Lucid Dream •• Part 03 ••


.
.
.

Matahari sudah berganti bulan. Hawa dingin mulai membuatku ingin segera bergelung dengan selimut, tetapi tugas sekolah belum selesai. Padahal jam di dinding menunjukkan pukul sembilan malam, sebentar lagi jadwalku untuk tidur.



“Re, ayahmu enggak jadi pulang? “ tanyaku melirik Rea yang fokus dengan ponsel di tangannya.



“Hmm.” Rea menjawab hanya dengan anggukan kecil dan gumaman. “Ada pekerjaan dadakan. Jadi enggak bisa jemput di rumah kamu,” katanya sambil meletakkan kertas di meja belajarku.



“Udah selesai?” tanyaku.



Rea menggelengkan kepala sebagai jawaban. Aku menaikkan alis bingung memperhatikan gerakannya. Kalau belum selesai kenapa Rea beranjak dari duduknya, dan berjalan menuju tempat tidur, malahan bermain ponsel.



Melihat reaksiku, Rea tersenyum memperlihatkan deretan giginya. “Tugas sekolah dikumpulkan hari Jumat besok, Lu. Jadi, beristirahatlah,” kata Rea mengangkat ponselnya.



Aku buka ponsel di samping kertas tugas, mengecek ruang pesan dari group kelas. Di sana ada pemberitahuan bahwa tugas dikumpulkan hari berikutnya karena guru mata pelajaran tidak masuk.



Beralih membaca pesan berikutnya. Jam kosong besok diganti mengerjakan tugas dari buku paket. Pantas saja tugas ini dikumpulkan besok, tugas saat jam kosong dua kali lipat dari tugas sekarang, bisa dipastikan tugas itu juga ikut dikumpulkan hari Jumat.



Aku tersenyum tipis, menutup ponsel. Berjalan menuju tempat tidur, ikut bergelung selimut bersama Rea. Baru ingin protes karena Rea masih asyik bermain ponsel, Rea berbicara tanpa beralih pandangan dari ponselnya. 



“Tidurlah, Lu. Aku belum ngantuk, lagian juga ini waktunya kamu tidur. Jangan ganggu, ya,” ucapnya sewot.



Aku memutar bola mata malas, menarik selimut sampai dada. Lebih baik tidur daripada menunggu Rea yang tidak tahu jam berapa tidurnya nanti.



Aku memejamkan mata perlahan, berkonsentrasi tenang agar lebih mudah tertidur. Kesadaranku lama-lama terenggut, tertidur tenang.



Tidurku terganggu karena haus. Aku membuka mata perlahan, menguceknya pelan. Rea sudah tidur, kulihat jam dinding sudah menunjukkan pukul dua belas. Padahal baru saja tertidur, kenapa waktu begitu cepat. 



Badan kuangkat perlahan untuk posisi duduk, mengambil air minum di atas nakas. Tenggorokan terasa lega setelah air mengalir di sana. Aku menguap menahan kantuk. Kembali membaringkan badan, bersiap tidur lagi.
Aku berkonsentrasi untuk tidur, membayangkan kenanganku bersama Mama dan Papa hingga kegelapan membawa menuju alam mimpi.



Mataku kembali terbuka perlahan, tetapi tubuhku tidak bisa digerakkan, menoleh ke arah Rea, berusaha membangunkannya, tetapi tidak ada suara yang keluar dari mulut.



Aku berusaha tetap tenang, membayangkan Mama menemani seperti dulu saat mimpi buruk menyerangku. Tetapi tubuhku tetap tidak bisa digerakkan walau aku berusaha sekuat tenaga.



“Hei, Sayang. Tenang, ya.”



Suara yang begitu kukenali membuat terdiam sejenak. Mengedarkan pandangan mencari sosok asal suara.



“Mama,” ucapku berteriak mencari sosok Mama. 







.
.
.
.

Salam ?
Ofah.. ♥️?


.
.
.
--> Mohon krisar, ya, teman-teman. ♥️??