Pelet Cinta Sang Bawahan (tamat)

“Lembur terus kamu, Bram?”

“Iya, aku harus bisa segera naik jabatan. Ingin segera nikah.”

“Hah...?” Rudi tertawa. “Ingin segera nikah, ngejar jabatan?”

“Biar dapat yang berkelas.”

“Hahaha... Bram, Bram... Ingin nikah, ya ngejar cewek lah.”

“Udah, tidak usah urus orang.”

Di lembaga ini, memang gampang naik jabatan, asal sering bantu atasan, masa depan cerah. Apalagi sudah ada beberapa cabang yang akan dibuka, pasti butuh calon calon pemimpin. Rudi sudah mengira, Bram suka sama Mbak Devi, kepala litbang, cantik dan masih muda. Sebenarnya di lembaga ini ada satu lagi wanita single, yakni Bu Ayu, tapi beliau sudah janda, posisinya cukup penting di lembaga ini, ia sebagai HR. Ia cukup dipercaya oleh presiden direktur. Rudi dan Bram hanya sebagai tenaga team IT.

Rudi berkunjung ke kontrakan Edi, salah satu OB, sehabis maghrib. Rupanya ada Doni juga di sana. “Dari mana, Bro?” sapa Edi melihat Rudi datang.

“Jalan-jalan saja.”

“Ed, kamu masih sering kontak temanmu yang pinter ilmu pelet itu?”

Doni langsung komen, “Syirik, syirik. Jaman sekarang masih percaya kayak gitu,” katanya.

Rudi tidak peduli. “Syirik itu menyamakan sesuatu dengan Allah. Paham...!!” katanya pada Doni.

“Kerja sama jin, syirik, dilarang.”

“Hati-hati bicara,” Rudi agak kesal. “Bedakan hukum haram dan definisi syirik. Paham...!!” nada suaranya meninggi.

Edi tertawa. “Asal tidak menyamakan jin dengan Allah, tidak masalah,” katanya. Mereka memang sering beda pendapat.

“Ya sudah, saya hanya mengingatkan,” kata Doni.

Edi ngasih nomor WA-nya ke Rudi. Rudi berencana nembak Bu Ayu. Padahal beliau sudah umur 54 tahun. Seharusnya ia nembak Mbak Devi saja, dia baru berumur 24 tahun. Masih muda, cantik, karir mapan. Memang sih, meskipun sudah umur 54, Bu Ayu selalu tampil cantik, bentuk tubuhnya pun masih cukup elegant, masih menggoda dilihat cowok.

Rudi disuruh datang ke rumah temannya Edi. Ia pun datang. Rudi diberi peringatan, katanya, ada beberapa syarat yang harus dipatuhi: harus serius, tidak boleh dibuat mainan, harus dinikahi, tidak boleh kasar sama perempuan. Kalau dilanggar, katanya ada resiko yang akan ditanggung. Rudi siap patuh.

***

Pagi ini Rudi akan melancarkan aksinya, ia diberi pasir sebagai media pelet cintanya. Ia tabur sedikit di depan pintu masuk ruangan kantor Bu Ayu. Tidak ada yang curiga karena pasirnya sangat halus, hanya sedikit yang ia tabur. Agak siangan ia sesekali lewat di depan kantor Bu Ayu, sekedar ingin memastikan peletnya bekerja. Tetapi, sepertinya beliau sibuk.

Dua hari tidak ada tanda, ia kasih lagi, tiga hari, empat hari, tidak ada tanda-tanda, ia kasih lagi. Rudi merasa tertipu. Ia berencana mau ke rumah teman Edi lagi untuk menghajarnya. Jam 3 pagi ia bangun, dilihatnya ada pesan WA masuk. Ia buka, rupanya pesan dari Bu Ayu. Seperti menemukan berlian, senangnya dia. Isi pesannya, “Pak Rudi belum punya calon istri?” Rudi yakin itu efek pelet cinta itu. Ia akan ke rumah temannya Edi untuk minta maaf karena telah berburuk sangka.

“Belum, Bu,” jawabnya via WA.

Tetapi, sepertinya Bu Ayu tertidur. Pesannya centang satu. Pagi jam 6 baru dibalas. “Ow, kirain udah ada calon.”

“Memang kenapa, Bu?”

“Tidak apa-apa.”

Rudi yakin sekali Bu Ayu ingin dirinya menikahinya, akibat pelet cinta itu. Tetapi dia masih ragu untuk nembak langsung. Ia mondar-mandir di kamarnya, ragu. Yap, akhirnya ia nekad. “Ibu mau jadi istri saya?” Ia kirim.

Agak lama tidak dibalas, padahal sudah centang biru dua. Rudi sudah khawatir sekali. Bisa dipecat dia. Akhirnya dibalas juga. “Mas Rudi serius?”

Yes. Rudi senang. Hayalannya melayang. “Sangat serius. Siap segera menikah,” jawabnya.

“Besok ke ruangan saya ya jam 9,” lanjut Bu Ayu.

***

Dada Rudi berdebar-debar. Tidak ia sangka akan seperti ini. Sebenarnya ia tidak begitu percaya pelet cintanya berfungsi, tapi sepertinya bekerja dengan baik. Ada perasaan ragu. Bagaimana dengan keluarga Bu Ayu? Apa Rudi bisa diterima di keluarga mereka? Ah, tapi ia maju saja. Hidup memang selalu berhadapan dengan dua kemungkinan.

“Masuk,” kata Bu Ayu mendengar ada yang mengetuk pintu.

Rudi dipersilahkan duduk. Mereka berhadapan. Cantik juga dia meskipun sudah tua. Rudi tak tahan jika berdekatan begini. Bu Ayu tersenyum padanya. Ia menyuguhkan air mineral, “Monggo diminum.” Rudi pun meminumnya. Agak lama keduanya saling tukar senyum saja. Tiba-tiba ada yang mengetuk pintu. Bu Ayu mempersilahkan masuk, rupanya Bram. “Nanti dulu ya,” kata Bu Ayu. Bram sempat melirik Rudi. Ia menebak-nebak ada perlu apa Rudi di situ, jangan-jangan mau naik jabatan? Keduanya kembali saling tatap. “Mas Rudi serius?” tanya Bu Ayu.

Rudi berusaha bersikap sebagai cowok di hadapan cewek, bukan bawahan di hadapan atasan. “Saya serius. Saya akan berusaha menjadi suami yang baik,” katanya.

Nafas Bu Ayu menjadi berat. Ia tersenyum, tampak agak malu. “Umur saya lebih tua,” katanya.

“Tidak masalah. Saya terima apa adanya.”

Bahagianya mendengar jawaban Rudi.

***

Rupanya anak Bu Ayu yang masih kuliah tidak suka beliau menikah lagi dengan bawahannya. Menurutnya, seharusnya ibunya menikah dengan laki-laki terhormat. Padahal dulu pernah dilamar seorang wakil Bupati. Itu kan lebih terhormat di mata masyarakat. Tetapi, Bu Ayu tidak begitu peduli. Ia tetap akan lanjut menikah dengan Rudi.

Undangan disebar. Kagetlah semua orang di lembaga. “Kok bisa?!” begitu respon mereka. Rudi masih muda, kok mau sama wanita yang sudah lumayan tua? Bu Ayu jabatannya sudah lumayan, kok mau sama bawahan? Macam-macam lah pikiran orang. Tetapi, akhirnya Rudi dan Bu Ayu menikah.

Walau sudah janda, pesta pernikahan mereka cukup meriah. Rupanya banyak juga teman-teman Bu Ayu yang memujinya karena bisa dapatkan brondong. “Bagi tipsnya,” katanya. Rudi mendengarnya. “Seger nih malam pertama,” kata yang lainnya.

Tidak pernah terbayangkan sebelumnya oleh Rudi ia akan sekamar dengan Bu Ayu seperti ini. Keduanya saling pandang. Wajah Rudi semakin mendekati wajah Bu Ayu. Dipegangnya dagu Bu Ayu. Beliau tak kuasa membuka mata. Ia pasrah. Rudi merebahkan tubuh Bu Ayu di ranjang. Sudah lama Bu Ayu tidak merasakan nikmat seperti ini.

Pagi ini cerah sekali. Bu Ayu menyisir rambutnya yang masih basah di depan cermin. Ia belum lengkap berpakaian. Tak disangka, Rudi bisa memiliki tubuh indah ini seutuhnya. Dihampirinya Bu Ayu, diciumnya pipi kanannya. Bu Ayu tersenyum, “Masih ingin lagi?” katanya.

“Memang kamu tidak capek?” bisik Rudi.

Bu Ayu berhenti menyisir rambutnya. Ia memandang Rudi yang duduk berjongkok di sampingnya. Rudi menatap mata istrinya. “Kamu cantik,” katanya. Bu Ayu diam tanpa kata. Rudi mendekatkan wajahnya, dikecupnya bibir istrinya. Bu Ayu berdiri, Rudi ikut berdiri. Didorongnya tubuh istrinya ke ranjang. Bu Ayu nurut saja, pasrah. Betapa indahnya cinta setelah sekian lama menjanda.

***

Rudi naik jabatan. Sekarang dia menjadi staf kepala bagian IT. Wah, naik gaji. Tentu saja banyak isu miring. Mentang-mentang jadi suami HRD, gampang sekali naik jabatan. Tetapi, begitulah hidup. Tidak semua di dunia ini berjalan seperti kereta di atas rel. Bram mencoba mendekati Mbak Devi, tapi sulitnya minta ampun. Apalagi Pak manajer juga suka padanya, padahal sudah punya istri. Rupanya meskipun Bram semangat bekerja, bahkan sering lembur, rupanya itu tidak membuatnya bisa naik jabatan.

Di lembaga ini diadakan kajian keislaman rutin setiap dua minggu sekali. Semua karyawan wajib ikut. Ada yang ikut karena terpaksa, ada juga yang senang. Bu Ayu senang mengikuti kajian tersebut. Rupanya ustadznya sering mengkampanyekan sunnah poligami, “Ini sunnah Rasulullah,” bagitu kata beliau. Tentu saja para bapak-bapak senang. Rupanya Bu Ayu tertarik dengan info pahala yang didapat oleh wanita yang rela dipoligami. Mungkin karena usianya yang sudah tua juga. Atau mungkin kewalahan juga melayani suami yang masih muda.

Mbak Devi yang masih muda pun akhirnya sepakat dengan ide poligami. Dia bilang sendiri pada Bu Ayu. Bahkan, kalau ada laki-laki baik hendak menjadikannya istri kedua, dia siap. Nah, karena itulah Bu Ayu mencoba menawarkan pada suaminya untuk menikahi Mbak Devi. Tentu saja Rudi senang. Bosan sama yang tua, bisa dapat yang muda.

“Asal dia mau dan ikhlas, tidak apa-apa,” kata Rudi.

Sebenarnya Rudi tidak sependapat dengan ustadz yang mengatakan poligami itu sunnah. Sebab, setahu dia, Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam saat bersama Sayyidah Khadijah ra. tidak berpoligami. Rasulullah juga tidak rela putrinya, Sayyidah Fatimah ra. dipoligami. Tetapi, poligami halal. Apalagi Mbak Devi cantik. Boleh saja.

Untuk yang kedua kalinya Rudi menyebar undangan pernikahan, kali ini dengan Mbak Devi. Bram kaget, ia cemburu. Hebohlah suasana, tapi mereka sudah ngaji, poligami sunnah katanya. Akhirnya Rudi dan Mbak Devi sah menikah. Malam pertama mereka di rumah Mbak Devi. Rupanya sakit juga hati Bu Ayu, tapi ia mencoba belajar ikhlas. Biasanya setiap malam dibelai suami, sekarang harus berbagi.

Mbak Devi merasa agak menyesal, kenapa mesti dengan suami orang yang sudah tidak perjaka. Rasanya ia ingin mengulur waktu dulu. “Harus malam ini kah, Mas?” tanyanya pada Rudi saat sudah berdua di kamar.

Rudi paham. Wanita jika sedang seperti ini, tidak baik diajak berargumen, tapi harus dengan tindakan. Rudi sudah sangat paham bagian-bagian tubuh wanita. Dia membalas dengan senyum saja. “Iya, tidur bersama saja,” katanya. Mbak Devi pun tidur di sampingnya. Keduanya berhadapan.

Rudi membelai rambut istrinya. Ia pegangi pipinya. Diciumnya kening istrinya, lalu pipinya, telinganya. Mbak Devi diam saja. Rudi merapatkan badannya. Paham banget dia titik rangsang wanita.

Sepertinya Rudi sudah membuat istrinya terangsang. Dia kecup pipinya dekat telinganya, tidak dilepasnya hingga lama, lalu turun ke lehernya, didorongnya tubuh istrinya. Mbak Devi jadi tidak berdaya dan merangkul suaminya dengan erat. Tak terasa tubuh keduanya pun menyatu. Seakan Mbak Devi setengah sadar, hanyut dalam kenikmatan cinta.

Tamat