Lucid Dream •• Part 02 ••
Aku dan Rea berjalan memasuki pekarangan rumah dengan taman mini yang cantik. Sesekali Rea berceloteh, melayangkan canda. 



“Sore, Non,” sapa Mang Dadang dari arah taman.


“Sore, Mang,” jawabku ramah, “oh, iya, Mang. Nanti tolong petik beberapa bunga di kebun belakang, ya. Soalnya di kamar sudah layu.” Aku teringat vas bunga yang ada di kamar. 


“Iya, Non. Beres,” jawab Mang Dadang mengacungkan jempolnya.


“Makasih, Mang. Luci sama Rea masuk dulu, Mang.” Mang Dadang mengangguk, kembali menyambung aktivitas menyiram tanaman. 




Kutarik tangan Rea untuk segera masuk ke dalam rumah, menaiki tangga menuju kamar. Aku ingin segera mandi, rasanya badan begitu lengket, apalagi cuaca cukup panas.



Belum sampai kakiku melangkah memasuki kamar mandi, Rea menarik lenganku. “Lu. Aku ke dapur, ya, ambil makanan. Sambil nunggu kamu mandi.” Aku menganggukkan kepala setuju.


“Bilang sama Bibi masaknya jangan terlalu pedas, ya, Re,” teriakku karena Rea sudah keluar dari kamar.




Rea berteriak menjawabku, suaranya menggema.

Tidak membutuhkan waktu lama untuk mandi, segera keluar karena perutku sudah berbunyi. Aku mencari sosok Rea, mengedarkan pandangan mengamati kamar. Rea belum kembali. Sepertinya dia menunggu Bik Sari selesai memasak, tidak jadi mengambil camilan. 



Selesai mengeringkan rambut, aku meletakkan handuk di gantungan, melangkahkan kaki keluar kamar. Kaki ini berjalan pelan menuruni tangga menuju dapur.



Di dapur, terlihat Bik Sari sedang memasak, Rea berdiri antusias di sampingnya. Aku menarik kursi meja makan, duduk tenang menunggu makanan.




Selalu seperti ini, jika Rea di sini pasti akan merecoki Bik Sari memasak, katanya dia penasaran dengan dunia dapur karena di rumah ayahnya tidak mengizinkan memegang alat dapur.


“Bik, masih lama enggak?” tanyaku.


Bik Sari menghentikan kegiatan memasak, wajah berumurnya tersenyum tipis ke arahku.



“Sebentar lagi, Non.” Aku mengangguk, tersenyum tanda mengerti.



Rea masih asyik memperhatikan sayur yang ada di wajan, tidak memedulikan obrolan orang lain di sekitarnya. Berteriak kencang mengatakan kalau sayurnya sepertinya sudah matang, dan ternyata benar.



Bik Sari mematikan kompor, mengambil piring untuk wadah masakannya, kemudian berjalan meletakkan di meja makan.



“Bibi mau ke mana?” tanyaku begitu Bik Sari hendak pergi keluar dapur.



“Mau ke belakang, Non,” jawabnya.



“Makan dulu, Bik, bareng aku dan Rea,” ajakku.



“Iya, Bik, sini. Kita enggak habis makan tumis kangkung sebanyak ini.” Rea ikut menimpali ucapanku.



Bik Sari tersenyum tipis menolak ajakanku dan Rea, “nanti saja, Non. Bibi mau ke kebun belakang metik bunga pesanan Non ke Mang Dadang tadi. Habiskan saja sayurnya, Non. Di wajan juga masih ada untuk Bibi dan Mang Dadang.” Aku mengangguk, mengerti. Setelah itu Bik Sari pamit pergi ke kebun.



Aku dan Rea melanjutkan kegiatan menyantap makanan. Mengambil banyak tumis sayur kesukaan kita.



“Lu, nanti coba kita cari info tentang mimpi. Siapa tahu ada informasi yang bisa kita dapat,” ucap Rea dengan mulut yang penuh makanan.



“Jorok, Re. Makan yang benar,” ucapku pelan, “cari informasi di mana? Jangan bilang ke paranormal atau apalah itu.” Sewotku. 



Rea melotot tidak terima, menelan makanan di mulutnya susah payah. “Ih, Luci. Aku memang suka yang berbau horor misteri gitu, tapi aku enggak percaya paranormal atau yang lainnya, ya,” jawabnya sebal.




Aku tertawa kecil, ‘kan siapa tahu Rea akan mengusulkan seperti itu. Dia selalu mengaitkan hal apa pun dengan hal mistis yang disukainya itu.



Aku melanjutkan makan, tidak melanjutkan percakapan yang mungkin bisa berujung perdebatan seru.



▪▪▪

Salam ♥️?
Ofah... ?

.
.
.
-Mohon krisar, ya, teman-teman.-