Di Tanah Rantau (tamat)

Saiful dan Hadi merantau ke Yogyakarta. Mereka bekerja di warung makan di Sleman. Bayarannya tidak banyak, masih di bawah UMR, tapi dapat makan gratis tiga kali. Syukurlah, jadi meminimalisir pengeluaran. “Kapan bisa naik gaji ya, Pol?” dia biasa memanggil Sipol. Saat di tempat kos keduanya sering musyawarah mencari cara agar bisa mendapatkan banyak uang.


“Sabar aja dulu. Ini kan baru batu loncatan.”


“Kayaknya enak cepet kawin.”


“Baru dapat kerja sudah mikir kawin,” kata Saiful. “Nanti kalau sudah sukses, baru cari cewek yang berkelas.”


“Sih, kayak apa cewek berkelas, Pol?”


“Dikasih tahu... Ngeyel.”


“Semua perempuan sama.”


“Sama janda, mau kamu?”


“Perawan itu kan malam pertama aja.”


***


“Nasi goreng tiga mas.”


Hadi tercengang melihat kecantikan cewek yang pesan nasi goreng tersebut. Kalau tiap hari melihat cewek cantik kayak begini, sepertinya ia tidak tahan. Saiful mulai berlatih masak. Dia banyak belajar sama Mas Adam. Dia senang ngajari masak. Sepertinya Saiful serius ingin menguasai bisnis kuliner. Hadi mengantar nasi goreng ke meja cewek yang pesan tadi. Geleng-geleng kepala dia melihat kecantikannya.


“Mas!”


Seorang wanita di sampingnya memanggil Hadi. Ia menolehnya. Hmm... Umurnya mungkin sudah 40an, tapi cantiknya bikin dia lupa daratan.


“Es jeruk satu.”


Cukup ramai warungnya. Pelanggannya banyak dari mahasiswa, karyawan dan wisatawan. Hadi kurang fokus pada pekerjaannya, dia gampang tergoda melihat wanita-wanita cantik. Rasanya, bagi dia, semua perempuan terlihat cantik. Perempuan tua pun dia bilang cantik.


“Aku sudah bisa goreng nasi,” kata Saiful saat di kosan.


Hadi tidak begitu tertarik. “Belajar sama Mas Adam?”


“Iya. Besok mau belajar bikin sambal kentang. Siapa tahu bisa buka warung sendiri.”


***


Siang ini saat istirahat Hadi ngobrol sama Mbak Tini, ia salah satu juru masak di warung tersebut. Rupanya Hadi tertarik juga sama dia. Padahal badannya gemuk. Bagi Hadi, yang penting perempuan. Salah Mbak Tini juga sih cerita kalu dia sudah janda. “Tidak ingin nikah lagi, Mbak?” tanya Hadi.


“Ingin sih kalau ada,” jawabnya.


“Sama saya mau, Mbak?” tanyanya dengan santainya.


Mbak Tini kaget. Mungkin karena badan dia kurus, sedang dirinya gemuk. Dia tidak menanggapi. Pikirnya, pasti becanda.


“Saya sudah ingin nikah.”


“Nyari calon.”


“Sampeyan aja dah.”


“Kalau tidak serius...”


“Serius. Kalau sampeyan mau, ayo.”


Mbak Tini kaget. “Beneran?”


“Kalau mbak mau menerima saya apa adanya. Saya orang miskin.”


“Aku sudah janda loh.”


“Tidak apa-apa. Minta nomor WA sampeyan?”


Tini pun memberikan nomornya.


***


“Aku dapat info lowongan,” kata Saiful. “Gajinya lebih besar.”


“Kerja apa?”


“Pabrik.”


“Tidak jadi buka warung sendiri?”


“Proses. Itu nanti kalau sudah mahir masak. Sekarang cari peluang dulu.”


“Aku mau nikah aja,” kata Hadi.


“Udah dapat calon?”


“Udah.”


“Orang mana?”


“Mbak Tini.”


Saiful kaget. “Hah...?! Yang gemuk itu?!” dia tertawa. Jarang sekali dia tertawa. “Serius kamu? Besar banget loh badannya...!!”


“Yang penting kan bisa anu.”


Menurut Hadi, itu tidak masalah. Bagi dia, Mbak Tini terlihat menarik. Dia sudah tidak sabar mau segera nikah. Memang sih, kalau dipikir, sepertinya ia tidak kuat bonceng pake motor, badannya besar sekali. Tapi, yang ia butuhkan kan malamnya, biar tidak galau terus.


“Tidak kamu pikir lagi?” kata Saiful.


“Tidak usah banyak mikir.”


Malam sebelum tidur Hadi menelefon Mbak Tini menanyakan kepastiannya. Katanya Mbak Tini mau bilang sama ibunya dulu, bapaknya sudah tidak ada. Ibunya pun juga sudah tua. Sebenarnya dia sudah bebas menentukan hidup sendiri. Paginya Mbak Tini kirim pesan WA, katanya siap. Sepulang kerja Hadi langsung ke rumah Mbak Tini. Lumayan jauh, di daerah Berbah.


Mbak Tini minta tolong Pak Leknya untuk menyambut Hadi. Pak Lek-nya kaget juga karena badan Hadi kurus. Tapi, namanya jodoh, lanjut saja. Rupanya, keluarga Mbak Tini tidak mau ribet-ribet. Apalagi Mbak Tini sudah janda. Ya, sudah, nikahnya sirri aja dulu. Untuk surat-surat, nanti bisa diurus. Sore itu juga akad nikah dilangsungkan secara sirri.


Waaahhh... Kebetulan, pikir Hadi. Sayangnya, ia lupa belum minum suplemen. Sekitar jam 10 keduanya masuk kamar. Mbak Tini sudah janda, sudah tidak malu-malu. Hadi masih agak bingung harus bagaimana dulu. Sepertinya Mbak Tini paham kalau Hadi masih belum profesional. Ia pun mengajari dulu. Karena badannya gemuk, agak susah juga pikir Hadi. Tetapi, pikir Hadi, nikmati sajalah. Sudah tidak tahan, tak perlu banyak pikir. Ditatapnya wajah Mbak Tini. Kalau sudah berdua, cantiknya, mempesona.


Akhirnya, yang sejak lama ia hayalkan, jadi nyata juga. Nikmat dan halal, berpahala juga. Sekarang tinggal mikir berikutnya. Tapi ia selalu positif. Pikirnya, pasti ada jalan.


***

Usai cuti, Hadi dan Mbak Tini berangkat kerja bersama, rupanya Hadi kuat juga bonceng Mbak Tini. Wah, kali ini jadi lebih fokus kerja. Tidak seperti sebelum nikah, sebelum nikah, rasanya semua wanita terlihat cantik. Sekarang, pikiran Hadi lebih tenang. Sudah tidak kagetan lagi melihat wanita cantik. Sudah tahu rasanya. Bahkan ia mulai mikir untuk berlatih masak. Satu bisnis yang sudah ia mulai: bisnis tanaman hias di pekarangan milik Mbak Tini. Pikirannya sudah tidak melulu mikir perempuan.


“Mas, jangan tiap malam ya,” kata Mbak Tini saat baru pulang kerja.


Hadi tersenyum. “Kenapa?”


“Kasih jeda.”


Sepertinya Hadi keberatan dengan permintaan Mbak Tini. “Berat,” jawab Hadi. Mbak Tini bingung. Ia juga butuh belaian lelaki, tapi kalau tiap malam, capek juga. Soalnya siangnya harus kerja. Mau berhenti kerja, penghasilan masih sedikit, bisnis tanaman hiasnya belum berkembang. Ia mencoba untuk bisa, tapi semakin hari, semakin terasa capeknya.


“Sepertinya mas butuh dua istri,” kata Mbak Tini.


Hadi kaget. “Gajiku cuma segini,” kata Hadi. Senang sebenarnya punya istri dua, bisa ganti selera.


“Ya, cari orang desa, yang sudah janda.”


Boleh juga pikir Hadi. “Siapa?” tanyanya.


“Kok nanya aku?”


Hadi tertawa. “Mak Sari tah?”


“Hah?! Memang dia masih kuat?”


Mak Sari, janda berumur 56 tahun, berprofesi sebagai tukang pijat. Sudah sangat tua sebenarnya untuk dijadikan istri. Selama ini dia hidup sendiri. Katanya punya anak satu tapi sudah lama tidak ada kabar. Hadi mencoba menemui beliau dan menyampaikan hajatnya.


“Hahahahaa...,” Mak Sari tertawa. “Ada-ada saja kamu. Saya sudah tua. Sudah tidak mikir mau bersuami lagi,” kata Mak Sari.


“Biar ada yang ngurus, Mak.”


Sepertinya benar juga yang dikatakan Hadi. Ia kan tambah tua. Sepertinya ia mulai mikir-mikir. “Mau kamu, tidur sama orang tua kayak saya?” tanyanya.


“Tidak apa-apa, Mak. Yang penting masih bisa.”


Keduanya pun menikah. Malam pertama Mak Sari menolak, ia agak takut. Saiful paham, dia biarkan saja, yang penting satu ranjang. Dia tahu tekniknya. Disentuhnya lengan Mak Sari. Dia diam saja. Sentuhan demi sentuhan dilakukan oleh Hadi. Rupanya sentuhannya tepat sasaran. Mak Sari pun mau melaksanakan tugasnya sebagai istri. Hadi pun segera beraksi.


***


“Aku mau pindah kerja,” kata Saiful sama Hadi.


“Kemana?”


“Pabrik meuble. Lumayan gajinya. Ada bonus lembur juga.”


“Bagus. Semoga sukses.”


Hari ini adalah hari terakhir Saiful kerja di warung makan ini. Ia sudah diterima kerja di pabrik meuble. Ia pun berpamitan pada semua rekan kerjanya. Ia yakin sekali, ia akan sukses mendapatkan banyak uang.


***


Wah, rupanya kerja di pabrik cukup bising. Saiful kaget, hampir-hampir ia tidak tahan. Tetapi, ia meniru rekan kerjanya, telinganya disumbat pake sobekan kerta dilipat-lipat. Lumayan, jadi lebih tenang.


Ada yang spesial di tempat kerjanya yang baru ini. Saiful jatuh hati pada salah seorang HRD. Cantik sekali dia. Tadi diperkenalkan, katanya masih jomblo. Namanya Fivi. Wah, jadi target nih. Tapi, jabatannya lebih tinggi dari Saiful, tentu ia tidak akan mau padanya, pikirnya begitu.


“Orang mana, Mas?” tanya Dini, rekan kerja Saiful.


“Jawa Timur. Mbaknya?”


“Saya asli sini.”


Cantik juga dia, tapi masih kalah cantik sama Mbak Fivi. Saiful mau cari cara agar bisa naik jabatan, biar bisa dapatkan Mbak Fivi. Dia ingin yang spesial, bukan wanita biasa-biasa.


***


Sejak suaminya menikah lagi, Mbak Tini merasa lebih nyaman kerja, tidak kecapean lagi. Agak cemburu sebenarnya, tapi mau gimana lagi, dari pada tidak bisa kerja maksimal. Sepertinya Hadi terlalu perkasa. Hadi tampak semakin semangat juga. Ia mulai mikir untuk tambah usaha lagi selain tanaman hias.


Istri kedua Hadi punya pekarangan yang lumayan luas. Hadi tertarik untuk memanfaatkannya. Ia coba berunding untuk ternak kambing di situ. Rupanya Mak Sari setuju. Hadi juga menyampaikan hal tersebut pada Mbak Tini. “Urunan aja beli kambingnya,” kata Mbak Tini. “Ntar bagi hasil.” Ide bagus.


Akhirnya mereka bertiga urunan untuk bangun kandang dan beli kambing. Lumayan, dapat delapan ekor kambing perah. Karena mereka pada sibuk, mereka pun bayar orang untuk cari rumput. Rupanya, punya istri dua, jalan rezekinya tambah lebar.


***


Hari ini Mbak Tini izin tidak masuk kerja. Ia agak pusing. Hadi berangkat kerja sendiri. Sepulang kerja Hadi membawanya periksa. Ternyata, kata doker, ia hamil. Senang sekali mereka mendengarnya. Setiap hari Mbak Tini muntah-muntah dan pusing. Wah, tidak bisa kerja kalau kayak gini.


Mengingat ternak kambing dan bisnis tanaman hiasnya sudah mulai berkembang, Hadi mencoba memberanikan diri untuk buka warung sendiri. “Itu loh, tanahnya Pak Rahman tidak terpakai, itu kan dekat jalan raya,” kata Mbak Tini. “Sewa aja, buka warung di sana.”


Deal. Hadi pun buka warung di sana, warungnya terbuat dari triplek. Tanahnya juga masih sewa.


***


Hari minggu Saiful tidak sengaja mampir di warung Hadi. Kaget dia, “Loh, Mbak Tini, Hadi?” katanya.


“Ey...!! Sipol. Bagaimana kabar?”


“Baik. Tidak kerja di sana lagi?”


“Tidak. Ini sudah hamil. Capek kan kalau kerja di sana.”


“Waah... udah mau jadi ayah. Ini tanah Mbak Tini?” tanyanya sambil makan goreng pisang.


“Sewa. Sudah nikah, Pol?”


“Belum.”


“Sudah ada calon?” tanya Mbak Tini.


“Ada sih, atasan saya, cantik sekali.”


“Mau sama bawahannya?”


“Nah, itu, Mbak. Sabar aja dulu lah.”


“Cepetan. Ini udah dua istrinya,” kata Mbak Tini.


“Maksudnya?” Saiful kaget.


“Punya istri dua dia.”


“Mbak Tini?”


“Iya, satunya tukang pijat.”


“Mbak Tini tidak cemburu?”


“Cemburu sih iya, tapi kwalahan aku.”


“Kwalahan...? hahahaa...,”


Saiful kok sudah agak cair orangnya, tidak terlalu serius. Padahal dulu ia jarang tertawa.


Tamat