiri mematung di samping mobil, Bayu. Izza menarik tangan Bayu. 


"Om, bolehkan Izza jadi penghuni tetap Rumah Bahagia? Izza ingin tinggal di sana?"


Bayu bungkam. Situasinya sebagai orang lain benar-benar tidak bagus. Ia tidak ingin mencampuri urusan rumah tangga orang lain. Andai bukan karena mengkhawatirkan Izza, sedari tadi ia sudah menjauh.


Bayu berjongkok. "Boleh, Izza. Rumah Bahagia selalu terbuka untuk Izza. Hanya saja, masuklah dulu ke rumah. Ayah sangat merindukan Izza."


Izza menggeleng. Seketika ia menangis. "Ayah tidak pernah merindukan Izza. Selama di rumah sakit, ayah cuma sesekali jengok Izza. Ayah sudah punya adik bayi." Tangisan Izza semakin menderu. Ia menggoyang tangan Bayu. "Om, kita balik ke Banjar, yuk." 


Ridwan mendekat, lalu mendekap Izza. "Jangan ngomong begitu. Ayah sangat rindu Izza. Biarkan Ayah memeluk Izza."


Bayu berdiri menjauh. Tanpa sadar ia juga meneteskan air matanya. Tangisan pilu Izza telah membuat lukanya  kembali menganga.


"Engga mau." Izza meronta-ronta. Ridwan makin mendekap erat. 


Melihat itu Anita berlari mendekati mereka.


"Engga mau."


"Mas, lepaskan." Anita berusaha melepaskan tangan suaminya. 


Ridwan mendekap erat. Ia pun menangis. Sesal telah memenuhi ruang hatinya. Hatinya sangat hancur dengan penolakan putri kesayangannya.


"Engga mau." Izza semakin berontak.


"Ayah sayang Izza." 


"Ayah bohong," lirih Izza. Sepertinya tenaga Izza sudah habis akibat memberontak. 


"Izza!" 


Izza terkulai lemas dalam dekapan Ridwan. 


"Izza," teriak Anita. 


Ridwan melonggarkan pelukannya. "Izza, kau tidak apa-apa, Nak?" 


Anita mengguncang tubuh Izza. Izza bergeming. Bayu merangsek. Ia menyentuh lengan Izza. Terlihat bintik-bintik merah telah muncul di kulit putih Izza. 


"Gawat. Cepat kita bawa ke rumah sakit."


***


Flashback. 



"Hemoglobin 10.0L, Trombosit 21 L, Leukosit 20. L " Anita merasakan tungkai kakinya melemah setelah membaca hasil laboratorium cek darah putrinya. 


Terapi sudah berjalan enam bulan, membaca hasil laboratorium seperti itu bukan pertama kali baginya sebagai seorang ibu yang memiliki putri penyintas leukemia. 

Tidak. 

Ia tidak akan terbiasa menerima keadaan ini. Hanya saja, ia harus selalu kelihatan tegar di depan putrinya. Ia tidak boleh kelihatan lemah, karena nantinya akan mempengaruhi psikologi anaknya. 


"Transfusi darah lagi," keluh Anita, sambil menyusuri selasar ruang Hemato-Onkologi.  


Sudah dua pekan Izza di ruang Hemato-Onkologi, ruangan khusus penyintas kanker dan kelainan darah. Dua pekan ini, Izza sudah menyedot lebih dari lima puluh kantong TC (thrombocyte) dan dua PRC (Packed Red Cell)


Sebelum membuka pintu ruang inap putrinya, sejenak ia melepaskan napas beratnya, lalu mengisi oksigen baru yang diimbangi dengan dzikir. Berharap memberinya sedikit kelapangan. 


"Assalamu 'alaikum," ucapnya lirih. Di rumah ia selalu terbiasa mengucapkan salam ketika membuka pintu rumah atau pintu di kamar. Ketika di rumah sakit ia merasa tidak nyaman melakukan hal itu. Karena tiap orang tentu memiliki karakter yang berbeda. Bahkan sekarang, kadang ucapan salam  sudah dianggap aneh atau peminta-minta. 


"Bagaimana hasilnya, Ma?" tanya Izza, ketika ia telah mendekati nakas di samping ranjang putrinya. 


Terlebih dulu ia menatap putrinya. Terlihat Izza sedang menunggu laporan dari mamanya. Anita menyerahkan lembaran hasil laboratorium. 


Izza yang bermimpi menjadi dokter anak mencermati nama-nama beserta angka-angkanya. "Tambah darah lagi ya?"


Anita mengangguk lambat. 


Izza menarik napas, lalu melepaskannya. Ia menarik tangan mamanya "Jangan khawatir, Ma. Izza kuat." 


Anita tersenyum haru. Matanya berkaca-kaca. Sesaat ia menatap tangan Izza yang masih terpasang jarum infus. 


Ia duduk di ranjang Izza. Tangan sebelahnya mengelus kepala Izza yang sudah mulai rontok. "Mama bangga pada Izza. Izza pasti bisa melewati semua ini."


Izza mengangguk pasti.



Anita menghela napas. Ia mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan. Ruangan diisi enam pasien yang ditemani salah satu keluarganya. 


"Kak Rizky asik banget nonton. Nonton apa?" tanya Anita, pada pasien anak di samping bangsal Izza. 


"Nonton yutub." Rizky tersenyum sebentar, lalu balik lagi ke ponselnya.


"Dari tadi meyutub terus, kasihan matanya," gerutu ibunya Rizky, Asih. Yang duduk di samping ranjang Rizky. 


Anita tertawa kecil. Menatap Rizky penderita Anemia Aplastik. Beberapa memar kebiruan terlihat di kakinya yang putih. 


Sering bertemu Rizky di rumah sakit, membuat Anita penasaran dan browsing di internet. 


Kesimpulan yang ia pahami, Anemia Aplastik merupakan penyakit langka akibat kelainan pada tulang sumsum. Tulang sumsum tidak dapat menghasilkan cukup sel darah merah, sel darah putih, trombosit, atau sekaligus ketiganya. 


Gejala yang dialami Rizky tidak jauh beda dengan putrinya. Di antaranya lemah, kulit pucat, memar atau lebam, luka sulit sembuh, pendarahan gusi, sesak napas, nyeri dada, dada berdebar, atau sakit kepala.  Gejala serupa, tetapi pengobatan yang berbeda. Izza harus menjalani kemoterapi. 

Namun, dibanding pasien lain, Rizky termasuk orang yang kuat. Selama merawat Rizky, Asih telah banyak melihat pasien yang telah meninggal. 


Memainkan ponsel sudah merupakan bagian dari kehidupan anak-anak Hemato-onkologi dalam mengisi hari-harinya. 


Anita memahami kebosanan anak-anak yang terus baringan di atas ranjang, tetapi memainkan ponsel dalam waktu yang cukup lama akan berdampak buruk pada kesehatan anak-anak. Terlebih lagi bagi mereka yang memang sudah mempunyai imun yang sangat rendah.


Untuk mengusir kejenuhan harus ada edukasi dari orang tua, misalnya menggambar, menulis atau membaca. Sepertinya yang dilakukannya pada Izza. Ia memberi Izza sebuah buku gambar, pensil, dan crayon.


Anita sudah membiasakan supaya Izza rajin menulis. Anita tau, meski Izza terlihat baik-baik saja, masih ada yang disembunyikan anak itu dari dirinya. 


Izza hanyalah anak berusia tujuh tahun, tetapi enam bulan sebagai penyintas kanker telah membuatnya terlihat lebih tua dari usianya.


"Hallooo .… Selamat siaaang .… Apa kabar?"