GILANG KE TURKI
TALAK DI STATUS FB SUAMIKU

PART 3

"Kalau marah tetap sah, Nia. Kecuali si Gilang sudah gila. Baru tidak sah. Meskipun marah tidak boleh sesuka hati ngucapinnya. Kalau setelah marahnya hilang, suami menyesal. Tetap sah talaknya. Ini bisa jadi pelajaran untuk semua suami di luar sana. Jangan mudah mengumbar kata talak. Talak atau cerai itu bukan perkara main-main," papar Mas Lukman. 

"Sabar, Nia. Ibu ada di samping kamu, Nak. Ibu berada di pihak kamu. Jangan menangis lagi." Mertuaku menyeka air mata yang membasahi pipiku. 

"Bu, apakah ini semua karena Nia tidak bisa memberikan Mas Gilang anak?" tanyaku. 

Semua serempak memandang ke arahku. Setelah itu, mereka saling pandang satu sama lain. Mas Lukman menghela napas berat. Sedangkan, Mbak Aisyah meremas erat gaunnya. Tak ada jawaban, sampai kepala kutundukkan. 

"Nia, Mbak rasa bukan karena hal itu. Kita sudah sering membicarakan hal ini.   Gilang tidak memaksa kamu untuk memberikan dia anak. Karena kita semua tahu anak itu titipan Allah. Kalau Allah belum berkendak. Mau jungkir balik pun belum tentu terwujud," ujar Mbak Aisyah. 

"Benar, Nia. Bahkan, Mas pernah candain dia. Minta dia cari istri baru untuk bisa punya anak. Namun, jawabannya bikin Mas malu. Dia mencintai Nia dengan segala kekurangan dan kelebihan Nia. Soal anak, biarkan urusan Allah," ungkap suami Mbak Aisyah. 

Hah! Pengakuan apa-apaan ini. Keterlauan kamu, Mas. Bercandanya nggak bonafit. Geramku dalam hati. Aku bisa melihat Mbak Aisyah mencubit paha suaminya. Ditambah delikan mata maut yang menakutkan. 

"Nia, jangan kaitkan dengan masalah anak. Mas rasa bukan itu penyebabnya. Ilmu agama Gilang bisa dibilang mempuni. Soal anak bukan kita yang tentuin, tapi Allah. Kita cuma berusaha. Lagian selama ini anak Mas selalu kalian bawa. Mas tidak mempermasalahkan anak-anak Mas dekat dengan kalian. Satu hal terpenting bagi Mas, kalian bahagia. Kalau tiba-tiba begini. Kami nggak tahu mau ngomong apa," imbuh Mas Lukman. Tubuhnya disandarkan ke sofa. 

Apa yang keluarga Mas Gilang katakan ada benarnya. Suamiku tidak pernah membahas masalah anak. Kalau bukan itu apa juga penyebabnya? 

"Mungkin beberapa waktu yang lalu dia tidak menginginkannya. Namun sekarang dia mau. Makanya dia nalak Nia," ceracauku. 


"Ssst! Istighfar, jangan biarkan iblis merongrong pikiranmu untuk terus berburuk sangka  pada suamimu, Nia," kata ibu sembari meletakkan telunjuknya di depan bibirku.

Aku mengeleng pelan, pikiran kacau. Bagaimana bisa tentang dengan kebenaran yang belum jelas kabar beritanya. 

"Ya Allah! Kenapa Engkau tak kunjung memberikan anak kepada kami, kenapa?" jeritku seraya menarik hijabku frustasi. 

"Nia! Dengerin kata Mbak. Tenang, kita di sini mencari solusi untuk masalah ini. Tolong jangan seperti anak-anak. Mbak tahu ini menyakitkan. Namun, sabar, Nia." Mbak Aisyah dan Tari merangkulku erat. Membisikkan kata-kata semangat untukku. 

"Nia ngg---nggak mau pisah dengan Mas Gilang. Nia nggak mau, Mbak," lirihku. 

"Kalau pun ini perbuatan Mas Gilang ... Ali rasa ada hal yang membuat dia kecewa," timpal Ali yang sedari tadi diam.

"Mbak yakin masalah anak," sahutku.

"Tidak, Mas tidak sependapat dengan kalian. Gilang pada prinsipnya bukan lelaki pencundang ...."

"Mas Lukman! Percaya atau tidak prinsip Mas Gilang tidak seperti dulu lagi, kalau ditinjau dari perbuatannya hari ini," sela Ali. Dia membantah pernyataan kakaknya. 

"Mbak Nia! Aku tanya sekali lagi sama Mbak Nia. Jawab yang jujur, ya? Mbak Nia ada lakuin apa?" Pertanyaan Ali membuat mataku membulat. Seakan dia menyudutkanku. 

Kuarahkan pandangan ke tempat duduk Ali. Tatapannya membuat jantungku berpacu lebih cepat. Malas untuk menjawab. Arrgh! Ini salah kakaknya, bukan salahku. 

"Mbak sudah bilang, nggak ada pertengkaran di antara kami," ucapku datar.

Mereka terus berspekulasi dengan pikiran mereka. Ya Allah, jika benar itu Mas Gilang. Aku akan menyandang predikat janda.  Bagaimana hidupku ke dapan? Siapa yang membiayai kebutuhan keluargaku? Uang sekolah adik-adikku? 

Ayah dan Ibu hanya pensiunan PNS yang gajinya hanya cukup untuk makan. Biaya hidup di zaman ini sangatlah tinggi. Bagaimana aku mencukupi itu semua? 

Dddrrt! Drrrt!

Pikiranku buyar karena suara handphone Mbak Aisyah. Wanita bergamis hitam itu bangkit. Kaki jenjangnya melangkah ke arah meja, tas mewahnya terletak di sana. 

"Waa'laikumssalam." 

"Apa? Turki?" Teriakan Mbak Aisyah membuat kami berbarengan melihat ke arahnya. 

"Kamu yakin?" tanyanya memastikan. Mbak Aisyah menatapku gusar. Sedetik kemudian, membuang pandangan ke arah dapur. 

"Bisa kirimkan saya rekaman CCTVnya?" 

"Saya tunggu, Assalamua'laikum," tutup Mbak Aisyah. 

"Ummi? Siapa?" tanya suami Mbak Aisyah. 

"Rekan kerja, Ummi," jawabnya lesu. 

Aku menatapnya heran. Ekspresinya langsung berubah saat si penelepon mengatakan sesuatu tentang Turki. 

"Dia ngomong apa, Sya? Kenapa wajah kamu ketakutan begitu?" tanya Mas Lukman. 

"Gilang berangkat ke Turki tadi pagi jam sepuluh ...."

"Turki?" tanyaku memastikan.

"Gilang ke Turki? Ibu ikut bertanya. Raut wajahnya shock dengan penuturan Mbak Aisyah. 

"Benaran, Mi?" 

Aku menjerit semakin keras. Air mata tumpah ruah bak banjir bandang. Mumpung ada keluarga Mas Gilang. Aku harus mengambil hati mereka. Aku korban dalam hal memalukan ini. 

"Kalau dipikir mungkin saja dia Turki. Makanya gawainya nggak aktif," tukas Ali.

"Ngapain Gilang ke Turki, ya?" tanya ibu. Raut wajahnya diliputi kebingungan.

"Astaghfirullah, Bu. Kalau kami tahu, kami nggak susah seperti ini," jawab Mbak Aisyah. 

"Mas, kamu tidak mencintaiku lagi?" gumamku pelan.

"Sabar, Nak. Saat Gilang telpon atau pulang. Ibu akan marahin dia ..."

"Minta dihajar Mas Gilang. Ketinggian nuntut ilmu makanya agak miring otaknya," cibir Ali yang ceplas-ceplos. 

"Mas," panggil istrinya pelan. Ali hanya mengedipkan mata nakal ke arah istrinya.

Pertanyaan besarnya, untuk apa Mas Gilang ke Turki sendirian. Padahal dia berjanji padaku untuk membawaku keliling Turki. Kenapa sekarang dia pergi sendiri? Kenapa? Apa yang Mas Gilang ketahui, sehingga dia bisa berubah seperti ini. Mungkinkah dia marah, karena aku memintanya mengalihkan beberapa aset atas namaku? 

Bersambung

Wow! Si Gilang terbang ke Turki.  

Lalu Nia minta harta? Ada apa ini? 

Penasaran! Pantau terus, ya.