Bab 1
Yang tulisan tebal miring itu pas flashback ya, Kak.

Seorang pria keluar dari Bandara internasional Soekarno-Hatta. Kacamata hitam bertengger di hidungnya yang mancung. Pandangannya lurus ke depan menuju sebuah kendaraan biru yang terparkir di pinggir jalan. Tangan kirinya menggeret koper berukuran sedang karena tidak banyak barang yang ia bawa. Ia nanti hanya sebentar di Indonesia. Jika bukan karena adiknya yang akan menikah, dia sangat malas untuk pulang.

Raga Abyakta Widjaya. Pria dewasa yang terlewat kaku. Sudah berumur dan sialnya dia dilangkahi oleh adiknya, Raka Aditya Widjaya yang akan menikah terlebih dulu.

Raga menggelengkan kepala. Ini bukan salah Raka, takdir saja yang memang senang mempermainkannya.

×

Pintu gerbang tinggi itu terbuka begitu ia keluar dari taksi. Raga menarik sedikit ujung bibirnya ketika melihat seorang satpam yang pertama kali menyambutnya.

"Selamat datang, Den. Wah, Den Raga sekarang makin tinggi saja." ucap satpam itu sembari meminta koper Raga.

Raga tak menyahut. Bibirnya terlalu kaku untuk sekadar tersenyum ataupun menjawab ucapan selamat datang itu. Makin tinggi bagaimana maksudnya? Usianya sudah 35 tahun. Pertumbuhan tinggi badannya sudah berhenti. Ada-ada saja penjaga keamanan itu.

Raga berhenti sejenak. Ia edarkan pandangannya ke penjuru halaman. Bunga-bunga yang ditanam sang ibu makin banyak. Sekilas memandang sudah banyak jenis tanaman bunga baru. Tak seperti saat ia pergi dulu. Hampir gersang
.
"Raga."

Ia disambut oleh sang ibu yang berlari menghampirinya. Raga menarik ujung bibirnya lagi saat melihat Ibu Dina. Mau bagaimanapun, jauh di dalam lubuk hati, dia juga merindukan wanita keras yang telah melahirkannya ke dunia itu. Hampir delapan tahun mereka tak bertemu. Berhubungan lewat sambungan jarak jauh pun sangat jarang dilakukan.

Raga bisa melihat kedua mata sang ibu yang sudah berkaca-kaca. Wanita itu mengusap-usap pundaknya seolah sedang membersihkan debu yang menempel setelah memeluknya sejenak.

"Ayo masuk, Mama udah masakin makanan kesukaan kamu." ucap Ibu Dina yang hanya memeluk Raga sebentar saja. Inginnya juga lama, tapi anaknya itu tak mau membalas pelukannya. Beliau menuntun sang anak sambil menunduk menahan tangis.

Sampai di dalam rumah. Lagi-lagi Raga mendapat sambutan dari anggota keluarga lainnya. Ayah dan dua adiknya se-siang ini sudah ada di rumah. Benar-benar hal yang mencengangkan karena Raga tahu, mereka semua pasti sengaja melakukan ini.

"Lupa jalan atau gimana, Kak? Kok sampai rumah lama amat?"

Raga tak menjawab pertanyaan Rama, adik bungsunya saat mereka berpelukan sebentar.

"Gaya banget dijemput nggak mau."

Pun saat berpindah pada Raka si calon pengantin. Raga juga melakukan hal yang sama.

Duduk bersama mengitari meja makan persegi panjang itu. Hanya celotehan Raka dan Rama yang silih berganti terdengar. Tak juga berhasil meredakan suasana yang terlanjur menegang. Raga tetap betah dengan kekakuan dan kebisuannya. Pria itu hanya sesekali mengangguk saat Ibu Dina menawarinya lauk yang cukup banyak tersaji di atas meja. Dan benar semuanya adalah makanan kesukaan Raga. Mungkin beliau memang mempersiapkan khusus untuknya.

"Gimana pembangunan hotelnya, Ga?" tanya Pak Ramdan disela acara makan siang itu. Beliau mengambil lauk sendiri. Ibu Dina sejak tadi sibuk meladeni Raga. Bapak tiga anak tersebut tak bertanya mengenai kabar Raga. Beliau sudah bisa melihatnya sendiri. Badan anak pertamanya itu sehat dan bugar. Beliau bukan orang yang suka basa-basi.

Raga menelan nasi yang ia kunyah terlebih dulu sebelum menjawab. "Tinggal finishing-nya, Pa." Suara berat Raga akhirnya terdengar. Ia mendongak dan melihat Raka yang nampak sangat bahagia. Yah, siapa yang tidak bahagia saat akan menikah dengan orang yang dicintainya. Lama-lama Raga jadi penasaran dengan calon istri adiknya itu. Berasal dari keluarga mana dia? Siapa orang tuanya dan apa nama perusahaannya? Sampai-sampai ibunya yang keras itu bisa dengan mudah memberi restu.

×

Selesai makan Raga lalu naik ke atas menuju kamarnya. Ruangan yang sudah sangat lama ia tinggalkan itu ternyata masih sama. Ibunya tidak mengubah tata letak satupun barang di sana. Raga menarik tirai panjang di sebelah kiri kamarnya dan seketika panas matahari langsung menyerangnya. Pria itu menarik salah satu pintu kaca lalu keluar ke balkon yang berhadapan langsung dengan taman belakang. Raga menunduk, kolam renangnya masih sama, tapi tanamannya sudah bertambah banyak pula. Ibu Dina sekarang memang hobi menanam bunga.

Raga memejamkan mata saat pikirannya kembali penuh oleh satu sosok perempuan yang tadi tak sengaja ia lihat di bandara. Entah apa rencana Tuhan kali ini. Setibanya di Indonesia, orang pertama yang ia lihat adalah Dewi Rinjani, mantan kekasihnya.

Kisahnya dulu memang rumit. Ia mencintai Dewi, tapi ibunya lebih menyukai Anggi untuk menjadi menantu pertama. Bagaimana bisa dia menikah dengan Anggi jika dia saja tidak memiliki perasaan apapun pada perempuan itu. Raga dan Anggi hanya bersahabat. Bahkan dulu yang mengenalkannya dengan Dewi adalah Anggi sendiri.

Bermula saat mereka duduk di bangku SMA. Anggi dan Dewi adalah teman satu kelas. Mereka duduk satu bangku. Raga ada di kelas yang berbeda, tapi selalu pulang bersama Anggi. Mereka sudah bersahabat sejak kecil. Ibu Dina dan ibunya Anggi adalah teman karib.

Anggi mengenalkan Dewi pada Raga dan pria itu langsung jatuh cinta pada pertemuan tujuh detik pertama. Gadis sederhana itu mampu membius Raga dengan senyumnya yang lembut. Selang lima bulan, Raga menyatakan perasaan dan Dewi pun membalas. Mereka berpacaran dalam rentang waktu yang cukup lama. Bahkan saat Raga melanjutkan studi di luar negeri pun Dewi masih tetap setia.

Hingga di suatu saat ia membawa Dewi ke rumah. Ia ingin mengenalkan kekasihnya pada sang ibu serta ingin meminta restu. Raga ingin mempersunting Dewi. Namun, sambutan ibunya tak seperti yang ia bayangkan. Wanita yang sangat ia sayangi itu mencaci maki pujaan hatinya. Mencacinya dengan kata-kata kasar yang sangat menyakiti. Memberitahu jika beliau lebih suka Anggi menjadi menantunya, daripada Dewi.

Sejak saat itu Dewi perlahan menjauh. Tak mau lagi menemuinya.

Dan Raga, dia memilih pergi. Pergi dari hadapan Dewi maupun sang ibunda. 

"Dewi, aku boleh titip sesuatu ke kamu?" tanya Raga yang duduk di samping Dewi di bangku kantin. Saat Anggi berpamitan sebentar untuk ke toilet. Mereka berdua memang sudah merencanakannya. Pas sekali ditambah keadaan tempat makan sekolah yang sedang sepi.

Dewi menoleh, menatap Raga yang jika sama-sama duduk seperti ini masih tetap lebih tinggi. "Apa?" tanya Dewi tanpa melepaskan pulpennya. Dia sedang mencoret lembaran buku dengan ide cerita yang berseliweran di kepala. Dia memang suka mengarang.

"Titip hati aku ...."




Bersambung.