Kawin Sedekah (1)

“Sahabat Jabir bin Abdillah AL Anshari itu menikahi janda, niatnya mencari pendidik buat adik-adiknya yang ditinggal syahid ayahnya,” kata Salim pada Rudy. “Nu’man bin Tsabit, ayah Abu Hanifah, mau menikahi gadis yang dikabarkan cacat padanya, niatnya untuk mencari kehalalan atas buah yang terlanjur ia makan”

Rudy mendengarkan nasehat pernikahan Salim saat duduk berdua di teras masjid. Akhir-akhir ini Rudy mulai mau ikut Salim menghadiri kajian keislaman. Dari dulu dia tidak pernah mau. Sebenarnya bukan sadar pentingnya belajar agama, tapi topiknya banyak bahas tema cinta, pernikahan, bahkan poligami. Rudy tertarik.

“Dikisahkan seorang pelacur minta dinikahi pada seorang ahli ibadah karena ingin sekali bertaubat, katanya darinya kemudian lahir orang-orang shalih.”

Maraknya budaya pacaran memang menjadi musuh utama Salim. Dia ingin membasminya. Makanya dia gencar memberi motivasi menikah. “Menikahlah, Akhi,” katanya.

Rudy sudah punya usaha, sudah bisa mencukupi kebutuhan sendiri, kuliah sudah biaya sendiri. Tapi, belum ada dipikirannya untuk hidup berumah tangga. Tertarik pada wanita sih, iya, tapi untuk menikah, ia merasa tidak bebas. Pacaran memang lebih nikmat, menurutnya, bisa menikmati cinta dan bebas. Tetapi, untuk zina, dia sangat takut. Dulu pernah ada ustadz bilang, katanya, zina sekali, dosanya sama seperti orang berbuat dosa setiap hari selama 70 tahun.

Selama ini ia sangat menghindari yang namanya zina, tapi mencium, memeluk perempuan ia lakukan, pikirnya dosanya tidak sebesar dosa zina. Wah, padahal, kata ustadz yang ceramah kapan hari, sengaja melakukan perbuatan dosa meskipun dosa kecil, itu sama dengan sengaja menentang Allah.

Rudy jadi takut.

***

Salah satu nasehat pernikahan yang ia ingat adalah menikah dengan niat sedekah. Katanya, menikahnya bukan karena cinta, tapi ingin membahagiakan seorang wanita yang butuh kasih sayang. Wah, boleh juga, pikir Rudy. Berarti menikahi wanita kesepian yang hidup susah, pikirnya begitu. Bersedekah, sekaligus dapat kenikmatan. Pemahaman Rudy begitu. Tapi… kalau sampai hamil dan punya anak? Kan jadi repot. Rudy bingung. Sepertinya, lebih baik menikahi wanita tua yang sudah tidak bisa hamil, pikirnya, atau wanita mandul.

Ia coba konsultasi pada Salim via WA. Ia sampaikan rencananya pada Salim.

“Astaghfirullah,” begitu jawaban Salim.

“Salah?”

“Niat ibadah itu ikhlas untuk mendapat ridho Allah, bukan menuruti nafsu.”

“Lah, ini kan sedekah, bahagiakan dia.”

“Tapi kamu tidak mau tanggung jawab. Istri itu punya hak untuk diperhatikan dan dididik, bukan dinikmati saja.”

“OK. Berarti aku menikahi wanita yang sudah tua, tapi masih tampak seksi ya, nah, aku kasih perhatian, aku ajak ngaji.”

Salim geleng-geleng kepala. Memang teman yang satu ini, bukan mencari ridho Allah yang utama, tapi nafsunya yang diutamakan. Tapi, daripada berzina sih, mending begitu.

***

Rudy mencari wanita tua yang masih tampak seksi dan hidup susah. Dia jadi manusia super aneh. Selama ini hidupnya sudah terbiasa dengan belaian wanita meskipun hanya peluk cium. Dia bingung kalau tidak bersentuhan dengan wanita. Tapi, repot juga nyarinya, bisa jadi ia akan dimusuhi anak dan cucu-cucunya kalau menikahi wanita tua hanya untuk senang-senang.

Tapi dia nekad saja ke pasar, ia mengamati mak-mak tua penjual sayur. Lama mengamati, “Beli sayur, Nak?” tanya seorang penjual. Rudy menggelengkan kepala. Sepertinya sulit mendeteksi. Ia coba ke depan pasar. Ada seorang wanita menjajakan kue. Menurut Rudy, usianya belum 60 tahun. Rudy coba dekati beliau. “Kue, Nak,” beliau menawarinya.

Rudy pura-pura melihat kuenya. Banyak macamnya. “Tinggal dimana, Bu?” tanyanya.

“Di Nalangan.”

Rudy tahu, sekitar 5 km dari pasar. Rudy ambil satu dan mencicipinya. “Punya anak berapa, Bu?” tanya Rudy.

“Tiga, meninggal satu.”

Wah, ini bahaya. Ribet urusannya. Rudy bayar kuenya dan pergi. Repot juga ternyata. Kalau pacar kan, bisa diajak ke hotel, tinggal nikmatin. Setelah itu, bebas. Masak mau ngajak wanita tua ke hotel? Aneh pikirnya.

***

Rudy menerima undangan pernikahan dari teman sekelasnya, Aldo, via WA. Tertulis Aldo Fauzul Adhim dan Silfia Ratih. Rudy kaget. Silfia kan teman sekelasnya juga. Cantik sih dia. Perasaan selama ini mereka tidak ada hubungan spesial. “Silfia teman sekelas, Bro?” ia balas tanya.

“Iya.”

“Wah, sejak kapan menjalin hubungan?”

“Tidak ada hubungan spesial. Cuma, menurutku dia baik. Aku ajakin nikah, dia mau.”

Nekad bener, pikir Rudy. Udah siap hidup terikat dia.

Bersambung ke bagian 2