Menikahi Janda Kesepian (tamat)

“Ah, apa sih...!!” Santi mencubit lengan suaminya. “Pagi-pagi colek-colek.”


Salim tersenyum. Ia selalu mencari kesempatan saat di dekat istrinya. Colek ini lah, colek itu. Santi senang sebenarnya, tapi capek juga kalau keseringan. Meskipun sudah punya cucu, tapi malam mereka tak kalah sama pengantin baru. Kalau waktu masih pengantin baru sih, tidak masalah, tapi sekarang sudah tambah sibuk. Keduanya bisnis ternak kambing sambil jualan madu. Pikiran Santi juga sudah asyik dengan bisnis, lebih sering ingat cucu dibanding suami perkasanya. Sejak anak-anak mereka sudah pada menikah dan tidak serumah lagi, Salim memang tampak lebih mesra lagi.


“Pergi saja...!!” Suara Ida, tetangga mereka terdengar lantang. “Laki kok tidak bisa diandalkan...!!” Suaranya nyaring sekali, pasti terdengar orang se-RT. Sebagai tetangga dekat, hampir setiap hari Santi mendengar percekcokan mereka. Ida sudah punya anak dua. Keduanya berada di pesantren. Hidup berdua bukannya tambah mesra, eh, malah sering tengkar. Padahal suaminya tambah sukses.


Rian, suami Ida, bingung. Baru saja dia ditelfon bosnya, katanya ada pekerjaan mendadak, dan lumayan komisinya. Begitulah pekerjaan dia. Cukup banyak uang memang ia dapatkan. Tetapi ia bingung. Tidak kerja, uang dari mana? Istrinya hanya pegawai toko, gajinya dikit. Sebenarnya ia sudah menyuruh istrinya berhenti kerja, biar tidak capek, pendapatan dia kan sudah banyak sekarang. Tetapi Ida tidak mau.


Sempat ia mengira ada pria lain yang membuat Ida sering marah-marah tidak jelas. Salim sebagai tetangga paham. Tetangganya itu terlalu sibuk, pikirannya fokus pada kerjaan terus. Meskipun sebenarnya Salim juga sibuk. Ia sering melihat Rian duduk sendiri di kursi di terasnya. Bagi Salim, itu salah. Kalau ada istri, ya, harusnya di dekat istri, pikirnya. Bantu nyuci juga tidak apa-apa. Salim sendiri sampek bisa masak juga sekarang.


***


Akhirnya Rian dan Ida cerai. Rian merasa tidak tahan dengan sikapnya. Tak sanggup lagi ia berpikir, bahkan tak sempat ia pikirkan bagaimana perasaan anaknya karena mereka cerai. Resmilah Ida menjadi janda. Sejak cerai itulah, tak ada lagi suara pertengkaran. “Mas, baru tadi pagi...” Santi menatap suaminya yang mulai nempel-nempel sehabis makan siang. Mau alasan cucian banyak, sudah dicuciin tadi. Ya, sudah nyerah saja, apalagi sudah tidak tahan karena ulah Salim.


Ida tampak selalu tidak bahagia. Dari dulu memang begitu, meskipun masih ada suaminya. Sekarang sudah jadi janda, malah tambah. “Mampir,” sapa Santi saat Ida lewat di depan rumahnya. “Tidak ceria ya wajahnya,” kata Santi sama suaminya.


“Ia, tidur sendiri,” jawab Salim.


Santi mencubitnya. “Pikirannya...!!”


Salim tertawa. Ia gemar sekali candain istrinya. “Orang dewasa itu harus ada temannya tidur. Itu kebutuhan.”


Santi jadi tambah jengkel, tapi seneng. Memang sih, dia sendiri paham soal hal itu. Tetapi, kali ini, suaminya kelewatan. “Sana, temani,” candanya pada suaminya nyuruh dia nemenin Ida.


“Siap,” jawab Salim.


Santi tersenyum. “Kamu tu butuh perempuan empat.”


“Satu aja cukup, yang penting kan siap.”


Santi mencubit dada Salim sekencang-kencangnya. “Gemes aku...!!” katanya.


***


Entah apa yang ada dipikiran Santi. Mungkin ia sudah tidak terlalu memikirkan cinta, sudah sibuk urus bisnis dan sudah cukup bahagia punya anak dan cucu. Ia mengizinkan suaminya menikah lagi. Mungkin juga karena ia tidak sanggup mengimbangi hasratnya. Salim pun mencoba melamar Ida. Masa iddahnya sudah habis, rupanya ia mau.


Pernikahan dilangsungkan sederhana saja, hanya undang tetangga sekitar. Santi hadir di acara tersebut. Ia tampak ceria, malah becanda dengan tetangga. Tak tampak sedih. “Aku lupa belum minum madu kelulut sama bawang,” bisik Salim pada Santi. Bikin Santi gemes saja. Sehabis maghrib, sehabis acara, Salim ke rumahnya, ia meracik madu klanceng dicampur bawang lanang. Santi menyaksikannya. Salim tersenyum padanya. Santi hanya geleng-geleng kepala.


Malam sudah mulai sepi. Sudah lama sekali Ida merasa kesepian. Pikirannya sudah fokus ke ranjang saja, tak peduli siapa lelaki yang bersamanya. Untungnya malam ini ia ditemani lelaki yang sudah sah menjadi miliknya, walau jadi istri kedua. Salim cukup profesional urusan ranjang. Ia paham cara membahagiakan wanita. Mereka duduk berhadapan di ranjang. Salim mencium pipi kanan istrinya, lalu pipi kirinya. Didorongnya perlahan tubuh Ida.


Seakan terbang keangkasa penuh bunga, sekan berada di taman surga. Ini yang dari dulu diimpikan Ida. Dulu hanya berupa angan-angan, kini ia berlabuh mengarungi keindahan samudra cinta. Tengah malam ia terbangun. Bahagia rasanya. Dunia terasa begitu indah. Rupanya Salim juga terbangun. Dilihatnya istri barunya sedang duduk. Rupanya Salim masih ingin lanjut. Ida tidak menyangka Salim yang sudah tua masih cukup kuat.


“Mas, capek,” kata Ida menjelang subuh.


Salim melihat jam. Sudah hampir subuh. “Mandi yuk,” ajak Salim. “Sholat malam, mumpung masih ada waktu.”


Ida tampak kelelahan, tapi ia berusaha bangun. Sepertinya ia senang diajakin sholat malam. “Mas mandi duluan,” kata Ida. Salim ngajak mandi bareng. Ida tampak malu, tapi Salim menariknya. Keduanya pun mandi bersama.


***

Meskipun Ida dan Santi tampak rukun, rupanya pandangan miring tetangga tak bisa dihindari. Banyak dari mereka yang menyebut Ida sebagai pelakor, padahal Santi ikhlas menerimanya. Ada yang bilang Santi bodoh, suaminya direbut janda gatal, diam saja. Ada juga yang membicarakan Salim, tapi namanya laki-laki, masa bodoh dengan omongan orang.


“Kok rela ya suaminya nikah lagi,” kata Buk Suni.


Dia berbisik sebenarnya pada Buk Latifah, tapi agak keras. Santi mendengarnya. Santi sudah sibuk mikir anak, cucu dan bisnisnya. Ia cuwek saja, meskipun agak kesal. Ida pernah marah sama tetangga yang kedapatan sedang membicarakan dirinya. Untung Salim segera menenangkannya. Anak Ida, anak keduanya, merasa malu saat pulang dari pondok. Ia mendengar omongan tetangga. Ia kesal karena ibunya jadi istri kedua.


Ida merasa tertekan oleh sikap tetangganya, sebenarnya. “Tidak usah dipikir,” nasehat suaminya. “Nanti mereka juga capek sendiri.” Tetapi, hampir tiap hari omongan itu ia dengar. Dirinya dicap sebagai pelakor.


Santi kadang merasa kehilangan. Saat suaminya ada di rumah Ida, ia kadang merindukannya. Tetapi, jika ia ingat dulu, sebelum suaminya nikah lagi, wah, kwalahan juga dia. Mending begini saja. Ia mencoba mengalihkan pikirannya, ia alihkan mikir anak, cucu, mikir bisnis. Ida juga kadang ingin menjadi istri seutuhnya, tanpa dibagi-bagi. Tetapi, realistis juga sih, kadang dia kwalahan juga. “Loh, mas kok ke sini? Kan bagiannya Mbak Santi?” tanya Ida, suatu malam suaminya datang. Rupanya Santi sedang libur, suaminya lagi butuh. “Aku belum selesai, Mas.” Yah, apes deh, Salim.


***


Tengah malam, suatu malam, saat Salim dan Ida lagi asik di kamar, tiba-tiba ada rame-rame di samping rumahnya. Salim tidak menghiraukan, mau ia tuntaskan dulu saja. Ida penasaran ingin keluar, lihat apa yang terjadi, tapi Salim tidak mengizinkannya. Setengah jam kemudian, keduanya keluar. Rupanya tetangga sebelah, yang sudah lama menjanda, kedapatan tidur sama brondong dari kampung sebelah.


“Kenapa tidak nikah saja,” kata salah seorang tetangga. “Lebih baik nikah, meskipun jadi istri kedua,” kata yang lain. Ida agak tersinggung. “Makanya, jangan lama-lama menjanda,” tambah yang lain lagi.