Kawin Sedekah (2) -bersambung

Rudy teringat saat menjelajah ke gunung bersama teman-temannya dulu. Di sana rumah penduduknya berjauhan. Satu rumah dengan rumah lainnya ada yang berjarak sekitar 500 meter, bahkan 1 km. Boleh nih.

Dia kembali ke tempat kost. Dia mencoba mencari di Facebook, banyak grup cari jodoh. Langsung saja dia tulis: Cari calon istri umur 50 tahun. Wah, dia jadi bahan bulyan. Tapi, cuwek saja. Ada yang inbox, “Kenapa cari yang umur 50?” Rudy buka profilnya. Rupanya sudah janda.

Dia balas saja. “Aku ingin hidup bebas. Tapi, aku akan berusaha untuk terus menyayangi. Nikah rahasia saja.”

“Kenapa tidak nikah normal aja?”

“Tidak bebas.”

“Wanita itu ingin pria yang bertanggung jawab.”

Rudy tidak menanggapi lagi. Dia posting lagi di beberapa grup lebih detail, “Saya mencari calon istri usia 50 yang mau nikah rahasia. Saya kasih belanja cukup...” Dia bingung untuk melanjutkan tulisannya. Sepertinya dirinya harus sedia rumah, meskipun hanya rumah kontrakan. OK. Dia tulis saja, “...saya sediakan rumah.”

Ada banyak yang inbox. Ini kayak lowongan untuk jadi istri. Rudy biarkan aja dulu banyak pesan masuk.

***

“Ke kontrakan nanti,” ajak Sandi sehabis kuliah.

Rudy paham. Biasanya dia sudah bawa cewek buat dinikmati bareng-bareng. Rudy tidak mau lagi. Mending yang halal saja. “Aduh, aku lagi sibuk banget, Bro.”

“Sibuk?” kata Sandi. “Sejak kapan kamu sibuk?”

“Bisnis.”

“Ow. OK. Aku pergi dulu.”

***

Pagi ini Rudy jalan-jalan ke dekat gunung, siapa tahu ada wanita yang hidup sendirian. Ia melihat seorang wanita membawa kayu bakar. Rudy parkir motornya dan mendekatinya. “Rumahnya dimana, Bu?” tanya Rudy.

“Itu,” kata ibu itu menunjuk rumah agak jauh dari situ.

“Tinggal sama siapa?”

“Sendiri. Anak saya merantau ke Malaysia tidak ada kabar.”

Wah, pas banget nih. Rudy melihat keadaan sekitar. Sepertinya tidak ada rumah lagi, hanya satu rumah itu. “Tetangganya jauh ya, Bu?”

“Dekat,” jawabnya. “Di atas sungai ini ada tetangga.”

Pikir Rudy, itu jauh. Rudy langsung menawarkan diri. Sebenarnya dia tidak cantik, tapi tubuh tampak seksi meskipun berotot karena hidup di desa. Rudy coba menawarkan diri, “Ibu mau tidak, nikah lagi?” tanya Rudy.

Ibu itu tertawa. “Kalau dikasih belanja banyak, mau,” katanya sambil tertawa.

Pikir Rudy, wanita desa tidak akan banyak kebutuhannya. “Begini, Bu. Ibu akan dapat uang belanja banyak, tapi nikahnya rahasia.”

Ibu itu kaget dan tertawa. “Nikah gimana maksudnya?” tanyanya.

“Sudah. Ibu mau tidak? Enak kan dapat uang belanja terus.”

“Ya, mau, kalau dikasih uang banyak.”

“Baik. Ibu nikah sama saya,” kata Rudy.

Ibu itu kaget dan tertawa. “Sampeyan masih muda, mau sama saya?”

“Sudah. Kita nikah rahasia.”

“Terus siapa yang mau nikahkan?” tanya ibu itu.

“Gampang. Saya yang urus. Yang penting, jangan sampai ada orang tahu.”

“Iya sudah. Asal kasih uang.”

Rudy diajak ke rumahnya oleh wanita itu. Rudy bawa motor, agak susah jalannya. Rumahnya terbuat dari anyaman bambu, alas tanah. Hanya ada satu tempat tidur di situ. Rumah berbentuk persegi panjang, ruang depan, ruang tengah buat tidur, dan dapur. “Ini rumah saya,” kata ibu itu sambil meletakkan kayu bakar di dapur. “Sudah 10 tahun lebih hidup sendiri. Punya anak satu, tidak tahu kemana, tidak ada kabar,” keluhnya.

Mereka ngobrol di ruang depan. “Sampeyan kok mau nikahin saya?” tanya ibu itu.

“Daripada zina, Bu.”

“Kenapa tidak nikahin yang masih muda?” tanya beliau. “Saya sudah tidak bisa punya anak.” Memang itu yang diharap Rudy. “Sudah kering.”

Pikir Rudy, mungkin beliau sangat butuh ada yang menanggung hidupnya. Nasib ditelantarkan anak memang begini. Rudy jadi kasihan. “Tidak apa-apa, Bu. Saya tanggung hidup ibu.”

“Iya, sudah.” Sepertinya beliau pasrah, yang penting dapat uang.

Bersambung