Diusir Raja Manat
#Terpaksa_Berdakwah
Bagian 6
________________


Raja Manat pergi meninggalkan Arimbi, Zul dan yang lainnya. Selepas malam menjelang, Raja Manat memang tak pernah tidur di rumah. Ia selalu pergi ke Goa untuk menjalankan smedi malam sampai pagi menjelang.

"Arimbi? Bagaimana dengan Firman? Apa yang harus kami lakukan agar Firman bisa bebas dari tahanan?" tanya Zul setelah Raja Manat pergi dengan kesal.

Jantung Zul seperti akan pecah saat itu juga. Bukan hanya Zul, Zaky dan Sekar pun merasakan hal demikian. Bagaimana mereka bisa kabur bila Firman masih tertinggal di hutan gila itu?

Zul gelisah menunggu jawaban Arimbi. Sedangkan Arimbi hanya menjawab pertanyaan Zul dengan gelengan kepala.

"Aku tidak tau, Zul. Selama ini, setiap orang yang sudah masuk ke tahanan itu, tak akan ada ampun untuk mereka. Mereka tak akan bisa keluar dari tahan itu apalagi tahanan itu dijaga ketat oleh iblis hamba Azazil. Sekalipun mereka keluar, mereka akan keluar di hari mereka akan menjadi persembahan," Arimbi ikut merasa bersalah.

"Maafkan aku, akulah yang sudah mengajak kalian kesini, seharusnya aku tak mengajak kalian untuk kesini," tambah Kasih yang ikut merasa bersalah.

Zul mengela nafas panjang, ia harus tetap tenang meskipun hatinya amat gelisah. "Segala sesuatu sejak awal terciptanya Qalam sampai tiba hari kiamat telah tertulis di Lauh Mahfudz. Sesungguhnya janin yang ada dalam kandungan ibunya ketika telah melewati umur empat bulan, Allah telah mengutus Malaikat kepadanya untuk meniupkan roh dan menulis rizqi, ajal, amal dan apakah dia celaka atau bahagia,”

"Itu artinya, takdir Firman memang sudah tertulis jika ia memang akan masuk ke dalam tahanan suku ini. Kita harus memperbanyak berdoa kepada Allah untuk keselamatan Firman. Disamping itu, kita harus mencari cara agar Firman bisa keluar dari tahanan itu," jelas Zul.


"Terus gimana, dong?" tanya Sekar yang sedari tadi berdiri tak nyaman.

"Zul, apa loe punya ide? Pikiran gue bener-bener buntu, nih! Apa kita terjebak di hutan gila ini juga sudah tertulis di Lauh Mahfudz, Zul?" tanya Zaky yang berdiri di samping Sekar.

Zul mengangguk membenarkan. "Itu artinya kita tak bisa keluar dari hutan ini sebelum kita bawa Firman keluar," sahut Zul.

"Tapi, Zul. Kalau nanti ada salah satu diantara kita yang ikut gabung sama Firman, gimana? Gue gak mau, Zul. Sumpah! Lama-lama gue bisa gila kalau terus-terusan ada di hutan ini. Kita cabut sekarang aja yuk, Zul. Please ... biarain aja Firman kita tinggalin!" kata Sekar.

"Loe gak boleh egois gitu, Kar! Kita berangkat berempat! Kita juga harus pulang dengan anggota masih utuh! Loe egois! Kalo loe ada di posisi Firman, loe mau kita tinggal?!" Zaky emosi.

Sekar hanya diam. Ia menggeleng lemah seraya menangis. Ia tak menyangka bisa terjebak di suku Satans yang gila ini. Dalam mimpinya pun ia tak pernah membayangkan hal itu. "Terus kita harus bermalam lebih lama lagi, gitu? Gue takut. Gue mau pulang," Sekar merengek ketakutan.

"Maafkan kami, Sekar. Kami janji, kami akan melindingi kalian. Sekali lagi, maafkan kami," ucap Arimbi.

Zul merogok kantong celananya. Ia mencari ponselnya untuk meminta bantuan Pak RT atau siapapun yang bisa di hubungi.

Namun, sayang. Zul melihat poselnya sudah mati karena kehabisan daya. "Zak, Kar? Hubungi seseorang dengan ponsel loe."

Zaky dan Sekar baru sadar kalau mereka masih punya ponsel. Dengan tergesa Zaky dan Firman mengambil posen masing-masing.

Wajah penuh harapan Sekar tiba-tiba sirna setelah ia melihat ponselnya tak dapat menangkap sinyal satupun. "Gak ada sinyal! Huuu ... huuuu ...." Sekar menangis lagi.

"Zak, gimana punya loe?" Zul menaruh harapan pada Zaky.

"Sama, Zul. Gak ada sinyal. Batrai ponsel gue tinggal 6% pula, bentar lagi juga koid, ini HP," jawab Zaky.

"Mamang itu benda apa?" Arimbi tak tau apa itu Handphone.

"Ini HP! Loe gak akan tau karena loe orang utan!" Sekar sudah kesal.

Arimbi merasa tersinggung. "Maksud kamu apa? Katain kami orang utan!" 

"Arimbi! Maklumi mereka! Mereka semua sedang tertekan!" Kasih melerai.

"Zak, Kar, dari pada kita bingung gak jelas seperti ini, lebih baik kita shalat. Kita belum shalat Isya. Cepat kalian ambil wudhu di belakang. Gue masih punya wudhu. Cepat jangan lelet!" seru Zul.

Sekar dan Zaky pun akhirnya mengambil air wudhu di dapur rumah Arimbi dengan diantar oleh Kasih.

Sedangkan Arimbi, ia masih kesal dengan ucapan Sekar tadi yang mengatainya orang utan. Arimbi duduk di sudut tikar jerami. Sedangkan Zul sedang menggelar sajadahnya di hadapan Arimbi.

"Arimbi, maaf. Kami mau shalat. Kamu bisa duduk dibelakang kami. Tak baik duduk dihadapan orang shalat."

Arimbi akhirnya menyingkir dengan hati semakin jengkel. "Kenapa sih, kalian harus shalat segala?! Dalam sehari berapa kali kalian shalat?!" ketus Arimbi.

"Hukum melaksanakan shalat lima waktu ini adalah wajib atau fardu `ain. Shalat 5 waktu itu sesuatu yang diharuskan dan yang mengikat kepada setiap individu muslim yang telah dewasa, berakal sehat, dan balig. Apabila salat wajib ini ditinggalkan, maka orang yang meninggalkannya akan mendapat dosa dari Allah Subhanahuwata'ala."

"Kaum muslimin bersepakat bahwa meninggalkan shalat lima waktu dengan sengaja adalah dosa besar yang paling besar. dosanya lebih besar dari dosa membunuh, merampas harta orang lain, berzina, mencuri, dan minum minuman keras."

Arimbi manggut-manggut. "Boleh aku belajar Shalat?" tanya Arimbi tiba-tiba.

Zul menyipitkan mata seolah tak percaya. "Apa yang mendasarimu sehingga kamu ingin belajar shalat?"

"Tak ada dasar apa-apa. Hatiku hanya damai dan tentram bila melihat kalian shalat. Jadi boleh atau tidak, aku belajar?!"

Zul menghentak nafas lega, "tentu boleh, sangat boleh. Apa kamu punya kain besar dan lebar?"

"Aku hanya punya selimut berbahan dasar kulit binatang,"

Tiba-tiba Sekar dan Zaky datang.

"Sekar, apa loe punya dua mukena?" tanya Zul.

"Punya. Gue selalu bawa dua mukena untuk cadangan kalau mukena gue kotor. Memangnya kenapa, Zul?"

"Pinjamkan Arimbi. Arimbi ingin belajar shalat."

"What? Serius loe ingin belajar shalat?! Ada angin apa?! Mending sana loe ikut smedi sama bokap loe!" ketus Sekar pada Arimbi.

"Sekar ...?" Zul memincingkan mata.

"Oke! Gue pinjemin! Tapi awas aja kalau mukena gue jadi bau!"

"Sekar ...?" Zul memincingkan mata lagi.

"Iya-iya, Zul. Ish! Kenapa sih, sekarang loe jadi rese!" Akhirnya Sekar memberikan mukenanya pada Arimbi. "Nih, kalo loe mau shalat! Loe harus ambil air wudhu dulu!"

"Arimbil! Kamu apa-apaan?!" Kasih merasa bingung pada sikap aneh Arimbi yang tiba-tiba ingin belajar shalat.

"Aku hanya ingin mencoba, Kasih. Tenang saja, Dewaku tetap Azazil. Aku hanya penasaran saja."

"Sekar, Ajari Arimbi berwudhu," perintah Zul.

"What?! Gue?!" Sekar menunjuk wajahnya sendiri. "ogah!" Sekar buang wajah.

"Sekar ... loe akan dapat ganjaran yang besar Kalau loe mau ajari Arimbi berwudhu," Zul memincingkan mata lagi.

"Ih! Iya-iya, Zul!" Dengan sangat terpaksa Sekar pergi kedapur lagi untuk mengajari Arimbi tata cara berwudhu.

***

Beberapa menit kemudian Arimbi dan Sekar telah kembali. Wajah Arimbi tampak bercahaya karena dibalut dengan butiran-butiran air wudhu. Dan dengan sangat tepaksa pula Sekar membatu Arimbi untuk memakaikan mukenanya.

Zul dan Zaky terpukau melihat kecantikan Arimbi yang semakin terpancar karena memakai mukena.

Dengan cepat Zul memalingkan wajah karena tak mau berdosa telah memandang ciptaan Tuhan yang paling sempurna berlama-lama. "Arimbi, ikuti saja gerakan kami," ucap Zul yang sudah membelakangi yang lainnya.

Mereka semua pun akhirnya memulai shalat meskipun harus dengan melalui perdebatan yang cukup panjang. Hanya Kasih seorang yang tak ikut shalat. Kasih hanya duduk dibelakang Sekar dan Arimbi yang sedang shalat berjejer dengan pandangan heran.

Arimbi pun hanya mengikuti gerakan shalat Zul yang berada di bagian paling depan karena Zul menjadi imam. Meskipun Arimbi hanya ikut-ikutan saja, tapi hati Arimbi sangat senang dan menjadi tenang.


***


Beberapa menit kemudian, mereka telah selesai menjalankan shalat. Zul tak mau menyingkir dari sajadahnya karena ia harus berdoa untuk keselamatan Firman.

Zul mengangkat kedua tangannya untuk berdoa, "Ya Allah, Engkau maha pengasih lagi maha penyayang. Engkau maha Agung lagi maha Melindungi. Lindungilah kami dari segala marahabaya. Terkususnya untuk Firman, teman kami. Semoga kami bisa selamat keluar dari hutan ini, dengan Firman ikut serta bersama kami, Amiin ...."

"Amiin ...." Zaky dan Sekar turut mengaminkan karena Zul berdoa dengan suara lantang.

Arimbi juga ikut mengaminkan meskipun hanya didalam hati. Sedangkan Kasih, sedari tadi ia diam dan tak bergerak sedikitpun.

"Arimbi! Apa yang kau lakukan!" teriakan serak terdengar dari belakang Kasih duduk.

Semua orang menoleh ke arah suara. Mereka pun bangkit dari duduknya karena melihat Azaz dengan 3 roh jahat ada dibelakangnya.

Arimbi hanya diam dengan kesalahtingkahan.

"Jawab Arimbi! Apa yang kau lakukan! Jika Ayahmu tau, dia akan murka!"

"Jangan beritahu Ayah, Azaz. Rahasiakan ini. Arimbi hanya bermain-main," ucap Kasih.

"Bawa Arimbi! Ayahnya harus tau tentang ini. Dia telah melupakan Dewa Azazil dengan mengikuti ajaran sesat dari mereka!" Azaz memerintah 3 roh berjubah hitam di belakangnya.

"Arimbi ...." terdengar suara berat wanita dari dalam kamar rumah itu.

Dengan tergesa Arimbi dan kasih masuk ke kamar dengan mukena yang masih melekat. Azaz pun pergi karena Arimbi sudah masuk ke dalam kamar.

"Zul, Kar. Pakai ransel kalian. Kita bisa kabur. Kita harus selamatkan Firman karena semua orang sedang lengah." ucap Zaky.

Zul dan Sekar pun memakai kembali ransel mereka dan mengikuti instruksi dari Zaky untuk menyelamatkan Firman.

"Ibu ...!" Teriakan Arimbi mengurungkan langkah mereka. Arimbi dan Kasih terdengar menangis sehingga menarik perhatian Zul untuk ikut masuk kedalam kamar.

***

"Ibu," Suara Arimbi dan Kasih terdengar kompak.

Zaky, Zul dan Sekar tercengang, ternyata di rumah itu masih ada orang yang tak lain adalah ibu kandung Arimbi dan Kasih.

Ibu Arimbi terbaring lemah diatas dipan kayu yang hanya berlapiskan tikar. Kondisi ibu Arimbi sangatlah memprihatinkan.

Sudah hampir setahun ibu Arimbi terserang penyakit kuru. Tubuhnya sangat kurus dan bisa dibilang lumpuh. Namun, wanita paru baya itu masih terlihat cantik meskipun tulangnya hanya terlapiskan oleh kulit.

"Arimbi? Apa ini ibumu?" tanya Zul.

Arimbi mengangguk dengan air mata yang mengalir. Arimbi dan Kasih memeluk ibu mereka yang sudah tak berdaya karena kesulitan bernafas.

Zaky dan Sekar meringis melihat pemandangan menyedihkan itu.

"Arimbi, Kasih. Ibu sudah tak tahan lagi. Ibu ingin pergi. Dewa Azazil akan menjemput ibu ke istananya. Ja-ga di-ri ka-lian baik-ba-ik," ucap sang ibu yang sedang sakaratul maut.

"Ibu, ibu tak boleh berkata seperti itu! Ibu harus tetap hidup! Kami tak akan rela melihat Ibu menjadi santapan warga suku ini, ibu," Arimbi tambah menangis. Zul pun terkejut.

"Maksudmu, orang yang sudah matipun akan kalian makan?! Apa begitu, Arimbi?" tanya Zul terheran-heran.

Arimbi mengangguk membenarkan.
Zul pun mengusap dadanya seraya beristigfar didalam hati.

Tiba-tiba ibu Arimbi kejang-kejang lalu menggelinjang. Nafasnya terdengar semakin berat disertai belalakan mata yang melotot ke atas. Arimbi panik sedangkan Kasih semakin erat memeluk ibunya dengan air mata yang tambah deras mengalir.

 "Ibu ...!" Arimbi dan Kasih berteriak ketika nyawa ibunya tiba-tiba terlepas dari raga. "Ibu!" Mereka menangis memeluk ibu yang sudah tak bernyawa.

Zul dan lainnya ikut terkejut. "Innalillahi wainnailaihiroji'un ...." suara Zaky, Zul dan Sekar terdengar kompak.

"Ibu! Bangun, Bu! Jangan tinggalkan kami!" Arimbi mengguncang tubuh ibunya yang telah tak bernyawa.

"Ada apa ini?!" Raja Manat tiba-tiba datang dengan Azaz dibelakangnya. Azaz tak mau kalah dari Zul, Azaz telah memanggil Raja Manat meskipun Raja Manat sedang smedi.

"Ayah, Ibu meninggal ...," lirih Arimbi.

Raja Manat terkejut melihat Arimbi yang masih menggunakan mukena. "Apa-apaan kamu, Arimbi! Kamu pakai apa ini?!" Raja Manat menarik mukena Arimbi.

"Ini mukena, Ayah. Tadi Arimbi hanya ikut-ikut mereka beribadah," sahut Arimbi sesegukan.

Raja Manat semakin murka. "Jadi kamu telah menyembah Tuhan mereka?!" Raja Manat menujuk wajah Zul.

Arimbi mengangguk lemah. "Arimbi hanya main-main, Yah. Dewa Arimbi tetaplah Dewa Azazil,"

"Omong kosong! Pergi kamu dari suku ini, Arimbi! Aku tak akan menganggapmu anak lagi! Pergi! Aku mengusirmu dari wilayahku ini!"

"Tapi, Ayah--"

"Pergi! Bawa teman-temanmu ini! Atau kau mau masuk tahanan? Tapi tidak! Bagaimanapun Aku tak akan tega melihatmu masuk kedalam tahanan gelap itu. Lebih baik kau Pergi, Arimbi! Aku sudah sangat kecewa padamu!"

"Azaz! Buang mereka!"

Azaz dan ketiga roh disampingnnya masing-masing memegang tangan Arimbi, Sekar, Zul dan Zaky.

Dengan sekelebat kilat, Azaz pun telah berhasil membawa mereka pergi.

***

Bugh!

Azaz dan ketiga roh menjatuhkan Arimbi, Zul, Sekar dan Zaky di tepi jurang yang curam. "Rasakan kau, Arimbi! Kau sudah bukan bagian dari warga suku Satans! Sudah berkali-kali aku memperingatkanmu! Seharusnya kau tak bergaul dengan manusia-manusia ini! Tapi dari dulu kau itu keras kepala! Sekarang rasakan akibatnya!" Azaz dan ketiga roh itu pergi bagai tepung yang tertiup angin.

Sekar dan Zaky bangkit dari jatuhnya. Sedangkan Arimbi hanya menangis dan menyesali perbuatannya.

Zul merasa iba pada Arimbi, Zul membantu Arimbi untuk berdiri, "Arimbi, bangunlah."

Arimbi bangkit dengan tangis yang semakin tergugu, "ini semua gara-gara kalian! Aku diusir dari wilayahku gara-gara kalian!"

"Heh! Loe sendiri tadi yang ngotot ingin ikut shalat, kan! Sekarang kembalikan mukena gue!" Sekar melepaskan paksa mukena yang masih Arimbi pakai. Sekar memasukan kembali mukenanya dalam ransel yang sedari tadi ia pakai.

"Zul, gimana ini? Bagaimana nasib Firman kalau kita keluar dari wilayah itu?" tanya Zaky.

Zul sudah tak fokus karena iba melihat Arimbi yang tak henti menangis. Zul pun mendekat pada Arimbi, "Arimbi, maafkan kami. Karena kedatangan kami, kamu jadi terpisah dari keluargamu."

"Iya! Ini semua gara-gara kamu, Zul! Aku benci kamu! Aku benci!" Arimbi mendorong Zul hingga kaki Zul terperosok ke jurang.

"Zul!" Sekar dan Zaky meneriakan nama Zul yang sudah masuk ke dalam jurang.


--bersambung--

💜💜💜

", ]; document.getElementById( "render-text-chapter" ).innerHTML = `

${myData}

`; const myWorker = new Worker("https://kbm.id/js/worker.js"); myWorker.onmessage = (event) => (document.getElementById("render-text-chapter").innerHTML = event.data); myWorker.postMessage(myData); -->
Komentar

Login untuk melihat komentar!