Bab 5
Hasil yang didapatkan oleh Raga cukup banyak. Ada puluhan nama Dewi Rinjani dalam aplikasi berbagi foto tersebut. Pria itu membukanya satu persatu mulai dari atas. Hingga profil yang ketiga lah yang menampilkan apa yang ia cari.

Rinjani.o

Pemilik akun itu sudah memiliki ratusan ribu pengikut. Di sampingnya tertera jumlah postingan yang belum sampai satu ribu. Raga menggulir layarnya turun dan mengetuk postingan paling baru. Ada foto Dewi dan Anggi di acara reuni kemarin. Keduanya tersenyum sangat manis sambil menempelkan sebelah pipi masing-masing. Tanpa sadar ia ikut tersenyum melihatnya. Raga bersyukur, ulah Ibunya tak membuat persahabatan mereka pudar.

Berlanjut menggulir layar ke bawah. Kebanyakan postingan Dewi adalah tentang buku. Raga tak terkejut, semenjak dulu gadis itu memang suka membaca buku. Lalu ada beberapa gambar minuman kekinian dengan caption pengusir lelah. Kemudian ada gambar secangkir kopi hitam yang pekat. Sangat menarik perhatiannya karena Raga tahu pasti, Dewi tidak suka kopi hitam. 

Seperti pahit di kopi ini.
Rasa itu tetap tertinggal.

Hati Raga mendadak berdesir halus. Teringat lagi akan masa lalunya.

"Kayak Bapak-bapak sukanya minum kopi item." cibir Dewi saat mereka makan di sebuah Warteg. Saat Dewi mendapat gaji pertama, Raga tak ada di Indonesia. Maka ketika Raga pulang waktu liburan, Dewi mentraktir Raga sebagai ganti dari perayaan mendapat gaji pertama.

"Rasanya awet dan tetep nempel di lidah aku. Sama kayak rasaku ke kamu ...." timpal Raga mencoba merayu. Tak tepat karena tempat makan mereka bukan di restoran atau cafe. Tadi Dewi sudah bertanya padanya ingin makan di mana, tapi Raga tak mungkin menjawab ingin makan di tempat langganannya.

Dewi mencebik menahan senyum. Memuji pria tinggi di sampingnya itu karena mau masuk ke tempat makan yang sangat sederhana. Perawakan proporsional Raga ditambah pakaian mahal yang dipakainya, membuat pembeli lain tak ada yang tidak meliriknya. "Makan yang banyak. Kamu di luar negeri makin kurus aja." serunya sambil mendekatkan sepiring tahu goreng kepada Raga.

Pria itu tertawa kecil. Tahu goreng di piringnya saja belum habis, tapi Dewi sudah memberinya lagi. "Karena nggak ada yang ngurusin. Coba kalau kamu ikut aku." sahutnya dan lagi-lagi membuat pipi Dewi merona.

Menggulir layar sampai ujung bawah. Raga menemukan gambar berisi sebuah cover buku. Tertera tanggal di caption bawahnya saat untuk pertama kali karyanya di sebuah platform online dibukukan. Sudah sejak tiga tahun yang lalu.

Tak menemukan hal menarik lagi di deretan bawah. Raga menggulir layarnya naik kembali. Ia lalu berhenti pada foto yang menampilkan tulisan.

Bagai ombak yang menyapu pasir
Bagai angin yang meniup daun-daun kering
Inginku melupakanmu
Menghapus jejak dalam hatiku

Sebuah penggalan puisi. Raga tak tahu pasti kata-kata itu ditujukan untuk siapa. Namun, hatinya merasakan nyeri saat netranya membaca rentetan kalimat itu. Jika ini untuknya, Raga tidak suka. Dia tidak mau dilupakan oleh Dewi.

Aku dan kamu
Dua hati jadi satu
Angan-angan tak terbantahkan
Tetap hanya sebuah impian

Mata Raga memejam erat. Rasa sakit mendadak menjalari hatinya lagi. Puisi lain yang baru ia baca seolah menyindirnya. Dulu Raga dan Dewi sempat mempunyai angan tinggi. Membayangkan mengikat hubungan dalam sebuah pernikahan, membangun rumah mungil impian perempuan tersebut dan menua bersama melihat tumbuh kembang cucu-cucunya. Sudah sejauh itu memang.

Mimpi...
Mimpiku hanya kamu
Setiap pagi melihatmu tersenyum
Saat aku membuka mata

Puisi lain yang ditemukan Raga. Itu bukan buatan Dewi, itu adalah buatannya. Raga ingat sekali dengan coretan tak jelas yang ia buat di sampul belakang buku Dewi. Berkata jumawa bahwa ia juga bisa membuat puisi.

Ting.

Sebuah bunyi pesan masuk menginteruspsi Raga. Pria itu lalu menarik turun layar notifikasinya. Ada sebuah pesan berisi foto dari Anggi. Mau tak mau, Raga mengetuknya hingga masuk ke aplikasi chat yang terpasang di gawainya.

Gambar seorang perempuan cantik yang tengah tersenyum manis hingga menampilkan lekuk di pipinya. Ditambah rambut hitam yang tergerai. Makin menambah kadar kecantikan gadis di dalam foto. Raga bahkan sampai tak berkedip melihatnya. Padahal, dia tadi baru saja melihat objek yang sama dalam pose yang berbeda 

Nguing.

Anggita
[-Sekarang makin cantik ya 🤭]

Satu pesan masuk lagi ke nomornya. Raga bahkan belum keluar dari ruang obrolan itu. Membuat tanda dua centang abu di layar si pengirim pasti otomatis berubah biru.

Nguing.
Satu foto dikirimkan oleh Anggi lagi. Raga mengetuknya tanpa berpikir lama. Kali ini bukan foto Dewi yang tersenyum, melainkan sebuah bidikan yang sepertinya diam-diam dicuri oleh Anggi. Gambar Dewi saat sedang menyendok es krim. Dan parahnya Raga masuk dalam jepretan gambar itu, tertangkap basah sedang melihat ke arah Dewi.

Nguing.

Anggita
[-Masih Available, Ga.]

Raga menggeleng lemah. Masihkah ada kesempatan ke-dua untuknya?

Menutup ruang obrolan tanpa mau membalas rentetan pesan dari Anggi. Raga kembali ke laman sosial media berlogo kamera itu. Berkelana lagi di profil Dewi Rinjani.

Ada beberapa foto Dewi bersama beberapa artis Indonesia dengan background nama bioskop. Raga tak tahu pasti mereka siapa. Pria itu hanya menyimpulkan karena kaus yang mereka pakai adalah sama. Kaus bertuliskan judul buku Dewi yang pertama. Rupanya naskah buku itu di adaptasi ke layar lebar. Raga bangga melihat pencapaian mantan kekasihnya tersebut.

Menggulir lagi layarnya, Raga menemukan puisi lain. Tak kuasa untuk tak membacanya. Sejak dulu dia memang sudah menyukai puisi buatan Dewi.

Duhai angin
Bisikkan padanya
Bahwa aku...
Merindukannya...

Puisi yang dibaca Raga kali ini bukan diketik di media elektronik. Puisi itu ditulis tangan dan difoto langsung dari kertasnya. Tulisan tangan Dewi sendiri. Raga masih sangat mengenali tulisannya yang rapi.

"Tulisanmu cantik banget, kayak orangnya." ucap Raga ketika mereka belajar bersama, atau lebih tepatnya merecoki Dewi dan Anggi yang benar-benar belajar.

Anggi pura-pura batuk dan setelahnya berdehem keras. Gombalan sahabatnya sangat receh sekali.

"Senyum kamu manis banget. Lama-lama aku bisa diabetes ngelihatnya." lanjut Raga sambil menatap Dewi yang sudah menutup wajah dengan kedua telapak tangannya. Raga terkikik geli.

Kali ini Anggi tak bisa menahan tawa. Ia tarik-tarik lengan sahabatnya yang betah menutupi muka. Menampilkan semburat merah di pipi yang menjalar ke pucuk hidung Dewi.

Raga keluar dari ingatan masa lalu. Kenangannya bersama Dewi memang selalu indah. Kecuali di bagian terakhir dengan Ibundanya. Pria itu kemudian menggulir layar lagi hingga kini sampai di puisi yang terbaru.

Temaram senja menemani
Sepoi angin memainkan surai
Disini dingin
Tanpamu ...
Ragaku ...

Deg.

Jantung Raga serasa berhenti berdetak. Ragaku...

Seolah melihat gambar yang menakutkan di layar gawai. Pria itu lalu meletakkannya di atas meja. Meraup wajahnya sendiri dengan kedua telapak tangan. Jantung Raga tak jadi berhenti. Kini malah berdebar lebih kencang.

Bersambung.