Bab 4
Hujan semakin deras mengguyur bumi. Sudah lewat jam tujuh malam dan masih banyak kendaraan yang memenuhi jalanan. Tak terkecuali Raga dan Dewi, mereka terjebak macet karena jalan utama di depan sana tergenang banjir.

Suasana canggung menyelimuti. Baik Raga ataupun Dewi tak ada yang mau bersuara. Dewi tadi sudah menolak, tapi Raga tetap memaksa. Gadis tersebut duduk di samping Raga. Memangku tas kecilnya dan juga jas pria kaku itu. Raga tadi tak mau menerima saat ia memberikannya.

Keheningan menyayat. Detik jam seolah berhenti di tempat. Memilih memperhatikan keadaan luar jendela. Tak mau menoleh ke samping kanannya. Dewi pura-pura kuat hati meski kedua netranya sudah terasa panas.

"Dewi, aku boleh titip sesuatu ke kamu?"

Saat dia sedang mencatat ide cerita yang memenuhi kepala, Raga tiba-tiba datang dan bertanya sesuatu hal yang aneh padanya.

"Apa?" jawabnya balas bertanya. Menatap manik mata teduh pria tinggi tersebut.

"Titip hati aku ...."

Dewi tercenung. Beberapa saat nyawanya seperti lepas. Dia tidak paham dengan maksud ucapan Raga.

"Aku suka sama kamu." lanjut Raga.

Gadis SMA yang mengepang rambutnya jadi satu itu meletakkan pulpennya. Lalu menunduk menyembunyikan wajah yang bersemu. Ide cerita yang tadi berdesakkan di kepala lantas berlari entah kemana.

Butuh waktu cukup lama bagi Dewi menjawab ungkapan hati Raga. Hampir satu bulan dia malah seperti menghindar dari pria itu. Namun, Anggita... Sahabatnya itulah yang membujuknya. Mengatakan bahwa Raga adalah pria baik. Pria yang tidak pernah bermain-main dengan rasa.

Dewi percaya, Raga memang pria baik. Teramat baik baginya pula, akan tetapi gadis itu bukanlah orang berada. Jarak kasta mereka teramat jauh dan Dewi bukan orang yang mempunyai kepercayaan diri tinggi. Dia merasa tidak pantas menjadi pacar pemuda penuh pesona tersebut. Dan lagi-lagi Anggita yang meyakinkannya. Teman karibnya itu mengatakan semua akan baik-baik saja.

Setetes bening air mata turun ketika ia berkedip. Dewi menunduk demi bisa mengusapnya. Beruntung lampu di dalam mobil itu tak terlalu terang. Masa lalunya memang perih. Hubungannya dengan Raga, tidak mungkin tidak apa-apa.

"Kamu pikir kamu ini siapa sampai berani-beraninya suka sama anak saya? Nggak sadar sama posisimu? Raga sudah saya jodohkan dengan Anggi. Silakan pergi!"

Ucapan keras Mamanya Raga masih membekas di dalam hati. Meski beliau sudah meminta maaf kepadanya empat tahun yang lalu. Namun, seperti paku yang ditancapkan pada sebatang kayu dan dipukul sampai tandas, saat dicabut masih tetap akan meninggalkan bekas lubang yang menganga.

×

Raga membutuhkan waktu sekitar tiga puluh menit untuk sampai. Pria itu menghentikan mobil di depan rumah minimalis tanpa pintu gerbang tersebut. Hujan sudah reda dan hanya tinggal gerimis satu-satu.

Dewi menoleh sekilas sembari mengucapkan terima kasih. Turun dari mobil dan meninggalkan jas hitam Raga di tempatnya duduk tadi. Sementara Raga hanya mengangguk membalasnya.

Gadis itu menoleh ke arah mobil yang perlahan pergi menjauh. Menunduk lalu menggelengkan kepala. Mereka sekarang bukan apa-apa. Mereka sudah tak memiliki hubungan lagi. Tidak mungkin Raga akan menungguinya sampai masuk rumah, seperti dulu.

Enggan tenggelam dalam ingatan. Dewi memilih beranjak, tetapi baru satu langkah dia malah berhenti lagi. Gadis itu menoleh ke arah mobil yang baru saja hilang di belokan jalan.

Bagaimana Raga bisa tahu alamat rumahnya?
Tempat tinggalnya saat ini bukanlah rumah kontrakan kecil yang dulu lagi.

×××

Raga sengaja melajukan kendaraan dengan pelan. Ia lihat dari kaca spion tengah. Dewi masih belum beranjak dari tempatnya berdiri. Inginnya dia seperti dulu. Menunggu sampai gadis itu masuk ke dalam rumah. Memastikan bahwa dia aman. Namun, Raga tak bisa. Sekuat hati ia menahan diri untuk tak menarik tubuh tinggi Dewi ke dalam pelukannya demi menumpahkan semua kerinduan yang memenuhi rongga dada.

"Udah lama?" tanya Dewi yang baru keluar dari pabrik garmen tempatnya bekerja.

Raga menggeleng sambil tersenyum manis. "Baru dua jam." jawabnya sambil membukakan pintu mobil.

Dewi mengatupkan kedua tangannya membentuk sebuah permohonan. "Maaf, tiba-tiba tadi disuruh lembur."

Masih tersenyum, Pria itu mengangguk paham. Dagunya lalu menyentak menyuruh Dewi masuk ke dalam kendaraannya. Kemudian dirinya berjalan cepat mengitari separuh bagian mobil. Raga duduk di belakang kemudi. Tersenyum lagi ketika melihat Dewi yang sedang memasang sabuk pengaman. "Kita makan dulu ya. Baru aku anterin kamu pulang." ucap Raga sembari memasangkan sabuknya sendiri. "Atau kita bungkus aja. Nanti makan di rumah sama Ibu."

"Ibu lagi ke Bandung." sahut Dewi yang sudah selesai memasang sabuk. "Ada saudara yang meninggal." sambungnya kala Raga menatapnya menuntut penjelasan.

"Oh, kesempatan berarti." tutur Raga sebelum menginjak gas. Ia kulum senyumnya yang aneh.

Bibir Dewi hanya mencebik sambil kepalanya menggeleng kecil. Raga memang senang menggodanya. Ia lirik tangan kanannya yang digenggam pria itu. Gadis itu tersenyum, batasnya dengan Raga memang hanya sampai di situ.

×

"Kamu jam segini kok baru pulang, Nak?"

Sampai di rumah. Raga mendapati Sang ibu yang berada di ruang tamu. Sepertinya memang sengaja menungguinya.

"Tadi ada urusan sebentar." jawabnya. Berhenti sejenak di depan wanita itu.

"Kamu udah makan?"

Raga mengangguk singkat sebagai jawaban.

"Kamu kehujanan?" tanya Ibu Dina sambil mengusap-usap bahunya lagi. "Mama siapin air hangat buat mandi ya ...."

"Nggak usah, Ma. Raga bisa sendiri." tolaknya lalu kembali melangkah meninggalkan Ibu Dina seorang diri.

×

Sampai di kamar. Raga duduk di sofa. Melepaskan sepatu dan kaus kakinya. Rasa sesak itu kembali menyeruak. Dia menunduk dalam-dalam. Pundaknya yang basah mulai bergetar. Jika tentang Dewi, dia memang menjadi orang yang cengeng.

"Bu, saya ingin bertemu Dewi. Tolong... Sebentar saja." pinta Raga pada seorang wanita tua yang baru saja selesai menuang es blender ke dalam plastik. Setelahnya beliau berikan pada seorang anak kecil yang berdiri menunggu. Seusai transaksi jual beli rampung, Raga berkata lagi. "Ada yang ingin saya bicarakan sama Dewi, Bu."

"Nak Raga..." Helaan panjang wanita itu menyiratkan kesedihan. Beliau menatap Raga dengan sendu. "Lebih baik kamu pergi. Cukup sampai di sini saja. Terima kasih sudah menjaga anak Ibu selama ini. Kamu anak baik. Pasti kamu juga akan mendapatkan gadis yang baik."

Satu bulan setelah penolakan keras Ibu Dina. Hampir setiap hari Raga datang ke rumah kontrakan tempat Dewi dan ibunya tinggal. Namun, hanya ibunya Dewi yang mau menemuinya. Mengatakan bahwa Dewi tidak ada di rumah atau belum pulang kerja. Raga mengangguk lalu undur diri, meskipun jelas-jelas mata sayunya melihat gadis itu baru saja masuk ke rumahnya.

Usianya saat itu 27 tahun. Sudah lulus kuliah dan sudah bekerja membantu bisnis Sang Ayah. Raga telah menyiapkan semuanya. Rencana melamar kekasih tercinta setelah membawanya menemui Sang Ibunda. Namun, penolakan yang ia dapat membuat rencanya lebur sirna. Dewi tidak mungkin menerimanya setelah mendapat caci maki yang menyayat hati dan telinga.

×××

Raga memijit tengkuknya sendiri. Bukan penat karena pekerjaan. Adiknya tak banyak meninggalkan tugas untuknya. Sejak tadi malam kepalanya memang tidak bisa berpikir jernih. Dia bahkan tak bisa tidur dengan nyenyak.

Pagi-pagi sekali dia sudah bangun. Berolahraga sebentar di halaman belakang rumah. Sarapan segelas susu lalu mandi. Setelahnya langsung berangkat ke kantor. Tanpa mau mengisi perutnya dengan makanan terlebih dulu. Sampai jam sepuluh, dia belum juga merasa lapar. Entahlah, itu benar-benar tidak lapar atau hanya malas makan.

Pria itu meraih gawainya yang tergeletak di atas meja. Membuka toko aplikasi dan mengunduh salah satu platform sosial media berbagi foto. Masuk dengan nama yang bukan sebenarnya. Melengkapi profil seadanya. Lalu membuka kolom pencarian, mengetik sebuah nama ....

Dewi Rinjani.

Bersambung.